Cinta Untuk Syaqilah

Cinta Untuk Syaqilah
BAB. 36 Susan kecewa


__ADS_3

Aldo memasuki rumah tuannya dengan menghela nafas berat, walau pun ia lega karena tau keberadaan Aqilah, tapi kali ini ia harus berbobong lagi untuk yang ke dua kalinya.


Wira yang melihat Aldo ia buru-buru berjalan ke arah Aldo.


"Bagai mana dengan Aqilah?"


"Selamat sore tuan."


Aldo menyapa tuannya sambil membungkukan badan.


"Di sana hanya ada Kenan dan asisten pribadi pak Danu tuan. Pak Danu hari ini tidak masuk kerja, dan katanya tidak tau keberadaan pak Danu di mana, soalnya mereka hanya di suruh untuk mengurus MD Anderson Grup untuk sementara."


"Lacak nomer Danu sekarang, kemana si brengsek itu membawa istriku!"


"Baik tuan."


Aldo buru-buru berjalan ke arah kamarnya di ikuti tuannya dari belakang untuk melacak nomer Danu, tapi ia berharap kalau nomer Danu tidak aktif dan lokasi terakhir di Jakarta agar tuannya itu tidak bisa menemukan Aqilah.


Bukan Aldo membenci tuannya, tapi ia berharap kalau tuannya itu menyadari betapa berhaganya Aqilah di kehidupan tuannya, agar Wira tidak selalu semena-mena terhadap Aqilah.


Apa lagi menurut Aldo tuannya itu keterlaluan terus saja menyiksa Aqilah tanpa rasa iba.


Aldo langsung melacak nomer Danu hingga ia menemukan lokasi yang sama dengan Aqilah.


"Tuan, pak Danu di Club yang sama bersama nyonya terakhir kali."


"Telpon nomer Danu!"


"Baik tuan."


Aldo langsung menghubungi nomer Danu hingga nomer itu di angkat.


"Hallo pak Danu."


"Iya hallo, ini bukan pak Danu, ponsel pak Danu tertinggal di kamar ini semalam."

__ADS_1


"Apa semalam pak Danu satu kamar dengan seorang Gadis muda?"


Yang bertanya itu bukan Aldo, melainkan Wira untuk memastikan kalau istrinya juga ada di sana.


"Iya pak Danu semalam bersama seorang Gadis muda pemilik kamar ini."


"Kira-kira namanya siapa?"


"Kurang tau saya baru saja bekerja dua hari di sini, tapi Gadis itu pernah ada di video beberapa hari lalu bersama Tuan Mahesa."


Wira yakin kalau Gadis yang di maksud adalah istrinya.


"Lalu kira-kira kemana mereka berdua?"


"Saya kurang tau, mereka berdua pergi bersama memakai mobil sekitar jam 9 pagi."


"Baik kalau begitu terima kasih."


"Sama-sama tuan."


"Brengsek! Danu pasti memanfaatkan istriku yang sedang mabuk!"


Aldo mengerutkan keningnya sesaat, biasanya tuannya mengatakan Aqilah wanita murahan, tapi ada apa dengan hari ini, tuannya selalu menyalahkan Danu dari pada Aqilah. Tiba-tiba saja ponsel Wira bergetar.


Dret... Dret...


Wira langsung mengambil ponsel di saku celananya, saat melihat nama Alexsa di ponsel itu membuat ia mendungus kesal dan langsung mematikan ponselnya.


"Dasar pelacur murahan! Berani sekali dia terus saja menelponku! Wanita gila!"


"Iya pelacur murahan itu lah yang selalu tuan bela selama ini dari pada istri tuan yang sangat terhormat, dari tittel mau pun kedududukan dan yang terpenting istri tuan itu orang baik." batin Aldo


Aldo ingin sekali berbicara seperti itu pada tuannya, tapi sayang ia hanya bisa berbicara di dalam hati, ia tidak mau mendapat bogem mentah dari tuannya.


Aldo masih sayang wajah dan perutnya, tidak seperti Aqilah yang tidak menghargai nyawanya sendiri hanya untuk mendapatkan cinta dari tuannya.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Wira langsung keluar dari kamar Aldo dengan perasaan bingung dan menyesal, ia langsung mendekati neneknya yang sedang sibuk membaca majalah di samping kolam ikan.


"Nenek."


Susan langsung melihat ke arah cucunya sambil menganggukan kepalanya. Wira langsung duduk di samping neneknya.


"Nek, di mana tempat Aqilah tinggal? Nenek pasti tau, apa lagi nenek dan kakek yang menjodohkan Wira dengan Aqilah."


