Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 76 Mimpi buruk


__ADS_3

Kali ini Aqilah tidak bisa menutupi luka hati yang sangat dalam di depan suaminya, biasanya ia akan terlihat tegar dan tersenyum ceriah, senyuman itu hilang hanya tinggal air mata yang terus mengalir deras di pipinya.


Tubuh Aqilah gemetar tatapan matanya kosong, ingatannya terus memutar ingatan masa lalu, bayang-bayang yang terlihat jelas mau pun samar memutar di ingatanya.


Ponsel perkara membuat Aqilah tidak lagi bisa menutupi luka hati yang sangat dalam, biasanya senyuman palsu itu selalu terukir di bibir tipisnya.


"Maafkan aku Aqilah."


Wira langsung memeluk erat istrinya saat tubuh istrinya gemetar dan tatapan matanya kosong, ia tau kalau istrinya mungkin mengingat masa kecilnya.


Aqilah sama sekali tidak menjawab permintaan maaf dari suaminya, sekedar mendengar saja tidak, ke dua tangannya menggenggam ponsel yang ia tumpukan di dada, seolah-olah ia seperti sedang memeluk sesaorang.


"Tolong jangan seperti ini Aqilah, aku mohon."


Air mata Wira jatuh begitu saja saat melihat wanita yang di cintainya tidak berdaya, lalu ia langsung mengangkat tubuh istrinya untuk ia pindahkan ke atas ranjang karena lantai itu mulai terasa dingin.


Wira mendudukan istrinya di atas ranjang sambil menghela napas berat, ia mengecup kening istrinya sekilas, lalu mengusap air mata istrinya yang terus saja mengalir deras.


"Jangan terus menangis Aqilah."


Masih sama istrinya tidak menjawab ucapan dari Wira sama sekali, bahkan sekedar berdehem saja tidak. Wira menghela napas berat sambil mengusap wajahnya sendiri dengan sangat kasar, ia tidak tau kalau hati istrinya nyatanya masih sama saat bersangkutan dengan Mommynya.


Saat Kecil Wira sering sekali mendengar istrinya menceritakan tentang Mommy dari istrinya yang mengatakan kalau Mommynya wanita luar biasa.


Wira mengusap kepala istrinya dengan sayang, dari tadi sore istri masih terus saja menangis hingga malam hari, perasaan menyesal dan bingung itu menghantui pikiran Wira.


"Sudah dong sayang, jangan menangis terus, aku perbaiki iya ponselnya?"


Istrinya masih sama tidak ada jawaban membuat Wira menghela napas berat.

__ADS_1


"Kenapa kamu jahat sama aku?"


Setelah dari tadi sore diam dan hanya menangis kini Aqilah mengeluarkan pertanyaan juga untuk suaminya. Wira menghela napasa lega saat mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Maafkan aku sayang, aku tadi sore sangat cemburu."


"Memangnya kamu punya hak apa cemburu padaku? Ingat kamu yang ingin berpisah denganku, lalu apa salah kalau aku memiliki kekasih? Aku sudah mengabulkan permintaanmu yang ingin segera bercerai. Wira, berhenti bersikap kanak-kanakan, aku sudah lelah dengan sikapmu, dan aku kecewa karena kamu merusak ponselku."


Setelah dari sore diam sambil menangis, akhirnya Aqilah bisa menangkan diri dan bisa berbicara banyak lagi pada Wira.


"Aku mohon berhenti egois Wira, kita sudah dewasa, tentu kita tau kalau pernikahan kita ini tidak bisa di lanjutkan. Kamu pernah berselingkuh bersama Alexsa, walau pun hubungan kalian lebih dulu, tapi aku ini istrimu, sekarang aku yang selingkuh bersama Danu, rumah tangga macam apa yang ingin kamu pertahankan? Jika kita sudah sama-sama melakukan kesalahan?"


"Aku tetap tidak ingin berpisah denganmu Aqilah."


Aqilah menghela napas kasar lalu ia langsung membaringkan tubuhnya sambil membelakangi suaminya, ke dua tangannya masih memegang ponsel.


"Jika kejadian menyakitkan sore ini nyata aku ingin tertidur untuk selamanya, jika kejadian ini hanya mimpi aku ingin segera bangun dari hal yang menyakitkan dan membuat aku tidak berdaya."


Wira langsung menarik selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya sambil menghela nafas berat saat mendengar ucapan dari istrinya.


