CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Rasa Yang Tertinggal


__ADS_3

Tak berapa lama, sampailah mereka di depan rumah Dika. Dan semua serba kebetulan sekali, Dika juga baru kembali dari danau. Niatak sengaja. bertatap muka dengan Dika. Keduanya saling berpandangan satu sama lain. Akan tetapi Nia langsung memalingkan mukanya ke arah ponsel. Riky yang melihat Dika terus saja menatap ke arah Nia menjadi cemburu.


"Sialan, aku yakin sekali jika Dika masih sangat mencintai Nia. Dari tadi dia menatap tak berkedip padanya," batin Riky.


Tak berapa lama, Dika terlebih dahulu masuk ke dalam pintu gerbang. Sementara mobil Riky mengikuti dari belakang. Mereka parkir di halaman rumah.


"Kalian duduklah dulu, aku akan memanggil Mariam." Dika masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Nia dan Riky duduk di teras depan rumah. Mereka menunggu beberapa menit, Mariam sudah keluar dengan menuntun Ina.


"Hallo, Ina." Sapa Nia mendekati Ina.


"Hallo, Tante." Jawabnya lirih.


"Aduhhh, Ina memanggil aku tante. Lantas bagaimana jika kelakaku bawa dia pulang ke rumah? apakah dia akan mau tinggal bersamaku?" Niq mendadak ragu.


Sejenak mereka bermain-main di teras halaman. Sementara Dika sengaja tetap di dalam karena dia merasa tak enak dengan Riky.


"Sebenarnya aku ingin sekali ikut bergabung ke depan bersama mereka, tetapi tatapan suami Nia sinis banget padaku." Batin gelisah.


"Padahal ini moment yang sangar aku tunggu yakni aku ingin sekali melihat wajah ayu Nia. Walaupun tanpa taburan bedak dan kosmetik, dia tetap ayu. Itu yang aku suka darinya."


"Aku nggak mau melewatkan kesempatan ini, sebaiknya aku bergabung ke depan saja. Terserah saja suami, Nia mau berpikir buruk apapun tentangku yang terpenting aku bisa melihat wajah, Nia. Karena ini kesempatan yang langka, tidak setiap hari aku bisa melihat wajah ayu Nia."


Dika pun memutuskan melangkah bergabung dengan yang lain di teras depan rumah. Dika tak ingin menyia-nyiakan kebersamaan bersama, Nia. Munculnya Dika malah membuat Riky merasa cemburu.


"Untuk apa pula, Dika pake acara keluar segala! bikin aku nggak betah berlama-lama di sini!" batinnya kembali kesal melihat kedatangan Dika.


"Mariam, kenapa tak di buatkan minum dari tadi?' tiba-tiba Dika berkata.


"Eh iya, maaf. Sampai kelupaan, kalian mau minum apa?" tanya Mariam melihat ke arah Nia dan Riky.


"Nggak usah, kami nggak lama kok. Hanya sebentar saja untuk menjenguk, Ina. Kami pamit pulang ya," tukas Nia.

__ADS_1


"Loh kok pulang, baru juga sebentar," tukas Dika.


"Anakku menunggu lama di rumah kasihan."


Sebenarnya Nia tahu jika tatapan mata suaminya sudah tak bersahabat. Hingga dia tak ingin merusak suasana dan memutuskan untuk pulang.


"Terpenting aku sudah melihat wajah, Mas Dika jika saat ini dia dalam kondisi baik-baik saja. Maafkan aku , Mas Rikky. Aku hanya khawatir saja pada, Mas Dika. Tapi setelah melihatnya baik-baik saja, hatiku pun telah tenang," batin Nia lega.


Saat itu juga Nia bergelayutan di lengan suaminya dan melangkah ke halaman rumah. Sepintas Nia menatap ke arah Dika dan kebetulan Dika tak sengaja menatap ke arah Nia pula. Nia tersenyum manis seketika tatapan matanya langsung beralihlah.


"Nia, senyummu itu yang membuat aku tak bisa melupakan dirimu sama sekali. Apakah kamu masih merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan ini?" batin Dika penuh harap.


