
Pagi menjelang, Nando sangat enggan untuk berangkat ke kantor. Dia ingin menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah.
Tetapi dirinya sangat kesal, karena Nita pagi sekali sudah datang ke rumah untuk mengantar sarapan.
"Mas Nando, aku bawakan sarapan untukmu. Kok kamu belum siap-siap ke kantor, mas?"
"Aku sedang malas ke kantor, aku ingin istirahat di rumah saja. Rasa lelah dan capeku belum juga hilang."
"Oh ya sudah, istirahat saja di rumah. Aku juga bisa memijat, mas. Jika mas bersedia, aku siap."
"Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin tidur seharian, itu saja sudah cukup."
"Jadi, Mas Nando mengusirku?"
"Nggak juga, jika kamu mau di sini lama ya silahkan. Tapi aku akan tidur, jadi jangan punya perasaan ini dan itu."
Nando berkata sedikit ketus dan dingin tak seperti biasanya. Dia sama sekali tak merasakan perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Mas Nando, aku minta maaf jika telah mengganggumu. Kalau begitu aku permisi pamit pulang."
Nita berlalu pergi begitu saja, setelah meletakkan rantang berisi sarapan untuk, Nando.
"Hubungan macam apa ini? dia berkata halus padaku hanya sesekali saja. Setelah itu dia berubah sedingin es."
Batin Nita berkecamuk dengan rasa tak menentu. Kadang dia ingin mundur saja jika merasakan lelah yang teramat sangat.
Akan tetapi dia merasa tak enak pada kedua orang tuanya juga orang tua Nando. Dirinya serba salah, jika bertahan belum tentu dia bahagia bersama Nando. Jika mundur juga merasa salah.
"Ya Allah, aku bingung sendiri menghadapi sikap dingin Mas Nando. Seharusnya jika dia memang tak suka padaku, sebaiknya katakan saja. Jangan hanya diam seribu bahasa dengan memberikan alasan lain."
"Kalau Mas Nando berkata jujur, aku bisa mundur dengan teratur. Tanpa ada rasa tertekan atau pun merasa tak enak hati."
Nita memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah. Orang tuanya bertanya banyak hal.
"Nita, kok kamu cepat sekali pulangnya? apakah Nando sudah berangkat ke kantornya?" tegur Willy papahnya.
"Nak, mukamu juga terlihat murung? apa kalian sedang ada masalah?" selidik Mirna.
"Nggak ada apa-apa kok, pah-mah. Mas Nando ada di rumah, nggak berangkat kerja. Dia sedang kurang fit katanya. Jadi aku nggak enak kalau berlama-lama."
"Oh begitu, papah pikir ada masalah serius dengan kalian."
"Nak, setiap orang sedang lelah atau tak enak badan memang raut wajah kurang bersahabat. Seperti papahmu ini, jadi kamu jangan berpikiran negatif dulu pada, Nando."
"Iya, mah. Aku cuma merasa kasihan saja kok. Tapi dia nggak mau di kasihani, jadi aku rasa bete juga dengannya."
__ADS_1
"Mungkin saja dia merasa tak enak hati padamu, tak ingin merepotkanmu. Apa lagi status kalian kan masih pacaran."
"Oh iya, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian ke jenjang yang lebih tinggi?"
Tiba-tiba Mirna bertanya.
"Kemarin sudah di bahas, mah- pah. Pada saat ada om dan tante juga. Kata Mas Nando, dia belum siap untuk menikah. Karena kami belum saling mengenal lebih dalam lagi."
"Aku belum tahu keburukan dan kekurangannya, dia juga sebaliknya. Hanya itu alasan dia."
"Oh, ya sudah. Kamu jalani saja dulu hubunganmu dengannya. Jika misal kamu merasa cocok di lanjutkan, tetapi jika kamu kurang sreg padanya, kamu juga jujur saja sama mamah dan papah."
"Baik, mah-pah."
Nita merasa lega karena sudah bisa menumpahkan kegundahan hatinya pada orang tuanya.
***********
Malam menjelang, Nando merasa suntuk seharian di rumah saja. Dia memutuskan untuk keluar sejenak mencari angin segar.
