CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Kecewa


__ADS_3

Sementara saat ini Ari sedang tertawa terbahak-bahak, karena usahanya berhasil.


"Hhaaaa, sedikit membuat kalian berdua berkutat dengan lumpur sawah. Keren juga ternyata aksiku mengerjai kalian berdua."


"Next time, aku akan membuat yang lebih ekstrim dari tadi. Selamat membersihkan lumpur yang menggenangi mobil dan seluruh pakaian kalian."


"Aku pikir, mobil Dika takkan rusak parah. Paling hanya butuh perawatan saja. Hhaaaa puas rasa hati ini hari ini."


Sesampainya di rumah, Ari langsung mengganti plat nomor mobilnya dengan plat nomor mobil yang baru.


Dia pun bersantai ria di teras halaman sambil menunggu kepulangan Dika dan Mariam. Karena rumah mereka saling berseberangan jadi Ari bisa melihat lebih leluasa jika Mariam dan suaminya telah pulang.


"Kenapa mereka tak pulang juga? apa mungkin sedang repot mengurus kerusakan mobil, Dika."


"Ini teror yang belum seberapa untuk kalian. Masih banyak kejutan yang lebih menantang untuk kalian nikmati kelak."


"Asik juga ternyata bermain-main dengan orang seperti Dika yang kurang mahir dalam berkendara."


Hingga satu jam lewat sepuluh menit, di saat Ari akan beranjak masuk ke dalam rumah, barulah dia melihat kepulangan Dika dan Mariam.


"Heh, bro! tumben loe baru pulang?"


Ari pura-pura menyapa Dika.


"Iya, nih. Habis kena musibah sedikit koh."


"Hah, musibah? memangnya ada apa bro? lantas mana mobil loe?"


Ari melangkah mendekati Dika dan Mariam, tetapi Mariam segera masuk ke dalam rumah dengan membiarkan Dika berbicara dengan Ari.


Dika tanpa ada rasa curiga menceritakan semuanya pada, Ari. Ari pun pura-pura heran dan erius mendengarkan cerita dari Dika.


"Kurang ajar banget si, bro? lantas apa yang kamu lakukan terhadap mobil yang menyerempet loe?"


"Nggak gwe apa-apain, karena gwe nggak punya bukti yang kuat juga untuk melaporkannya ke polisi."


"Memangnya loe nggak sempat. menghapal plat nomor mobilnya?".


"Nggak sama sekali, aku nggak kepikiran soal itu karena yang aku pikirkan hanya keselamatan istriku saja."

__ADS_1


"Hem, iya-iya. Lain kali loe harus berhati-hati, bro."


"Iya, thanks ya. Gwe masuk dulu ya, apa loe mau main dulu ke rumah ?"


"Nggak usah, bro. Lain waktu saja ya. Gwe juga mau pergi nech ke rumah nyokap dan bokap."


"Oh iya, sudah. Hati-hati saja ya bro."


Ari segera kembali ke rumahnya dengan hati riang dan penuh kemenangan. Dia sangat senang karena usahanya telah berhasil.


Ari bergegas membersihkan badan karena dia akan menyambangi rumah orang tuanya yang kebetulan lumayan jauh dari rumah yang saat ini dia tempati.


Orang tua Ari masih hidup, berbeda dengan orang tua Mariam yang telah meninggal dunia karena kecelakaan pesawat yang di alaminya.


Setelah menempuh perjalanan satu jam, barulah Ari sampai di rumah orang tuanya. Kebetulan orang tuanya sedang bersantai di teras halaman.


"Tumben petang hari kemu kesini, Ari? ada apa?"


"Ada berita bagus, pah? aku barusan telah memberikan sedikit pelajaran pada Mariam dan suaminya."


"Memang apa yang telah kamu lakukan lagi pada mereka? apa kamu meneror lagi dengan melempar batu lagi?"


Ari menceritakan apa yang barusan dia lakukan pada mobil yang di tumpangi oleh Dika dan Mariam. Namun papahnya hanya mencibir tak beraksi bangga ataupun senang.


"Hanya begitu saja kamu sudah senangnya minta ampun. Papah pikir kamu telah melakukan yang lebih extrim dari pada itu."


