Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 21 Mobil sport


__ADS_3

Sudah 2 hari di mana kejadian Aqilah dan Mahesa bertemu, pagi ini Aqilah memutuskan untuk menjenguk bu Lili dan melihat pengembangan kesehatan bu Lili, ia merasa tidak tenang saat menanyakan saja pada Kenny.


Aqilah ingin melihat langsung keadaan bu Lili jadi pagi ini ia sudah siap dengan memakai kemeja putih dan celana sebawah lutut karena Mahesa melarang Aqilah untuk memakai celana seperti biasanya.


Aqilah hanya menurut saja ucapan Mahesa, bahkan setelah dari restoran 2 hari yang lalu mereka langsung pergi ke mall untuk mencari celana sebawah lutut dan dress sebawah lutut.


Sekarang di kamar Aqilah tidak ada dress pendek setengah paha lagi, tapi baju crop tetap ada karena ia memakai celana yang sampai menutupi pusarnya.


Sudah 2 hari juga suami Aqilah tidak pulang, pertemuan terakhirnya saat di restoran, tapi Aqilah sama sekali tidak menelpon atau sebatas kirim pesan.


Bukan Aqilah tidak peduli pada suaminya, tapi suaminya itu sudah dewasa dan tau yang terbaik untuk diri sendiri jadi ia biarkan saja mau kemana pun suaminya pergi.


Apa lagi suaminya itu tidak pernah membalas pesannya dan pesannya hanya di anggap angin lalu.


Aqilah langsung keluar dari kamarnya seperti biasa para pelayan itu banyak yang menatap kagum dan seolah-olah tidak pernah bosan melihat perubahan Aqilah yang sangat begitu cantik dan anggun.


Setelah di ruang tamu ia langsung menyapa Bagas dan Susan sedangkan pada ibu mertuanya dan Amel termasuk Resya yang ada di sana ia abaikan.


"Selamat pagi Kek. Selamat pagi Nek."


"Iya pagi nak."


Bagas menjawab sapaan dari Aqilah sambil tersenyum lebar.


"Pagi juga cucu menantu."


Susan juga tidak kalah tersenyum saat menjawab sapaan dari Aqilah.


"Nak sini duduk dulu."


Susan menyuruh Aqilah duduk di tengah-tengah ia dan suaminya.


"Iya Nek."


Setelah Aqilah duduk Susan mengambil kunci mobil di saku baju tidurnya.


"Ini untuk kamu nak."


Susan menyerahkan kunci mobil itu langsung pada tangan Aqilah.


"Waw kunci mobil sport."


Aqilah tersenyum lebar dan seolah-olah ia belum pernah melihat mobil seperti itu, walau pun koleksi mobilnya sampai 30 di rumahnya.


"Ini untuk Aqilah nek?"

__ADS_1


"Iya itu untuk Aqilah, Aqilah mau Nenek carikan supir atau tidak?"


"Tidak perlu Nek, terima kasih Nenek."


Aqilah langsung memeluk Susan, pelukan yang menggambarkan kalau ia mengucapkan terima kasih dengan tulus.


Walau pun Aqilah juga tidak tau Susan dan Bagas tulus menyayanginya atau takut karena mereka tau identitas ia sebenarnya, tapi yang jelas hatinya sangat senang.


Susan juga membalas pelukan dari Aqilah dengan pelukan hangat, andaikan Aqilah bukan putri dari keluarga Anderson, ia tetap akan menyayangi Aqilah, bagai mana pun ia berhutang nyawa pada Aqilah.


Aqilah adalah Gadis pintar dan cerdas, hampir semuanya Aqilah bisa, jadi sudah sepantasnya kalau Susan menyayanginya dengan kasih sayang yang lebih.


Terutama kasih sayang dengan bentuk perhatian karena Susan kalau Aqilah menginginkan kasih sayang yang tulus bukan karena kedudukannya.


Mereka berdua langsung melepaskan pelukannya.


"Ma, apa tidak berlebihan?"


Amel sangat tidak suka saat Mamanya memberikan mobil pada Aqilah.


"Maksudmu apa Mel? Sudah sepantasnya Aqilah mendapatkan pasilitas dari keluarga ini. Kamu jangan lupa kalau Aqilah adalah istri dari keponakanmu."


"Yang Mama bilang itu benar Nek. Nenek jangan berlebihan, pakai beliin Aqilah mobil segala lagi."


Wira yang dari tadi mendengar percakapan mereka di balik pintu, ia langsung masuk ke dalam rumah itu sambil brtepuk tangan.


Prok...! Prok...! Prok...!


