Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 61 Tawa Aqilah


__ADS_3

Pagi ini Aqilah tertawa terbahak-bahak saat melihat komentar netizen yang mengomentari video tentang Alexsa.


Bahkan tubuh Aqilah sampai berguling-guling di atas ranjang membelit tubuhnya sendiri dengan selimut, karena hari ini ia memang tidak masak, di rumah hanya ada Danu saja, sedangkan ke dua orang tua Danu dan adiknya pergi untuk melihat adiknya yang sakit, lalu bi Surti libur dua hari, karena memang setiap bulan bi Surti di beri libur oleh Lukman.


"Oh Aqilah sepertinya kamu gila, sejak kapan kamu melihat orang susah hatimu jadi bahagia?!"


Aqilah berbicara sendiri lalu langsung tertawa lagi terpingkal-pingkal, ia yakin kalau Alexsa sibuk mencari orang untuk menghapus video itu.


Memang sengaja akun Sinta sudah memakai kode pengaman yang tidak bisa di bobol atau di belokir dari akses internet oleh Kenny.


Danu yang baru saja membuka pintu kamar Aqilah, ia mengerutkan keningnya saat melihat Aqilah tertawa sambil menggulung-gulung tubuhnya layaknya seperti anak kecil.


"Qi."


Danu memanggil Aqilah sambil berjalan masuk ke dalam kamar Aqilah. Aqilah langsung menoleh ke arah Danu sambil tersenyum lebar.


"Selamat pagi selingkuhanku!"


"Iya pagi Qi."


Danu duduk di samping ranjang Aqilah, ia menatap lekat mata Aqilah dengan posisi Aqilah yang sedang memiringkan tubuhnya masih di balut selimut.


"Kamu sedang apa Qi? Aku tidak pernah melihat kebiasaan aneh pagi-pagi begini."


"Sedang berjaga-jaga takut kamu melecehkan aku, bisa bahaya kalau nanti kamu melecehkan aku."


Danu langsung menyentil pelan hidung Aqilah yang asal bicara saja.


"Aku tidak akan melakukan itu Qi, kamu itu berpikir terlalu jauh!"


Danu menanggapi ucapan Aqilah dengan serius.


"Iya juga, kamu itu tidak suka wanita, bisa saja tidak tertarik dengan tubuhku."


Aqilah tetap menanggapi ucapan Danu dengan candaan. Sedangkan Danu menghela nafas berat, ia langsung menyondongkan tubuhnya di atas Aqilah dengan posisi masih duduk, tangan kanannya ia tahan di ranjang, lalu menatap wajah Aqilah dengan intentens.


Tatapan yang belum pernah Danu perlihatkan sebelumnya dan jarak wajah mereka sangat dekat hingga nafas hangatnya mengenai wajah Aqilah.


"Aku normal Qi, sekarang sedang tidak ada orang, bagai mana kalau aku membuktikan sesuatu kalau aku ini normal? Mau mulai ciuman dari mana?"


Danu bertanya sambil mengedipkan matanya layaknya lelaki hidung belang dan itu mempu membuat Aqilah mendungus kasar.


"Jangan macam-macam Danu!"


"Aku hanya ingin membuktikan kalau aku ini lelaki normal Qi."


Aqilah yang masih di balut selimut, ia menggulingkan tubuhnya ke arah kanan untuk menghindari Danu, kalau sampai tangan Danu tidak sigap menahanya, ia sudah jatuh kelantai.

__ADS_1


Danu menahan tubuh Aqilah sambil tersenyum lebar saat melihat tubuh Aqilah yang masih di balut selimut, memang terkesan lucu layaknya bayi. Danu mendekatkan lagi wajahnya pada wajah Aqilah.


"Aku bercanda Qi, kamu jangan serius begitu, aku mencintaimu dengan tulus, jadi tidak mungkin aku melakukan hal gila padamu, aku juga sama seperti lelaki lain memiliki nafsu, tapi perinsip hidupku hanya ingin melakukan dengan wanita yang sudah berjanji bersamaku di depan pendeta dan ke dua orang tua kita."


Aqilah bernafas lega saat mendengar jawaban dari Danu, tadi Danu memang terlihat menyeramkan di mata Aqilah, ia belum pernah melihat mata Danu semenyeramkan itu di penglihatannya.


"Tapi jika aku mencium kening kamu apa boleh?"


Walau pun Aqilah sudah menerima Danu, ia memang tidak berani walau pun sekedar mencium kening, pernah sekali saat itu ia mencium kepala Aqilah bukan kening Aqilah, saat Aqilah tidur dan mengigau memanggil Mommynya.