"Pah, kok papah seperti nggak suka dengan usaha aku?"


"Ya memang papah nggak suka, karena menurut papah apa yang kamu lakukan kurang ok!"


"Pah, janganlah seperti itu. Bagaimanapun Ari telah berusaha membalaskan dendam kita walaupun dia lakukan dengan cara dia."


"Pah, aku sengaja meneror mereka supaya mereka merasakan hidup tak tenang jika alami teor setiap hari. Kalau aku langsung menyerang Mariam, yang ada dia tak merasakan menderita sama sekali."


"Hem, ya sudah terserah kamu sajalah. Papah hanya ingin si Mariam juga merasakan sakit seperti apa yang di rasakan oleh, Almarhum Aris. Hanya itu yang ingin papah lihat."


"Jujur saja, papah berharap Mariam itu mengalami kecelakaan seperti yang di alami oleh Almarhum Aris."


"Pah, jika Mariam langsung di buat seperti itu. Dia tidak akan alami sengsara dulu. Aku sengaja ingin membuat Mariam menjadi sengsara dulu, baru kemudian kita lakukan seperti rencana A."

__ADS_1


"Iya, pah. Mamah sangat setuju dengan rencana yang di jalankan oleh Ari. Ada baiknya juga loh, pah. Jadi Mariam harus merasakan menderita dulu."


"Hem, ya sudahlah terserah kamu saja dech. Papah inginnya dendam ini cepat terbalas. Nyara di balas dengan nyawa supaya hati papah tenang dalam melepas kepergian, Almarhum Aris."


Mendengar akan hal tersebut, hati Ari ada sedikit kekecewaan terhadap papahnya.


"Kenapa papah tak pernah sedikitpun ada rasa bangga padaku? hanya Almarhum Aris yang selalu dia banggakan."


"Aku sudah mencoba untuk bisa mendapatkan hati papah, tapi tetap tak bisa. Untuk apa pula jika aku kembali tetapi sama sekali tak di anggap oleh papahku."


"Seharusnya papah lebih sayang padaku, karena aku adalah anak yang terbuang begitu lamanya."


"Kenapa papah sama sekali tak ada rasa merindu pada diriku? boro-boro pertama bertemu langsung peluk aku."


Ari memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena dia merasa tak di butuhkan di rumah orang tuanya.


"Ari, kamu mau kemana?"


"Aku mau pulang saja mah.'


"Ari, baru saja mamah buatkan minum masa kamu mau pulang? di minum dulu minumannya ya, ini ada beberapa cemilan juga."


"Nggak usah, mah. Terima kasih, Ari mau pulang saja ya. Jaga diri mamah baik-baik."


"Aku yakin saat ini Ari tersinggung dengan apa yang di katakan oleh suamiku? aku juga tak bisa merubah sifat asli suamiku yang sangat keras dan dingin."


"Kasihan juga, Ari. Padahal dulu dia yang berkirban untuk tidak mendapatkan didikan dari kamu berdua."


"Tapi setelah bersama kami, suamiku malah tak begitu perhatian padanya. Sama sekali tak menghiraukan apa yang di katakan olehnya."


"Tapi jika aku menegur atau memberi nasehat dia pasti marah besar. Maafkan mamah ya, nak. Yang tak bisa merubah sikap buruk papahmu."


Mamahnya Ari merasa kecewa pula pada suaminya yang terlalu arogant dan buruk pada Ari.


Suaminya Sam's sekali tak bisa bersikap halus pada Ari. Berbeda peri lakunya terhadap Almarhum Aris.


"Percuma saja aku bantu papah untuk membalaskan dendam pada, Mariam. Jika sikapnya saja padaku begitu dingin. Apa lebih baik aku hentikan saja ya? dan aku sebaiknya kembali saja ke kota J."


Sembari melajukan mobilnya arah pulang, Ari terus saja menggerutu. Dia benar-benar kecewa dengan sikapnya papahnya.

__ADS_1


Ari sudah tak bersemangat lagi untuk membalaskan dendam papahnya pada Mariam.


__ADS_2