"Apa sebaiknya aku ajak, Nita? kasihan juga dia, beberapa hari ini aku telah cuekin dia dan bersikap dingin padanya."
"Seharusnya aku mulai sekarang mencoba membuka hatiku untuknya. Bukan malah menjauhi dirinya."
"Padahal, Nita gadis yang baik dan tak banyak tingkah. Tidak seperti gadis yang pernah aku kenal."
"Aku akan menebus salahku, dengan berusaha sedikit demi sedikit membuka hatiku untuknya."
"Aku tak ingin merasakan penyesalan yang kedua kalinya. Aku nggak mau kehilangan wanita yang baik budi pekertinya."
Saat itu juga, Nando memutuskan menyambangi rumah, Nita. Hanya beberapa menit saja, mobil Nando sudah ada di depan pintu gerbang rumah, Nita.
"Ting tong"
Salah satu asisten rumah tangga membukakan pintu gerbang setelah mengetahui siapa yang datang.
"Tante- om, maaf mengganggu."
"Nggak kok, Nak Nando. Kebetulan kami sedang bersantai. Duduklah, nak."
Nando pun duduk di kursi berhadapan dengan orang tua, Nita.
"Ada apa, Nak Nando kemari?"
"Ingin ajak main Nita, om. Sebagai permintaan maaf saya karena tadi pagi saya kurang merespon kedatangannya gara-gara saya kurang fit."
__ADS_1
"Sebentar saya panggilkan."
Mirna bangkit berdiri melangkah masuk untuk memanggil Nita. Nita yang mendengar ada Nando datang ke rumah, dirinya merasa heran.
"Padahal tadi pagi acuh padaku, kenapa sekarang malah datang kemari?"
Nita melangkah mengikuti langkah kaki Mirna.
"Duduklah, Nita. Biar kami masuk saja."
Orang tua Nita sengaja memberi kesempatan pada Nando dan Nita untuk berbicara berdua saja.
"Ada apa ya, Mas?"
"Nita, aku kemari ingin minta maaf padamu."
"Minta maaf untuk apa, mas?"
" Untuk sikapku tadi pagi dan beberapa hari ini yang selalu dingin padamu. Aku tak bermaksud menyakiti hatimu."
"Mas Nando kenapa berkata seperti itu. Aku bisa memahami kalau saat itu kondisi, Mas Nando sedang tidak baik. Jadi tak usah seperti ini, aku sana sekali tak mempermasalahkan hal itu kok."
"Terima kasih ya, Nita. Kamu memang gadis yang sangat baik. Bagaimana kalau sekarang kita healing, sebagai penebus rasa bersalahku padamu."
"Baiklah, mas. Tapi aku ganti pakaian dulu dan pamit sama orang tuaku sebentar."
"Silahkan, Nita."
Nita langsung berlari kecil menuju ke dalam rumah untuk segera bergai pakaian dan berpamitan pada orang tuanya.
Lima menit sudah, kini Nita sudah berada di hadapan Nando kembali. Kini mereka melangkah ke mobil Nando. Dia lekas melajukan mobilnya.
"Memangnya kita akan kemana sih, mas?"
"Ada dech. Intinya kita akan ke suatu tempat yang sangat romantis."
"Ini orang kaya bunglon, sebentar-sebentar suasana hatinya berubah-ubah," batin Nita merasa heran dengan perubahan sikap Nando yang tak menentu.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah cafe yang suasananya sangat romantis. Lampu yang redup dan banyaknya pepohonan serta alunan musik melankolis menambah suasana semakin romantis.
Nando sengaja mencari tempat duduk yang strategis. Akan tetapi matanya tak sengaja beradu pandang dengan seseorang yang tak asing lagi oleh Nando.
"Sialan, di saat aku ingin move on. Malah bertemu dengannya."
"Sayang, bisa nggak kita tukeran tempat duduk."
__ADS_1
"Bisa, mas."
Nando bertukar tempat duduk dengan Nita, karena dia tak ingin berkali-kali bertatap muka dengan Nia.