
Riky hanya bisa menghela napas panjang dengan ucapan yang terlontar dari mulut, Rudi.
"Haduh, tolongin dong. Aku harus bagaimana? apa sebaiknya aku jujur saja pada, Nayla? ataukah bagaimana, Rudi?"
"Sudah aku katakan, aku belum bisa menemukan jawaban yang tepat untukmu. Sabar sedikit dong. Berpikir itu butuh waktu, nggak langsung instan."
"Hem, iya iya maaf."
Kini baik Riky maupun Rudi keduanya saling diam. Keduanya sedang memikirkan cara yang tepat.
"Sepertinya aku harus jujur saja pada, Nia. Dari pada nantinya aku malah susah untuk bisa dekat lagi dengan, Nia jika aku masih terus menjadi sebagai, Riky."
Rocky terus saja melamun, memikirkan hal tersebut.
"Aku sudah menemukan cara yang tepat."
"Apa-apa-apa, cepat katakan!"
Riky alias Rocky sudah tak sabar ingin mendengar saran dari, Rudi.
"Hem, sepertinya kamu harus tetap menjadi Riky. Jika kamu jujur pada, Nayla. Nantinya dia malah kecewa merasa telah kamu bohongi. Dan untuk masalah, Lina. Kamu kan sudah tahu semua tentang kebohongannya, lebih baik mulai sekarang kamu jauhi dia. Dari pada nanti bertambah masalah lagi."
"Hem, seperti itu ya?"
"Hem, tidak seperti yang aku pikirkan," batin Riky kecewa.
"Aku sudah memberimu saran, tetapi kenapa kamu malah murung setelah mendengar saranku? jika kamu tak berkenan ya sudah, kamu jalani saja apa yang ada di hatimu saja."
Tukas Rudi ketus.
"Sensi banget dech, seperti wanita yang sedang datang bulan saja. Aku nggak ngomong apa-apa sudah berpikir negatif dulu tentang aku," Riky mengerucutkan bibirnya.
"Thanks ya sarannya, sepertinya aku memang akan menjauhi Lina. Karena aku sudah puas, jika ternyata memang aku tak melakukan apapun dengannya."
"Aku sempat ragu, karena saat itu aku benar-benar mabuk berat dan tak sadar sama sekali. Aku terus saja merutuki diriku sendiri, menyalahkan diri. Karena aku pikir apa yang di katakan oleh, Lina adalah benar."
"Hem, lantas apa kamu akan tetap menjadi Riky atau kamu akan mengatakan yang sebenarnya pada, Nayla?"
"Jika kamu mengatakan yang sebenarnya, kamu juga akan terkena masalah lagi. Apa kamu lupa pria yang alami kecelakaan motor bersamamu hingga tewas?"
__ADS_1
"Hem, jika kamu tak katakan aku pasti lupa."
"Makanya itu, aku menyarankan kamu untuk tetap menjadi Riky. Karena jida kamu membongkar jari dirimu yang asli, secara tidak langsung polisi akan menyelidiki ulang jasaz yang dikubur dengan identitas dirimu."
"Tetapi apakah bisa, jazad seseorang yang sudah empat puluh hari lebih bisa di otopsi? bukankah sudah lama?" Riky memicingkan alisnya.
"Hem, aku juga tak paham untuk yang satu itu. Hanya perumpamaan saja, hhee....."
"Ya sudah, aku akan turuti saja dech apa saran darimu itu. Supaya tak terjadi masalah di kemudian hari. Sebenarnya aku iba juga dengan keluarga pengendara motor tersebut."
"Jika kamu iba, bantulah ekonomi dia setiap bulannya. Cari informasi tentangnya, dan rutinlah setiap bulan kamu bantu dia."
"Benar juga ya, besok dech aku akan mulai mencari keberadaannya. Terima kasih atas semua sarannya. Kamu memang sahabat yang terbaik bagiku."
"Iya, sama-sama. Btw cuma ucap terima kasih doang nggak buat perutku kenyang. Traktir makan atau apa gitu?"
"Siap, bro. Yuk sekarang juga kita ke cafe. Kenapa nggak dari tadi kamu ngomong?"
