
Setelah beres makan Aqilah membantu bi Surti mencuci piring karena ia memang tidak memiliki pekerjaan. Walau pun Danu melarang Aqilah, tapi Aqilah tetap membantu bi Surti.
Sedangkan Danu terus melihat gerak-gerik Aqilah di depan pintu dapur sambil tersenyum lebar.
Aqilah selsai mencuci piring ia langsung mendekati Danu yang berdiri di pintu dapur.
"Jangan terus melihatku, nanti kamu cinta, eh tapi mana ada seorang Danu cinta sama aku wanita aneh kata kamu juga."
Danu hanya menggelengkan kepalanya tanpa mau menanggapi ucapan Aqilah.
"Qi, kamu mau keluar tidak?"
"Kemana?"
"Pergi ke pasar malam."
"Mau dong, aku juga ingin tau seperti apa pasar malam."
"Iya sudah kamu ganti baju sana."
"Pakai baju tidur juga tidak apa-apa, baju tidurku yang ini terlihat sopan."
Aqilah memang memakai baju tidur pendek dan celanya sebawah lutut.
"Iya sudah."
"Aku ganti sendal dulu."
Aqilah langsung lari ke arah kamar yang di tempati olehnya. Sedangkan Danu menunggu Aqilah duduk di sofa bersama ke dua orang tuanya, Diana dan Lisa.
Lisa lagi-lagi berpikir kalau Aqilah mencari perhatian pada Danu, apa lagi setelah makan Aqilah langsung membantu bi Surti mencuci piring.
"Aqilah mana Dan?"
"Sedang mengganti sendal Ayah, Danu mau mengajak Aqilah ke pasar malam, agar tau susana kampung seperti apa."
"Iya, di kota juga Aqilah belum tentu pernah melihat pasar malam, bagai mana pun juga Aqilah putri orang kaya."
Danu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
"Ayo Dan."
Aqilah sudah siap dengan sendalnya dan mengoles lipstik warna natural di bibirnya yang terkesan sangat cantik.
"Tidak bawa apa pun Qi?"
"Bawa apa? Tas kecil dan ponsel? Menyusahkan, kalau aku mau jajan minta sama kamu saja, apa lagi aku juga tidak punya uang kes."
Aqilah berbicara sambil cengengesan membuat Danu menggelengkan kepalanya.
"Ayah, ibu, Danu pergi dulu."
"Iya nak."
Lukman hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, dari melihat adegan putra tirinya bersama Aqilah di atas ranjang, sampai sekarang senyumannya tidak luntur.
"Pakai motor apa jalan kaki Qi?"
"Jalan kaki sepertinya lebih enak, Diana Lisa kalian tidak ikut? Ayo ikut."
"Tidak kak Qi, aku besok akan ada ujian jadi aku harus tidur lebih awal."
Sebenarnya Diana selalu tidur malam, dan ia juga menyukai Aqilah yang mudah bergaul dengan siapa pun walau pun putri dari bos kaka tirinya, tapi ia membiarkan kaka tirinya berduaan dengan Aqilah.
"Oh iya sudah."
Lisa hanya menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia ingin ikut, ia tidak ingin Aqilah semakin mendekati Danu, tapi Diana tidak ikut, membuat ia juga tidak ikut.
Danu langsung menggenggam tangan Aqilah, lalu mereka langsung keluar dari rumah itu dengan berjalan pelan.
"Bagai mana susah tidak jalannya?"
"Tidak, kalau tadi sore aku pakai sepatu hak tinggi jadi susah, apa memang dekat dari sini?"
"Iya sangat dekat, hanya sekitar 5 menit jalan kaki."
"Dan pulang-pulang bawa calon istri."
__ADS_1
Salah satu ibu-ibu yang akan ke pasar malam itu menyapa Danu sambil tersenyum lebar. Danu langsung melirik ke arah ibu-ibu itu.
"Bukan bu, dia bos saya."
"Walah kiarin calon istri kamu Dan, cocok kalian berdua, tampan dan cantik."
"Ah ibu bisa saja, mari bu."
"Iya."
Danu langsung berpisah dengan ke dua ibu-ibu itu karena memang sudah sampai pasar malam.
"Kamu mau beli apa?"
"Sepertinya mau beli baju."
"Yakin kamu beli baju di sini? Di kampung ini juga banyak toko Qi, nanti aku ajak kamu beli baju."
"Tapi aku suka yang itu?"
Aqilah menujuk satu dress yang di gantung berwarna kuning.