"Aku pikir kamu tidak tertarik dengan uang keluarga ini, ternyata kamu hanya pura-pura tidak tertarik!"


Wira langsung melihat ke arah sang istri, bisa ia lihat kalau selama ia pergi istrinya sekarang jauh lebih cantik.


Bahkan tidak ada tanda-tanda kuatir selama ia tidak pulang, biasanya ia selalu menerima pesan saat memiliki pekerjaan lembur atau perjalanan bisnis, tapi kali ini istrinya begitu berbeda.


Namun ada yang masih sama, setelah beberapa hari ia tidak melihat senyuman ceriah dari bibir istrinya, tapi kali ini ia bisa melihat senyuman ceriah dari bibir istrinya.


"Kakek pikir kamu tidak akan pulang Wira. Kakek pikir kamu memilih pergi hanya untuk Alexsa, tapi ternyata kamu memang tidak bisa pergi tanpa kekayaan dari keluarga Atmaja!"


Bagas berbicara sambil tersenyum menyeringai pada cucunya.


"Pa, jangan begitu dong, Wira itu cucumu bagai man bisa Papa membela orang luar dari pada cucu Papa sendiri?"


Rika yang biasanya selalu cuek dan tidak peduli dengan masalah apa pun, kini ia sangat peduli, walau pun ia tidak membenci Aqilah, tapi ia tidak suka saat putranya di sudutkan oleh Papa mertuanya.


"Kamu jangan ikut campur Rika, Papa tidak menyuruh kamu untuk berbicara!"

__ADS_1


Rika hanya menghela nafas kasar saat mendengar suara tegas dari Papa mertuanya.


"Sudah kek, Aqilah mau pergi dulu."


"Mau kemana Aqilah?!"


Bukan pertanyaan dari Bagas melainkan pertanyaan dari suaminya yang menatap mata Aqilah dengan tatapan tajam.


"Ada urusan."


"Urusan di ranjang bersama Danu atau urusan di ranjang bersama Mahesa?!"


"Tutup mulutmu Wira! Kakek tidak pernah mengajari kamu untuk berbicara tidak sopan!"


Bagas berbicara sambil berdiri, ia emosi saat cucunya menuduh Aqilah yang tidak-tidak.


"Aku tidak peduli dengan penilaianmu, suatu saat kamu akan tau siapa yang lebih terhormat."


Aqilah menjawab ucapan dari suaminya sambil tersenyum lebar dan ada sedikit ejekan di bibir tipisnya.


"Apa maksudmu wanita murahan?!"


Wira menarik paksa tangan istrinya, ia tau alur pembicaraan istrinya yaitu menyudutkan Alexsa yang tidak tau apa-apa dan tidak ada kaitanya dengan masalah ia bersama istrinya, tapi Kakeknya langsung melepas paksa tangan Wira yang mencengkram tangan istrinya.


"Pergilah nak, jangan lupa hati-hati."


"Baik kek, terima kasih."


"Iya nak."


Aqilah langsung pergi dari rumah itu untuk pergi ke rumah sakit.


Setelah terdengar deru mobil Aqilah pergi, Bagas langsung melayangkan tamparan pada cucunya.


Plak...!


"Kakek tidak pernah menyuruh kamu kasar pada Aqilah! Sudah kakek bilang kalau Aqilah sangat berharga, dan kalau kamu tidak mau bersama Aqilah! Silahkan ceraikan Aqilah, tapi kamu angkat kaki dari rumah ini!"


"Apa yang Papa lihat dari wanita seperti Aqilah?! Jangan lupa kalau Wira itu cucu Papa, tapi Papa lebih mementingkan Aqilah dari pada Wira. Apa Papa belum cukup membuat Wira menderita? Wira sudah menuruti keinginan konyol Papa untuk menyuruh menikahi Aqilah, tapi Papa seakan-akan lupa dengan pengorbanan Wira!"


Rita berbicara sambil berdiri, matanya menatap tajam pada Papa mertuanya.


"Kalau saja Papa memiliki cucu lelaki lain sain Wira, Papa juga akan menyuruh cucu lain untuk menikahi Aqilah! Bukan cucu bodoh seperti Wira yang hanya di butakan dengan cinta Alexsa! Dari awal Papa tidak suka pada Alexsa, tapi Wira masih saja berhubungan dengan Alexsa, apa yang Wira lihat dari Alexsa? Bahkan Alexsa jauh terkesan lebih murahan dari Aqilah! Kalau Alexsa tidak murahan mungkin Alexsa sudah meminta putus!"


"Tapi bagi Wira hanya Aqilah yang terlihat murahan!"

__ADS_1


__ADS_2