"Bagaimana aku mau ngomong, kamunya saja nyerocos mulu dari tadi."
Riky dan Rudi memutuskan untuk mencari makana di luar di sebuah cafe. Akan tetapi pikiran Riky selalu teringat pada, Nia.
"Woi, kok kamu malah bengong nggak makan sih?" Rudi menepuk bahu Riky.
"Aku sedang teringat pada, Nayla. Kasihan juga dia, sedang hamil muda tetapi tak ada aku. Aku merasa sangat bersalah padanya," tukas Riky lesu.
"Gampang kok, seperti yang pernah aku katakan. Kamu sering saja jenguk, Nayla dan anaknya. Supaya dia luluh dan mau menikah dengan dirimu."
"Tapi, ingat. Lina mengincar dirimu, jadi bahaya juga jika dia sampai tahu kalau kamu menikah dengan, Nayla."
"Hem, apa yang kamu katakan memang ada benarnya. Ternyata diam-diam Lina suka padaku."
"Makanya kamu harus berhati-hati, biar dia wanita tetapi berbahaya juga. Pintar melakukan segala cara demi apa yang di inginkan tercapai."
Rudi terus saja menasehati, Riky.
"Serba salah juga ya? jika aku tak menikah lagi dengan, Nayla. Pasti Nayla aman, tapi aku yang takkan tenang jauh darinya."
Riky memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Tak usah di buat bingung, tinggal kamu jalani saja seperti air mengalir. Sehingga kamu takkan merasa bingung yang hanya membuatmu pusing dan buntu pikiran. Sudahlah, jika kita ngobrol terus laku kapan makannya. Sementara cacing di perutku sudah tak sabar lagi ingin meminta jatah makan."
Rudi lekas menyantap makanannya, tanpa berkata kembali. Dia makan dengan lahapnya karena sudah lapar sekali.
Sedangkan Riky makan tak bersemangat, dia ingat dikala sedang makan bersama istri dan anaknya. Tiba-tiba mata Riky berkaca-kaca dan dia menghentikan aktifitas makannya.
"Bro, kenapa kamu berhenti makan?"
Rudi memicingkan alisnya melihat tingkah sahabatnya tersebut.
"Nggak apa-apa, aku hanya ingat kala makan bersama istri dan anakku."
Rudi tak bisa berkata lagi, dia hanya diam dan melanjutkan lagi makannya.
"Bro, makanlah! jika kamu sakit bagaimana kamu akan melindungi istri dan anakmu?'
"Katanya kamu akan sering jenguk istri dan anakmu supaya kamu selalu bisa melindungi mereka. Apa lagi saat ini istrimu sedang hamil muda."
Riky terdiam dan kemudian dia pun makan walaupun dirinya tak berselera. Tetapi apa yang dikatakan oleh sahabatnya ada benarnya.
Beberapa menit berada di cafe, mereka memutuskan untuk pulang kerumah, Rudi. Karena Riky belum ada tempat tinggal tetap.
"Rud, apa aku nggak apa-apa tinggal di rumahmu untuk jangka waktu yang lama?"
"Memangnya kenapa? kamu keberatan tinggal di sini atau merasa tak enak? jika kamu merasa tak enak, sini bayar uang kost padaku."
Canda Rudi terkekeh seraya menengadahkan tangan kanannya.
"Hem, boleh juga. Aku akan kasih jatah bulanan padamu."
"Bro, aku kan cuma bercanda kenapa kamu anggap serius? aku sudah di izinkan kerja di kantormu saja aku bersyukur kok. Jatah bulanan emang aku ini istrimu. Jeruk makan jeruk dong." Kembali lagi Rudi terkekeh.
Namun tidak dengan, Riky. Dia hanya menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.
Sementara di rumah, Nia. Dia sedang teringat akan kembaran Rocky.
"Kenapa aku merasa hal yang aneh? aku tak merasa sedang berhadapan dengan saudara kembar, Almarhum Mas Rocky. Tetapi aku seperti sedang berhadapan dengan, Mas Rocky."
Nia gelisah memikirkan Riky.
__ADS_1