
Setelah menghadiri pesta di sebuah acara pertunangan Tomi dan Maya Aqilah meminta Danu mengantarkannya di sebuah club.
Sudah lama Aqilah tidak datang di club, semenjak ia menikah dengan Wira, ia sudah lama tidak datang ke tampat ini, biasanya ia setiap malam minggu datang bersama ke dua sahabatnya.
Aqilah sudah meminum 5 gelas vokda dengan mata yang melihat ke arah orang berjoged, hatinya sangat sakit saat mengingat bagai mana bodohnya ia yang terus mencintai suaminya, tapi hingga kesabaranya habis, suaminya masih saja tidak membalas cintanya.
"Qi, kalau kamu memiliki masalah bilang sama aku, bukan minum vokda seperti ini."
Aqilah tidak menjawab ucapan dari Danu, ia masih terus menikmati vokda.
"Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pernikahanmu, sudah tau dari awal pernikahanmu itu sudah tidak sehat, dan tadi aku bisa melihat bekas tamparan di pipimu sebelum kamu menutupinya dengan make up. Qi, carilah lelaki yang juga mencintai kamu, bukan mencari lelaki yang hanya kamu cintai."
Danu menghela nafas berat, lagi-lagi hatinya merasa sakit saat melihat wanita yang di cintainya itu terluka.
Apa belum cukup hampir 1 tahun di perlakukan layaknya sampah, tapi Aqilah masih saja terus bertahan.
"Aku pikir aku akan mendapatkan cinta dari Wira dengan berjalannya waktu, tapi nyatanya perjuanganku hanya sia-sia."
Aqilah masih terus meminum vokda, semua itu tidak lepas dari pandangan Albet Daddy dari Aqilah yang kebetulan memiliki pertemuan dengan klien di tempat itu.
Albet akhirnya tau kalau pernikahan putrinya ternyata tidak baik-baik saja, apa lagi dengan gosip yang beredar tentang Mahesa dan putrinya, ia yakin kalau putrinya selama ini menderita.
Albet bisa melihat dari kejauhan tatap mata putrinya yang terlihat melelahkan.
Namun Albet juga tersenyum saat di samping putrinya adalah Danu, lelaki yang sudah Albet incar sebagai menantunya.
Setelah perjodohan dengan Mahesa batal, Albet memang menginginkan Danu untuk menjadi menantunya, tapi sayang putrinya harus mencintai Wiranata Atmaja, lelaki yang sama sekali tidak Albet sukai.
Bukan karena usia Wira lebih tua dari Danu, tapi karena Wira memang sudah memiliki kekasih yaitu Alexsa, dan Albet tau kalau Alexsa bukan wanita baik-baik dan bisa jadi Wira juga bukan lelaki baik-baik, itu lah penilaian dari Albet.
Terlebih Danu yang menyempurnakan seni bela diri Aqilah saat Danu belum mengetahui kalau Aqilah adalah putrinya, tentu saja Albet berpikir kalau Danu memang cocok bersama Aqilah.
Usia Albet sudah tidak lagi muda, entah kapan ia juga pasti akan meninggal, untuk itu Albet menginginkan menantu yang bisa menjaga putrinya kelak, setidaknya ia bisa meninggal tanpa rasa takut saat melihat putrinya di nikahi dengan orang yang tepat.
"Sudah dong Qi minumnya."
Danu langsung mengambil gelas milik Aqilah, ia tidak sadar kalau ada dua pasang mata yang terus menatap ke arahnya, kalau saja Danu tau di sana adalah Albet, ia akan menjaga jarak dari Aqilah, ia tidak mau mendapatkan masalah dari Albet.
"Jangan menggangguku Danu! Kalau tidak aku akan memecatmu!"
Aqilah merebut paksa gelas yang sedang di pegang Danu, walau pun ia sudah menghabiskan 17 gelas vokda, tapi vokda tidak membuat ia hilang kesadaran, bahkan hatinya merasa semakin kacau.
"Aku lebih baik di pecat Qi kalau harus melihat kamu mabuk-mabukan seperti ini, jujur membuat hatiku sakit saat melihat kamu seperti ini!"
__ADS_1
Aqilah hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia langsung meminum vokda lagi tanpa mempedulikan Danu.
Danu langsung mengambil tas milik Aqilah yang sedang di sampingnya, ia langsung membuka tas Aqilah untuk mencari obat tidur.