"Untuk apa kamu ingin tau di mana Aqilah tinggal?! Apa kamu ingin memukul Aqilah lagi?! Atau menjambak rambut Aqilah?! Apa masih kurang puas menyiksa Aqilah?! Kalau nenek jadi Aqilah sudah minta bercerai setelah kamu terus saja melakukan kekerasan!"


Susan berbicara dengan raut wajah kecewa pada cucunya, apa lagi hatinya sedang bingung di mana keberadaan Aqilah sekarang.


Suaminya memang sudah mengirim pesan tadi pagi, tapi Aqilah hanya membaca pesan itu tanpa mau membalas pesan dari suaminya.


"Tidak nek, Wira ingin minta maaf dan ingin memperbaiki kesalahan Wira. Wira ingin meminta kesempatan ke dua dari Aqilah."


"Untuk apa kamu meminta kesempatan ke dua Wira?! Untuk menyakiti hati dan pisik Aqilah lagi?! Kalau nenek bisa melarang keinginan Aqilah, nenek melarang Aqilah bersama kamu, tidak ada kesempatan ke dua bagi nenek jika lelaki itu berani berselingkuh dan melakukan kekerasan, tapi nenek tidak bisa melakukan itu karena nenek bukan siapa-siapa Aqilah."


Air mata Susan langsung mengalir deras, dari semalam hatinya sangat kecewa setelah mengetahui cucunya melakukan kekerasan terhadap Aqilah, untuk itu ia mengalihan pikirannya pada majalah agar tidak terus memikirkan Aqilah, tapi cucunya datang untuk mengingatkan lagi tentang Aqilah.


"Kamu bilang Aqilah wanita murahan? Kamu menuduh Aqilah memiliki hubungan bersama Aldo, kamu tau Wira? Aqilah pergi bersama Aldo karena Aqilah membantu mengoprasi ibu dari Aldo, bahkan Aqilah juga menjaga ibu dari Aldo sampai siuman. Coba kamu lihat, di mana sisi buruk Aqilah? Dulu juga kakekmu di tolong oleh Aqilah, lalu kamu juga di tolong oleh Aqilah. Aqilah tidak ada sisi buruknya, tapi kamu selalu menilai buruk tentang Aqilah."


Susan berbicara sambil mengusap air matanya, ia memang sudah tau tentang ibu dari Aldo karena saat itu Aqilah membawa mobil pemberian darinya yang memang sengaja untuk mencari tau bagai mana sifat asli Aqilah dengan meletakan pelacak di mobil Aqilah.


"Menurut nenek, kamu adalah orang yang paling beruntung karena bisa di cintai oleh Aqilah, tapi kamu bahkan tidak ada bersyukurnya sama sekali karena hatimu di tutup oleh cinta pada Alexsa, tapi apa yang Alexsa berikan pada kamu hanya kebohongan hingga 3 tahun lamanya?"


Wira menundukan kepalanya dengan air mata yang mengalir deras, ini untuk ke dua kalinya ia menangis karena masalah wanita yang sama, mau pun kemarin malam atau sekarang ia menangisi istrinya.


"Aqilah menutupi scandal tentang kamu bersama Alexsa setiap kali kamu terekam kamera di tempat umum agar namamu tidak jelek agar perusahanmu tetap berkembang, tapi apa balasan kamu pada Aqilah Wira? Tanpa Aqilah mungkin perusahaan kamu sudah bangkrut karena memiliki scandal seperti itu."


Wira menghela nafas berat, dadanya terasa sakit, ia tidak menyangka kalau istri yang ia sia-siakan selalu berdiri di belakangnya, memantau segala tentangnya hanya untuk mengharapkan balasan cinta, tapi apa yang ia berikan selama ini, hanya siksaan yang tiada henti.


"Kalau pun nenek tau di mana Aqilah tinggal, nenek tidak akan memberi tau, kamu tidak pantas mendapatkan Aqilah yang memiliki hati sangat baik. Setelah nenek gali lebih dalam lagi tentang Aqilah, Aqilah bukan wanita angkuh dan sombong, Aqilah hanya wanita baik dan keras kepala, memiliki tekad dan berani."


Wira masih menundukan kepalanya dengan mulut yang diam membisu mendengarkan ucapan panjang dari neneknya, ia bisa mendengar suara kecewa dari neneknya.

__ADS_1


Selama ini Wira belum pernah mendengar suara neneknya yang sangat begitu kecewa, tapi kali ini ia bisa mendengar suara kecewa karena masalah yang telah ia buat.


__ADS_2