"Tidurlah sayang, semoga mimpi indah."


Setelah mengatakan itu Wira mencium kening istrinya lalu langsung berjalan ke arah jendela, untuk menutup jendela kamarnya.


Wira hanya berdiri di depan jendela setelah menutup jendela, ia bingung dengan pikiranya, ia tidak bisa melepaskan istrinya, tapi hatinya sangat terluka saat melihat air mata istrinya terus saja mengalir.


"Aqilah, aku janji akan menjadi lelaki yang baik untuk kamu, aku janji akan berubah untuk kamu, tolong beri aku waktu untuk membuktikan kalau aku akan bersungguh-sungguh berubah." batin Wira


Hati Wira bukan sakit karena istrinya menangis tentang masalah ponsel saja, tapi hati ia juga sakit saat istrinya masih tetap kekeh ingin bercerai agar bisa bersama Danu.

__ADS_1


Wira tidak mengerti kenapa cinta istrinya mudah hilang untuknya, bahkan dulu istrinya rela menerima kekerasan hanya untuk bersamanya, tapi setelah ia mencintai istrinya, istrinya kekeh ingin berpisah dengannya.


Wira terus saja berdiri hingga sekitar 30 menit, ia mendengar isak tangis istrinya membuat ia menolah ke arah istrinya sambil menghela napas berat.


Wira langsung berjalan ke arah ranjang, ia duduk sambil melihat wajah istrinya, air mata istrinya masih terus mengalir, hingga suara racauan tidak jelas keluar dari mulut istrinya. ini Wira tau, istri yang selalu terlihat tegar dan tersenyum ceriah itu ternyata menyimpan banyak luka di hatinya.


Selama hampir 1 tahun Wira tidak tau apa-apa tentang istrinya, selama hampir 1 tahun ia hanya tau kalau istrinya itu wanita aneh karena tidak pernah merasakan sakit dan menangis, tapi nyatanya istrinya juga memiliki luka hati, hanya saja ia tidak pernah menyadari.


Wira tidak pernah menyadari kalau istrinya ternyata sama seperti wanita lainnya yang memiliki luka hati, hanya saja ia tidak menyangka kalau istrinya cukup pintar untuk menyembunyikan segalanya.


Wira langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang istrinya, ia memeluk istrinya dari belakang sambil menggenggam tangan istrinya. Bisa Wira rasakan tangan istrinya sangat dingin, tapi tangan kananya masih terus memegang ponsel, ia tau kalau istrinya itu sudah tidur.


Wira bisa tau dari hembusan napas istrinya yang terdengar di telinga kalau istrinya sudah tidur, walau pun isak tangis istrinya masih terdengar.


"Maafkan aku yang membuat semuanya menjadi kacau Aqilah, dari kamu mengejar-ngejar aku, dari aku yang terus menyiksa kamu, terakhir dari aku yang egois tidak ingin berpisah denganmu, sekali lagi aku minta maaf." batin Wira


Namun suara racauan tidak jelas yang memanggil nama Bundanya, Wira mendengar suara istrinya yang memanggil nama Danu.


"Kenapa kamu menghianatiku Danu? Kenapa kamu mau menikah denganya? Kamu jahat Danu! Kamu jahat!"


Teriakan itu hingga membuat Aqilah terbangun dan langsung duduk, bahkan ponselnya sudah lepas dari genggamanya karena ia sambil memegangi dadanya dengan suara napas naik turun. Wira juga ikut duduk sambil melepaskan tangan ia yang masih melingkar di perut istrinya.


"Tidak mungkin! Pasti itu hanya sebuah mimpi."


Aqilah berbicara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, walau pun ia tidak mungkin kalau Danu meninggalkan ia hanya untuk wanita lain, tapi ia yakin kalau di mimpi itu sangat nyata, ia yakin kalau Danu akan di jodohkan dengan sesaorang.


Aqilah memang memiliki mimpi yang selalu menjadi kenyataan, jadi ia sudah tau kalau mimpi itu bukan sekedar sebuah mimpi, ia yakin kalau Papa kandung Danu menjodohkan Danu.


"Kenapa Aqilah?"

__ADS_1


Wira bertanya dengan raut wajah pura-pura bingung dan berpura-pura kalau ia tidak mendengar ucapan dari mulut istrinya yang memanggil nama Danu.


"Aku tidak kenapa-napa."


__ADS_2