"Iya sudah, pak baju yang itu ya."
Danu berbicara sambil menujuk dress yang di minta Aqilah.
"Iya dek."
Bapak tukang jual itu langsung membungkus dress yang di minta Aqilah.
"Ini dek, 120 ribu."
Danu mengambil pelastik yang di serahkan bapak tukang jual, lalu langsung memberikan uang pas pada bapak tukang jual itu.
"Terima kasih pak."
"Iya terima kasih kembali dek."
Danu langsung menggam tangan Aqilah lalu berjalan ke arah tempat lain.
"Jajan apa Qi?"
"Jagung bakar."
"Yakin kamu mau jajan jagung bakar?"
"Iya mau coba."
Danu mengangguk pelan, ia langsung membeli jagung bakar.
"Pak jagung bakar satu rasa original."
"Iya dek."
Aqilah yang menunggu jagung bakar, matanya melihat ke seluruh pasar malam.
"Itu istrinya dek? Cantik seperti orang kota, mirip seperti wanita yang videonya beredar beberapa hari lalu sama pengusaha muda, nama Mahesa Pradipata."
"Hanya mirip kali pak."
"Iya kali ya, eh adek itu kepercayaan dari Anderson Grup'kan? Pantas saja istrinya seperti orang kota."
"Iya pak."
Danu tidak ingin berbicara panjang lebar, apa lagi tentang Aqilah. Setelah matanya fokus melihat pasar malam, kini Aqilah melihat bapak penjual.
"Sehari biasanya dapat berapa pak?"
"Tergantung dek, kadang 250 ribu kadang cuma 150 ribu."
"Memang satunya berapa pak?"
"10 ribu dek."
Aqilah menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari bapak tukang jual.
"Ini dek sudah jadi."
__ADS_1
"Terima kasih pak, memangnya tidak rugi pak di jual murah?"
Aqilah bertanya sambil mengambil jagung yang di serahkan oleh bapak-bapak.
"Ini sudah harga pasaran dek, kalau bapak naikin harga jual seribu saja sudah tidak ada yang beli."
Aqilah mengangguk pelan, ia berpikir ternyata menjadi penjual di pasar malam itu sangat sulit.
"Dan, bayarin 200 ribu."
"Iya."
Danu mengambil uang 200 ribu.
"Ini pak bayar jagung bakar sisanya ambil saja."
"Ini 100 ribu saja masih banyak sisanya dek."
"Tidak apa-apa ambil saja."
"Terima kasih dek, semoga rezeki kalian di permudah dan semoga kalian segera mendapat momongan."
Aqilah membulatkan ke dua matanya, do'a macam apa, menikah saja belum sudah di do'akan segera dapat momongan.
Sedangkan Danu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ada-ada saja ucapan aneh dari penjual seperti tau saja ia belum punya anak.
"Terima kasih pak."
Pada akhirnya Aqilah dan Danu mengucapkan kata yang sama.
"Sama-sama dek."
Aqilah langsung memakan jagung bakarnya dengan di sisil menggunakan tangan kanannya.
"Jangan begitu Qi kapan habisnya kalau makan dua biji dua biji."
"Terus bagai mana?"
"Di gigit Aqilah."
Danu berbicara sambil menahan tawanya, sosok Aqilah yang sangat pintar dalam hal apa pun, tapi tidak paham dalam memakan jagung bakar.
Aqilah menggigit ujung bawahnya sambil tersenyum.
"Begini iya Dan?"
Danu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum lebar. Sedangkan bapak tukang jual jagung bakar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah Aqilah.
"Cantik-cantik makan begituan saja tidak paham." batin bapak penjual
"Kita kemana lagi?"
"Pengen ke rumah hantu."
"Jangan Qi, nanti kamu jantungan yang ada."
Tiba-tiba saja ada orang menepuk punggung Danu.
"Sudah pulang tidak bilang Dan!"
Danu langsung melihat ke arah mereka berdua, yaitu ke dua sahabat Danu.
"Iya baru pulang tadi sore."
"Oh, siapa dia?"
"Aqilah. Qi, kenalin ini Samuel dan itu Rapa."
Aqilah menganguk pelan sambil meyalami mereka berdua bergantian.
"Jadi kapan nikah Dan? Calonnya sudah ada."
"Sembarangan kamu kalau ngomong dia bosku."
"Eh kirain kekasih kamu Dan, aku juga mau kalau di suruh menjaga bos secantik Aqilah."
Samuel berbicara sambil tersenyum lebar.
__ADS_1