CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Tak Di Hiraukan


__ADS_3

Pagi menjelang, orang tua Dika menjenguk dirinya yang saat ini masih ada di panti rehabilitasi untuk kejiwaan.


Akan tetapi Dika sama sekali tak menyapa atau merespon kedatangan orang tuanya, dia hanya melirik sinis.


"Dika, bagaimana kondisimu pagi ini? maaf ya, kami baru bisa datang untuk menjenguk."


Sapa Andre mengusap bahu anaknya.


Dika sama sekali tak menjawab perkataan papahnya.


"Dika, mamah bawakan makanan kesukaanmu. Pasti kamu belum sarapan kan?"


Kini Ambar yang mencoba berkata pada, Dika.


Akan kembali Dika tak berkata sepatah kata pun. Hingga akhirnya orang tuanya beralih bertanya pada perawatnya yakni, Suster Mariam.


"Sus, apa sejauh ini ada perkembangan positif pada anak kami?"


Belum juga Suster Mariam menjawab, Dika sudah mencolek lengannya.


"Suster, tolong temani aku ke taman. Di sini bikin suasana hatiku tambah kalut, apa lagi kedatangan mereka berdua!"


"Sebentar, Mas Dika."


Pada saat Suster Mariam akan berkata lagi, Dika sudah meraih jemarinya menggandengnya pergi dari hadapan orang tuanya.


Dika sama sekali tak peduli dengan kedatangan orang tuanya. Dia malah membencinya karena orang tuanya telah kejam membawanya ke panti tersebut.


Setelah sampai di taman, Dika baru menyadari jika dirinya telah menggenggam jemari tangan sang perawat.


"Maaf, aku tadi reflek."


Dika pun melepaskan pegangan tangannya.


"Iya nggak apa-apa, Mas Dika. Mas, kenapa ada orang tuanya kok nggak di sambut?"


"Aku benci mereka! aku ada di sini juga karena mereka, padahal aku ini nggak gila tapi di masukkan kemari. Justru lama-lama bisa membuat aku gila beneran!"


Dika mengepalkan tinjunya seraya giginya gemertak.


"Mas Dika, nggak boleh berkata seperti itu. Setiap orang tua pasti punya niat yang baik buat anaknya."


"Niat baik apaaan! aku sehat di masukkan kemari, itukah yang di namakan niat baik?"


"Saya tahu, Mas Dika kecewa dengan mereka. Tapi setidaknya bersikaplah manis di depan mereka, ya walaupun hanya sebagai basa basi. Kasihan juga mereka, mas."

__ADS_1


"Suster, kamu kerja kan untuk merawat saya. Bukan untuk memojokkan saya seperti ini! kenapa kamu malah membela orang tua saya yang sudah sangat jelas bersalah dalam hal ini?"


"Mas Dika, sekali lagi saya minta maaf. Baiklah, mulai detik ini kita takkan membahas tentang mereka. Bagaimana kalau pagi ini kita sedikit relaksasi, melenturkan otot tubuh dengan sedikit gerakan senam?"


"Nggak mau!"


"Ayoklah, Mas Dika. Saya punya video senam tapi agak lucu juga. Pasti Mas Dika suka dech."


"Huh, pede amat kamu! belum tentu aku suka!"


"Hem, makanya Mas Dika lihat dulu."


Suster Mariam meraih ponselnya dan membuka salah satu video senam tetapi ada kelucuannya.


"Mas Dika, fokuslah dengan video ini."


Sejenak Dika pun menurut kemauan perawatnya tersebut. Dia menatap seksama videonya. Dan sesekali dia tak sadar tertawa ngakak.


"Alhamdulillah, pada akhirnya Mas Dika bisa tersenyum juga. Kasihan juga dia harus mengalami hal sepahit ini."


"Sebenarnya apa yang di alaminya tak beda denganku. Hampir sama seperti kisah masa laluku."


Sejenak Suster Mariam melamunkan masa lalunya bersama kekasihnya dulu.


"Mas, orang tuaku dan orang tuamu tak setuju dengan hubungan kita. Bahkan ternyata mereka saling bermusuhan. Lantas kita harus bagaimana?"


"Apakah, Mas Yusuf yakin dengan keputusan ini? berarti kita secara langsung akan menentang kedua orang tua kita?"


