
Sebenarnya Aqilah mana rela kalau suaminya itu masuk ke jeruji besi, tapi ucapan itu keluar tanpa berpikir lagi.
Wira menggelengkan kepalanya pelan, ada apa dengan ucapanya pagi ini, ia seolah-olah merasa sangat peduli dengan istrinya yang sangat ia benci.
Terutama pagi ini kenapa Wira yang mejadi banyak bicara tidak seperti biasanya, biasanya ia tidak suka kalau istrinya itu cerewet.
Wira langsung melajukan mobilnya untuk mengantar istrinya ke kantor MD Anderson Grup.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara, Wira hanya fokus menyetir sambil seskali melihat jam tanganya.
Di jam segitu seharusnya Wira sampai di kantor, tapi sekarang ia belum sampai karena meladeni perdebatan panjang dari istrinya.
Aqilah tidak suka situasi seperti ini, ia memutuskan untuk tidur, apa lagi semalam tidur ia tidak nyaman saat bersama Aldo, untuk pertama kalinya ia tidur bersama lelaki selain sang Daddy, tapi lama kelamaan ia juga terlelap, dan lebih nyamanya lagi saat bangun tidur Aldo tidak bergeser kemana-mana tetap duduk seperti awal sebelum tidur Sekitar 10 menit akhirnya Aqilah tertidur juga.
Wira yang mendengar suara nafas berbeda ia melihat ke arah samping, ternyata istrinya itu sudah tertidur pulas.
"Apa yang kamu lakukan semalam? Sepertinya wajahmu sangat capek dan tidak ada senyum ceriah di wajahmu lagi. Kamu juga tidak memelukku seperti biasanya." batin Wira
Biasanya Wira paling tidak suka mendapat pelukan dari istrinya, tapi kali ini ia bahkan bertanya-tanya kenapa istrinya tidak memeluknya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit mereka sampai di parkiran MD Anderson Grup.
Tangan kanan Wira akan menyentuh pipi istrinya untuk membangunkan sang istri dengan perasaan bingung, baru saja ia mengangkat tangannya, istrinya sudah bangun lebih dulu.
"Al sekarang jam berapa?"
Aqilah bertanya sambil mengusap-usap matanya dan belum sepenuhnya sadar karena yang ia ingat ia sedang ada di rumah sakit.
Sedangkan Wira melebarkan matanya saat istrinya memanggil nama Al, itu artinya benar kalau istrinya memiliki hubungan dengan asisten pribadinya.
Merasa tidak ada jawaban Aqilah menengok ke arah kanan, tapi yang ia temukan bukan Aldo di sampingnya namun suaminya yang sedang menatap ia dengan tatapan tajam.
"Kenapa otakku kalau bangun tidur menjadi bodoh?" batin Aqilah
"Jadi benar kalau kamu memiliki hubungan bersama Aldo? Lalu dengan Danu?"
"Bukan'kah kamu bilang aku wanita murahan? Iya yang kamu ucapkan memang benar aku wanita murahan. Aku hanya butuh kepuasan, sedangkan Danu terlalu jauh jadi aku bermain di belakang Danu bersama Aldo asisten pribadimu. Apa kamu puas mendengar kejujuranku?"
Sekali lagi Wira tidak bisa berkata-kata dengan ucapan dan pertanyaan sang istri.
Tadi Wira di tanya tentang perceraian ia diam dan sekarang pun sama, ia tidak bisa berkata-kata.
Aqilah yang melihat suaminya tidak berniat menjawab pertanyaannya, ia langsung turun dari mobil, apa lagi ia yakin kalau Danu sudah menunggu di luar.
__ADS_1
Aqilah memang tidak pernah datang ke kantor MD Anderson Grup, alasanya karena Alexsa bekerja di sana, ia tidak mau kalau Alexsa mencari tau identitasnya.
Jadi Aqilah hanya menyuruh Sinta untuk mengambil laporan pengembangan MD Anderson Grup.
Saat Aqilah turun dari mobil Wira pun ikut turun dari mobil sambil membawa sal wool miliknya , ia mengekori istrinya ke arah Danu.
Danu mendadak bingung saat di belakang Aqilah ada suaminya.
"Apa Nona sudah jujur tentang identitasnya?" batin Danu
Aqilah yang menyadari suaminya mengekorinya, ia bingung sendiri
Bagai mana kalau Danu berpikir Aqilah sudah membuka identitasnya dan memanggilnya dengan panggilan Nona Veronica.