Kadang kala Dika lupa jika dirinya telah beristri, dia masih saja ingat pada Nia.


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Riky hanya diam saja. Nia pun juga diam, dia asik bermain ponselnya.


"Hem, sedang chat dengan Dika ya? senyum-senyum seperti itu?" sindir Riky.


Nia sengaja tak ingin berkata apa pun khawatir akan memancing emosinya.


Setelah melihat ponsel, Nia. Barulah Riky terdiam, tak berkata lagi. Hingga sampai di rumah pun, Riky tak berkata lagi.


"Mas Riky, kenapa lama-lama sikapmu ini mirip dengan Almarhum Mas Rocky? padahal aku suka sikapmu yang dulu, yang tak pencemburu dan juga lemah lembut padaku."


Perkataan Nia sempat membuat Riky terhenyak kaget.


"Memang sebenarnya aku ini Rocky hanya kamu saja yang tak tahu. Dan sampai kapanpun aku tak bisa berpura-pura lagi bersifat seperti Riky karena itu sangat melelahkan bagiku. Harus selalu menahan rasa," batin Riky.


Dia tak menjawab perkataan Nia, hanya dia jawab di dalam hatinya saja.


Nia pun beralih pergi keluar kamar untuk mengecek kedua anaknya karena tadi di tinggal cukup lama. Ternyata kedua anaknya sedang bermain dengan para baby sitter mereka.


Pagi menjelang, Nia ingin memulai aktifitasnya di butik kembali. Dia sudah merasakan kejenuhan yang mendalam.

__ADS_1


"Sayang, memangnya kamu sudah akan mulai bekerja lagi? sebenarnya kamu tak usah bekerja juga tak apa-apa, kan aku bekerja."


"Tapi sayang juga, mas. Jika butik aku yang telah aku dirikan dengan sudah payah tiba-tiba saja di hentikan. Kan lumayan juga hasilnya untuk tabungan masa tua kita kelak."


"Ya sudah, terserah kamu saja. Jika kamu ingin berhenti ya nggak apa-apa, jika ingin lanjutkan kerja juga nggak apa-apa."


"Terserah kamu saja mana yang kira-kira bisa buatmu nyaman. Asal kamu jangan terpaksa dalam menjalankannya."


"Ya, mas. Terima kasih ya, sudah memberiku ruang kebebasan bagiku."


"Iya, sayang. Tapi jangan kamu kecewakan rasa kepercayaan ku ini padamu ya."


"Nggak lah, mas. Aku bukanlah wanita yang suka bermain hati, aku hanya suka bermain dengan mesin jahit. Bermain dengan otak untuk mendesain busana."


Riky terkekeh mendengarnya. Melihat suaminya tersenyum, ada rasa bahagia di hati, Nia.


"Alhamdulillah, ternyata suamiku bisa tertawa juga. Aku pikir dia telah lupa bagaimana caranya untuk bisa tertawa," batin Nia.


Dia pun lekas berangkat ke butik dengan tak lupa mencium punggung tangan suaminya. Sementara saat ini Riky sedang tak berangkat ke kantor karena sedang ingin bersantai di rumah bersama kedua anaknya. Entah kenapa dia merasa rindu bermain dengan kedua anaknya.


"Nanti siang aku akan ke butik untuk mengajak makan siang, Nia. Sudah lama kami tak makan siang bersama sejak aku berubah menjadi Riky," batinnya tersenyum sendiri.


Hingga siang menjelang, Riky datang ke butik Nia. Dan lekas mengajaknya makan siang bersama.


"Mas Riky, kok kamu nggak kasih kabar jika ingin kemari?"


"Aku kan ingin buat surprise, makanya sengaja nggak kasih kabar padamu. Yuk kita makan siang bareng di cafe yang sedang booming."


Riky merangkul istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ayok, siapa takut."


Dengan penuh riang gembira, Nia menyambut ajakan suaminya itu. Merekapun melangkah beriringan menuju ke parkiran mobil.

__ADS_1


__ADS_2