
Aqilah dan Danu sampai di perkampungan tempat ibu dari Danu. Danu sudah menggendong tas milik Aqilah karena mobilnya tidak bisa masuk ke sana.
Rumah tempat tinggal ibu Danu sengaja tinggal di dekat perkebunan dan sesawahan yang hanya bisa di lalui dengan motor saja, bahkan di sana jalanan begitu becek membuat Aqilah berkali-kali menghela nafas.
Apa lagi Aqilah memakai sepatu hak tinggi, ia tidak tau kalau jalan ke arah ibu Danu itu masuk ke dalam gang. Tangan Aqilah menggenggam erat tangan Danu.
"Baru pulang Dan?"
Bapak-bapak yang mengenal Danu langsung menyapa Danu.
"Iya pak, mari pak."
"Iya."
Danu dan Aqilah melanjutkan jalannya hingga Aqilah hampir saja terjatuh saat jalannya sangat licin, tapi Danu dengan sigap menahan bahu Aqilah.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, aku lepas saja sepatuku."
Saat Aqilah akan berjongkok Danu langsung menahan tangan Aqilah.
"Tidak perlu, kamu aku gendong saja di depan, belakangku penuh dengan perlengkapan kamu."
"Kamu yakin? Aku berat loh."
"Tubuh kamu itu mungil Qi, mana ada berat, ayo."
Aqilah langsung mengalungkan ke dua tangannya di lehar Danu. Danu langsung mengangkat tubuh Aqilah lalu langsung melanjutkan lagi jalannya.
Menurut Danu berat badan Aqilah memang tidak berasa berat, Aqilah memiliki tubuh yang mungil.
Setelah sekitar 5 menit Danu menggendong Aqilah akhirnya sampai di rumah ibunya, ia langsung menurunkan Aqilah.
Di sana sudah berdiri ibu Danu, Ayah tiri Danu dan adik tiri Danu yang bernama Diana.
"Apa kabar Ayah, ibu."
Danu langsung menyalami ke dua orang tuanya dan adik tirinya.
"Alhamdulilah kita semua baik nak."
Lukman selaku Ayah tiri dari Danu menjawab pertanyaan Danu.
"Oh iya bu, Ayah, ini Nona Vero."
Aqilah juga menyalami mereka bertiga secara bergantian.
"Ayo masuk Nona."
"Panggil Qi saja bu."
"Baiklah, ayo masuk."
__ADS_1
Aqilah mengangguk pelan. Semuanya langsung masuk ke dalam rumah itu.
Menurut Aqilah dari luar rumah itu terlihat sederhana, tapi saat sudah di dalam Aqilah sangat tidak percaya dengan ruangan rumah itu yang sangat mewah.
"Ayo duduk Qi."
"Iya bu."
"Mau minum apa kak Danu dan kak Qi?"
Diana langsung bertanya pada mereka berdua saat mereka berdua sudah duduk di sofa.
"Kaka teh hangat saja, kalau Qilah jus alpukat, atau jus buah naga."
"Tidak usah, aku samakan saja dengan Danu."
"Baik kalau begitu."
Diana langsung pergi ke dapur.
"Nah begini Qi kedaan rumah dan jalan di kampung ibu, semoga kamu betah menginap di sini."
"Iya bu terima kasih."
Danu bisa melihat wajah lelah dari Aqilah, apa lagi perjalanan dari jakarta ke kampung ibunya sampai 5 jam dan 3 jam Aqilah menyetir mobilnya.
"Qi, kamu mau di urut? Tetangga sebelah itu menerima pijat dan urut."
"Tidak perlu Dan, aku baik-baik saja."
"Apa mengantuk? Kalau mengantuk kamu mandi dulu."
"Entar."
Danu langsung mengelus kepala Aqilah hingga Diana datang membawa teh dan beberapa cemilan.
"Silahkan di minum kak."
Setelah mengatakan itu Diana langsung duduk sambil tersenyum lebar saat melihat kaka tirinya perhatian pada seorang wanita.
Walau pun Diana tau Aqilah adalah bos dari kaka tirinya, tapi ia yakin kalau kaka tirinya memiliki perasaan terhadap Aqilah.
"Qi, minum dulu."
Aqilah mengangguk pelan, ia langsung membenarkan duduknya.
Danu langsung mengambil tehnya lalu ia langsung meniup perlahan-lahan setelah itu langsung di berikan ke Aqilah.
"Ini minum."
"Terima kasih."
"Iya sama-sama."
__ADS_1
Aqilah langsung meminum teh itu hingga tandas, lalu langsung menyadarkan kembali di bahu Danu.