"Ya, Mariam. Mau bagaimana lagi. Aku takkan sanggup jika harus di pisahkan oleh orang tua kita."


Selagi asik bercengkrama di sebuah taman. Datang orang tua Mariam dan orang tua Yusuf dari arah yang berlawanan.


Orang tua Mariam menarik paksa tangannya, dan orang tua Yusuf pun demikian.


"Yusuf! sudah berapa kali papah dan mamah melarangmu berhubungan dengan, Mariam! tetapi kamu masih membantah saja!"


"Kamu juga, Mariam! kami juga telah melarangmu keras, tetapi kamu juga keras kepala tetap menemui Yusuf!"


"Kenapa sih, kalian saling benci tapi jatuhnya ke hubungan kami? kami ini saling cinta, jadi tolong jangan kalian terus saja berusaha memisahkan kami!" Yusuf berteriak lantang.


"Yusuf! berani kamu membantah perkataan orang tuamu ini?"


Terjadi adu mulut antara Yusuf dengan orang tuanya. Mariam pun tak kuasa menitikan air mata.


"Mariam! untuk apa kamu menangisi pria seperti dia! sayang air matamu berharga untuk dia!"

__ADS_1


"Mah-pah, tolong mengertilah. Kami benar-benar saling cinta dan ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan.".


Mariam mencoba membujuk orang tuanya. Tetapi hal itu juga tak berpengaruh sama sekali.


"Sekali tidak tetap tidak! saat ini juga kamu akan kami bawa ke luar negeri!"


Mendengar ancaman dari orang tuanya, Mariam langsung jatuh berlutut.


"Mah-pah, aku mohon pada kalian. Berikanlah kami kesempatan untuk bisa menjalin kasih. Mas Yusuf itu orang baik."


"Baik apanya! dia itu turunan orang jahat! kami tak ingin kelak kamu sengsara hidup dengannya!"


Sementara orang tua Yusuf tak terima dengan umpatan dari orang tua Mariam. Hingga kini kedua orang tua saling adu mulut satu sama lain.


Kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Yusuf. Dia pun menghampiri Mariam dan membawanya pergi dari tempat itu. Akan tetapi naas, pada saat mereka berlri bersama tak tentu arah, ada sebush mobil melintas dengan kecepatan cepat.


"Mariam, awas!"


Pada saat Mariam akan ikut tertabrak juga bersama Yusuf. Yusuf mendorong tubuh, Mariam hingga terpental jauh.


"Mas Yusuf! bangun, mas!


Dengan bersimbah air mata, Mariam berusaha bangkit walaupun dia merasakan sekujur tubuhnya sakit dan kepalanya juga sakit.


Mariam memeluk erat tubuh Yusuf yang bersimbah dengan darah.


Kedua orang tua yang tadinya sibuk dengan adu mulut, kini berlari ke arah Yusuf dan Mariam. Papah Yusuf langsung menelpon rumah sakit untuk mengirim ambulance.


"Mas Yusuf, kamu yang kuat ya. Sebentar lagi pertolongan akan datang."


Mariam sangat panik melihat kondisi Yusuf.


"Tidak, Mariam. A-aku su-dah takkkkk kuat lagi. Ingat pesanku satu hal, ji-ka ke-lak ka-mu ber-te-mu de-ngan pria yang baik, kamu jangan tolak dia untuk menjadi pengganti diriku. Lanjutkan hidupmu meski tanpa ada diriku."


Setelah mengucapkan pesan terakhir, Yusuf meninggal saat itu juga.


"Suster, kamu kenapa menangis? maaf jika kata-kata aku menyakiti hatimu."


Tegur Dika memberikan tisu padanya.


"Astaghfirullah alazdim, maafkan aku ya, Mas Dika. Tadi aku melamun bukan karena aku merasa sakit hati padamu."


Mariam mengusap air matanya dan dia mencoba tersenyum di hadapan Dika.


"Sepertinya Suster Mariam memiliki sebuah permasalahan hidup. Kenapa aku jadi penasaran? apakah pantas jika aku bertanya pribadinya?"

__ADS_1


batin Dika di penuhi oleh tanda tanya.


__ADS_2