"Kalau hanya kening dan ke dua pipi boleh, tapi kalau bibir tidak boleh."


Danu yang mendengar jawaban dari Aqilah, ia langsung mencium kening Aqilah cukup lama, ciuman yang mengartikan kalau ia sangat mencintai Aqilah dengan tulus.


"Dan, ibu sama Ayah pulang kapan?"


"Belum tau, untuk sementara masih di periska dokter di rumah."


"Memangnya dia sakit apa?"


"Kurang tau."


Danu menjawab ucapan Aqilah sambil merapihkan rambut Aqilah yang berantakan.


"Tadi kenapa tertawa sendiri? Apa ada yang lucu?"


"Iya, Alexsa sekarang mendapatkan scandal dan aku suka."


"Sejak kapan kamu menyukai orang kesusahan? Biasanya kamu membantu orang bukan menyukai orang susah."


"Itu karena aku yang buat Alexasa susah, jadi aku senang."


"Iya sudah kamu mandi, nanti kita sarapan di rumah nasi padang, sekalian olah raga pagi."


"Baiklah."


Setelah Danu mengangkat wajahnya dari atasnya ia langsung menggulung-gulingkan tubuhnya agar terlepas dari selimut.


Danu yang melihat tingkah kanak-kanakan Aqilah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.


Semenjak Danu mengungkapkan perasaannya pada Aqilah, ia selalu bahagia saat melihat tingkah Aqilah, tidak ada persaan canggung dan menghindar lagi.


Danu langsung keluar dari kamar Aqilah, ia langsung duduk di kursi teras depan hingga ada bi Ranti yang masuk ke teras rumahnya.


"Dan."


"Eh iya bi sini masuk."

__ADS_1


Danu langsung berdiri dari duduknya.


"Tidak perlu, bibi cuma mau tanya, obat yang di kasih kamu belinya di mana? Bibi sudah menanyakan di apotik, tapi katanya tidak ada."


Danu mengerutkan keningnya saat bi Ranti menanyakan obat batuk, seharunya suaminya bi Ranti sudah sembuh karena sudah lebih dari 1 minggu.


"Apa Mamang belum sembuh bi?"


"Alhamdulilah sudah sembuh, dan sisanya bibi kasih ke kaka bibi, dia juga cocok dengan obat itu, tapi masih belum sembuh."


"Oh, obat itu hanya ada di rumah sakit Anderson Hospital bi, di Jakarta, rumah sakit itu hanya untuk orang-orang yang berobat kesana, dan tidak menerima pembeli untuk mengisi apotik atau rumah sakit lain."


"Waduh jauh juga iya, kalau saya minta belikan boleh tidak Dan?"


"Ngapain harus beli bi? Sudah saya bilang kalau bibi kurang obatnya kesini saja."


"Memangnya kamu punya setok banyak Dan? Kata kamu tadi hanya orang yang berobat ke sana saja?"


"Orang yang buat obatnya Aqilah bi, Aqilah memang banyak setok, kebetulan dia juga banyak bawa obat-obatan kemari, katanya takut ada orang yang membutuhkan, bentar saya ambilkan dulu bi."


Bi Ranti tidak mejawab ucapan dari Danu, mulutnya menganga tidak percaya kalau Aqilah yang membuat obat, apa lagi Aqilah masih terlihat muda, tapi sudah sehebat itu.


"Walah beruntung banget Danu punya bos sehebat dek Aqilah." batin bi Ranti


Tidak lama Danu keluar dengan membawa dua botol obat batuk bersama Aqilah yang sudah siap akan pergi ke rumah makan.


"Selamat pagi dek."


Bi Ranti menyapa Aqilah dengan sangat sopan.


"Iya pagi bi."


"Ini bi saya kasih dua botol, kalau ada yang membutuhkan bibi bisa kasih ke mereka."


Danu berbicara sambil menyerahkan dua botol obat batuk. Bi Ranti langsung mengambil obat yang di serahkan oleh Danu.


"Terima kasih Dan, teriman kasih dek."


"Iya sama-sama bi."


Danu dan Aqilah menjawab serempak.


"Rumah sepi banget Dan, memang orang tua kamu kemana?"


"Menginap adiknya sakit bi, sedangkan kita mungkin nanti siang ke sana, semalam Aqilah sudah tidur, jadi mau ikut juga tidak enak meninggalkan Aqilah seorang diri."


"Iya juga, iya sudah bibi permisi dulu."

__ADS_1


"Iya bi."


Mereka berdua menjawab serempak lagi.


__ADS_2