Sungguh membingungkan untuk Aqilah, ia langsung lari ke arah Danu lalu langsung meloncat ke arah pelukan Danu, tidak peduli para satpam di sana yang sudah mengetahui identitasnya dan terus menundukan kepalanya.
"Nona apa yang anda lakukan?"
"Ssttt lingkarkan tanganmu sekarang jangan banyak tanya atau saya pecat."
Mau tidak mau Danu melingkarkan tanganya pada tubuh Aqilah, walau pun jantungnya berdetak lebih cepat.
Danu memang mencintai Aqilah dari sebelum ia tau identitas Aqilah, saat Aqilah menolong dompetnya dari pencopet, dan ternyata Aqilah bersekolah di sekolahan yang sama saat SMA.
Namun setelah Danu lulus kuliah dan bekerja di MD Anderson Grup menggantikan Papanya ia baru tau kalu Aqilah adalah putri dari keluarga Anderson.
Kenyataan itu membuat Danu melangkah mundur, ia juga menjaga jarak dari Aqilah tidak seperti dulu lagi.
Walau pun Aqilah masih tetap sama seperti Aqilah yang Danu kenal, tapi tetap saja Danu merasa canggung pada Aqilah.
Wira yang melihat adegan itu mendadak langkahnya berhenti, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Pemandangan macam apa?" batin Wira
Selama menikah Wira belum pernah mendapat pelukan seperti itu dari istrinya, istrinya hanya memeluk ia dengan posisi berdiri.
Beberapa saat kemudian Wira sadar dari lamunanya, ia langsung melangkah lagi mendekati istrinya yang masih dalam gendongan Danu.
"Aku sangat merindukanmu Danu, aku tidak bisa tidur tanpa belaianmu."
"Hah?"
Danu memang bingung kemana arah pembicaraan Aqilah, kapan ia membelai Aqilah.
__ADS_1
"Ehhmm!"
Wira berdehem untuk menutupi kecanggungan, ia mendengar ucapan istrinya yang merindukan belaian dari Danu.
Aqilah langsung turun dari gendongan Danu, ia langsung membalikan tubuhnya ke arah Wira.
"Hhhmm Wira."
Aqilah pura-pura terkejut. Wira tidak berbicara lagi, ia langsung mengalungkan sal wool itu dengan di ikat untuk menutupi bagian dada sang istri, lalu ia melepaskan jas yang ia pakai.
Jas itu Wira ikat di pinggang sang istri agar paha istrinya tidak mengundang nafsu para lelaki.
"Wira apa yang kamu lakukan?"
Aqilah bingung dengan tingkah gila suaminya.
"Kamu boleh melakukan apa pun bersama Danu, tapi jangan buka lekuk tubuhmu di depan umum, itu bisa mengundang nafsu para lelaki, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu, nanti aku juga yang repot."
Aqilah tersenyum samar hingga siapa pun tidak menyadarinya, walau pun suaminya tidak peduli, tapi suaminya masih memberikan ia perhatian, membuat ia senang.
Ini lah cinta Aqilah sangat sederhana, di perhatikan sedikit oleh suaminya saja ia merasa senang.
"Jam berapa kamu pulang? Aku akan menjemputmu."
"Aku akan pulang bersama Danu. Kamu tidak perlu repot-repot menjemputku."
"Baik kalau begitu aku pergi ke kantor dulu."
"Iya."
Wira langsung melangkah pergi dari sana sambil sesekali melirik ke arah belakang.
Aqilah langsung menarik tangan Danu masuk ke dalam kantor itu.
Wira yang melihat istrinya memegang tangan Danu, ia mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
"Selama ini aku selalu menjaga keperjakaanku hanya untuk istriku suatu saat nanti, tapi ternyata istriku sudah sering bermain dengan banyaknya lelaki." batin Wira
Wira sejenak melupakan kekasihnya yang ingin segera ia nikahi, kalau dulu ia selalu berpikir keras bagai mana caranya menceraikan sang istri
Di saat bukti Wira di depan mata untuk mengajukan perselingkuhan sang istri, tapi otaknya tidak bisa berpikir jernih seperti itu.
Wira merasa kalau dirinya ada yang aneh saat melihat kemesraan istrinya dengan lelaki lain.
__ADS_1
Wira langsung masuk ke dalam mobil lalu langsung melajikan mobilnya untuk pergi ke kantor.