Biasanya di tas Aqilah memang banyak beberapa obat yang biasa sewaktu-waktu Aqilah perlukan, ia menciumi obat itu satu persatu karena semuanya berwarna putih dan bubuk, hingga Danu menemukan obat tidur.
Danu langsung menutup kembali tas Aqilah, ia langsung meminta 1 gelas pada bretender.
"Gelasnya satu."
"Baik tuan."
Bretender itu langsung memberikan satu gelas pada Danu.
Danu langsung mengambil gelas itu, ia langsung menuangkan bubuk obat ke dalam gelas, lalu mengambil botol vokda di depan Aqilah dan langsung menuangkannya, ia kocok dengan memutar-mutar gelas itu.
Danu dengan sigap mengambil paksa gelas di tangan Aqilah hingga gelas itu sengaja ia jatuhkan ke bawah dengan pura-pura tidak sengaja.
Crak...!
"Danu, kamu ternyata menyebalkan!"
"Maaf aku tidak sengaja, ini aku ganti gelas ini."
Tanpa pikir panjang Aqilah langsung mengambil gelas yang di serahkan Danu, lalu langsung meminumnya.
Biasanya Aqilah selalu waspada saat di beri minuman oleh siapa pun, tapi kali ini ia sama sekali tidak waspada karena Danu adalah orang yang paling ia percaya selain sang Daddy.
Sekitar 3 menit Aqilah merasa pusing hingga akhirnya ia langsung tertidur, Danu dengan sigap menyanggah kepala Aqilah yang hampir terhayung ke belakang karena mereka memang tidak duduk di sofa, melainkan duduk di depan bretender langsung.
Danu langsung merogoh dompetnya, lalu langsung mengambil uang ratusan ribu dengan jumblah 3 juta, ia letakan di meja bretender tanpa bertanya lagi.
Danu yakin uang itu cukup untuk membayar vokda yang Aqilah minum, lalu ia langsung mengambil tas Aqilah dan mengangkat tubuh Aqilah berjalan masuk ke dalam kamar milik Aqilah sendiri di sana setiap kali mabuk.
Danu langsung membuka kode kamar itu, lalu masuk ke dalam kamar, ia langsung meletakan tubuh Aqilah di atas ranjang.
Danu langsung menyelimuti tubuh Aqilah dan meletakan tas Aqilah di meja.
"Maaf Qi, aku tidak mau kamu sakit."
Setelah mengatakan itu Danu langsung keluar dari kamar, ia di kejutkan dengan Albet yang sudah berdiri di depan pintu termasuk asisten dari Albet.
"Selamat malam tuan Albet."
__ADS_1
Danu menyapa Albet sambil membungkukan badan.
"Iya, apa yang kamu lakukan dengan putri saya?"
"Saya hanya memberi Nona Vero obat tidur tuan, saya tidak ingin melihat Nona Vero mabuk. Saya tau saya lancang, tuan boleh melakukan apa saja pada tubuh saya."
"Tidak perlu dan terima kasih sudah menemani Veronica."
"Ini sudah tugas saya tuan, kalau begitu saya permisi tuan."
Danu berbicara sambil membungkukan badan.
"Tunggu sebentar, apa saya bisa berbicara denganmu?"
"Tentu tuan."
Danu langsung berjalan mengikuti kemana perginya Albet hingga berhenti di sebuah ruangan khusus milik Albet.
"Silahkan duduk dulu."
"Baik tuan."
"Saya boleh minta tolong sama kamu Danu?"
"Tentang apa tuan?"
"Bisa kamu membantu saya untuk membuat putri saya tidak mencintai Wira lagi?"
"Dengan cara apa tuan? Bahkan saya tidak paham dengan percintaan, selama ini saya belum pernah memiliki kekasih."
"Buat Veronica jatuh cinta denganmu, saya berani bayar berapa pun yang kamu minta, bahkan kalau kamu meminta MD Anderson Grup saya akan memberikannya. Asalkan saya bisa melihat Veronica bahagia."
Danu menghela nafas berat saat mendengar permintaan dari Albet.
"Cinta Nona Vero sangat besar pada tuan Wira, saya tidak bisa menjamin tuan."
"Setidaknya kamu mau berusaha."
"Baik tuan."
Walau tidak yakin, tapi Danu hanya mengiyakan permintaan dari Albet.
"Saya percayakan putri saya padamu."
__ADS_1
Albet berbicara sambil menepuk punggung Danu lalu langsung pergi dari sana di ikuti oleh asistennya.