Matanya sudah sangat mengantuk dan tubuhnya sangat lelah.
Apa lagi Aqilah sudah lama tidak berjalan jauh semenjak ia menikah membuat ia sangat lelah.
Sekitar 15 menit Aqilah bersandar di tubuh Danu hingga ia tertidur pulas. Danu yang menyadari nafas Aqilah menjadi nafas beraturan ia langsung menunduk untuk melihat wajah Aqilah.
Danu langsung tersenyum saat melihat Aqilah sudah tertidur, tangan kananya langsung meminum teh hingga tandas, lalu langsung mengangkat tubuh Aqilah untuk di baringkan di atas ranjang.
Danu membaringkan Aqilah di atas ranjang, ia langsung menyelimuti tubuh Aqilah, baru juga akan melangkah tangannya di tarik oleh Aqilah hingga Danu hampir saja menindih tubuh Aqila kalau tangan kirinya tidak sigap menahannya.
"Mommy jangan pergi, Aku rindu Mommy."
Danu menghela nafas berat, ternyata Aqilah masih sama saat Aqilah tidur tanpa obat tidur ia akan meracau tentang Mommynya.
Danu yakin kalau Aqilah sebenarnya belum bisa menerima keadaan tentang Mommynya walau pun sudah 18 tahun lamanya.
"Kenapa kamu harus mengalami hal seperti ini Qi, pasti berat untuk kamu, terlebih harusnya suami tempat untuk kamu bersandar, tapi nyatanya tempat neraka untuk kamu." batin Danu
Sekitar 10 menit Danu menahan tubuhnya di atas Aqilah, matanya terus menatap wajah Aqilah.
Danu tersenyum lebar saat mengingat kejadian tadi, saat ia menggendong tubuh Aqilah.
"Aku tidak tau apa alasan tuan Albet, walau pun aku hanya di manfaatkan Ayahmu, aku tidak masalah dan tidak akan rugi Qi, aku sadar siapa aku dan kamu, seperti langit dan bumi. Bahkan tanpa tuan Albet meminta untuk menjagamu juga aku akan menjagamu karena cintaku berbeda dengan cintamu yang sangat egois."
Setelah mengatakan itu Danu langsung berdiri, ia langsung mematikan lampu biasa dan di ganti dengan lampu tidur lalu langsung kembali lagi di tempat semula.
Ranti langsung bertanya pada putrnya setelah putranya duduk lagi di sofa.
"Nak, kamu memiliki hubungan apa dengan Nonamu?"
"Hanya sebatas sahabat bu, kita memang kenal dari masa SMA."
"Yakin kamu tidak memiliki perasaan padanya? Memiliki perasaan boleh saja nak, tapi jangan sama orang di atas kita, kamu tidak akan bisa mendapatkannya, carilah cinta yang sepadan dengan kondisi kamu. Ibu tidak ingin kamu memiliki nasib seperti ibu."
Danu menghela nafas berat, memang perceraian ke dua orang tuanya karena campur tangan dari orang tua Papa yang tidak menyetujui bersama ibunya hingga mereka memutuskan berpisah.
Sedangkan Papanya di jodohkan setelah menjadi duda, sedangkan ibunya menikah lagi atas dasar cinta sama cinta dengan Lukman.
Lelaki yang menyayangi Danu dan ibunya dengan sepenuh hati.
"Danu memang cinta bu sama Aqilah, tapi Danu sadar kalau Danu hanya kepercayaan dari MD Anderson Grup. Danu sadar kalau Danu dan Aqilah berbeda, Danu hanya cinta tanpa berniat untuk memilikinya, bagi Danu cinta tidak harus memiliki, cukup melihat Aqilah bahagia saja Danu sangat bahagia."
Rianti langsung tersenyum lebar saat mendengar jawaban dari putranya yang menyikapi perasaannya dengan bijak.
"Andai saja kalau kak Qi itu mau sama kaka, aku punya kaka baru."
"Jangan terlalu berhayal."
"Habis kaka di suruh Diana bersama salah satu teman Diana tidak mau, tapi sekarang Diana tau kalau selera kak Danu itu yang bening-bening. Oh iya kak, kak Qi itu usianya berapa tahun?"
"24 tahun."
__ADS_1
"Wow seimbang iya sama kaka hanya berbeda 2 tahun, aku pikir kaka Qi itu SMA kelas dua, wajahnya masih imut, seperti usia 17 tahunan."
Diana pikir usia Aqilah 17 tahun, wajahnya masih terlihat imut seperti Gadis 17 tahunan.