CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Masa Hukuman Lina


__ADS_3

Keesokan harinya, pihak polisi telah memberitakan pada, Riky. Jika saat itu juga akan diadakan sidang untuk memutuskan masa hukuman bagi, Lina.


Dia anak buah Lina juga turut serta di dalam persidangan tersebut.


Nia datang juga beserta Riky dan salah satu anak buahnya. Ibunya Lina juga datang. Lina meminta waktunya sebentar untuk bisa berbicara sejenak dengan ibunya.


"Bu, apakah kemarin ibu sudah menemui Nayla?"


"Sudah, nak."


"Lantas apakah ibu meminta apa yang aku sarankan kemarin?"


"Awalnya memang ibu meminta dia untuk mencabut tuntutannya. Tetapi setelah ibu tahu semua kesalahanmu, ibu mengikhlaskan dirimu menjalani masa tahanan."


"Loh, kok ibu seperti ini? apa ibu tak kasihan denganku?"


"Jujur ibu malu punya anak seperti dirimu. Ibu merasa telah gagal mendidik dirimu. Biarlah ini sebagai hukuman atas apa yang telah kamu lakukan selama ini pada keluarga, Nayla."


"Bu, jika aku di penjara apa ibu tak memikirkan bagaimana kehidupan ibu dan bagaimana pengobatan ayah?"


"Nak Nayla, berhati mulia. Dia yang akan bantu itu semua."


"Ooohhh, jadi Nayla mengatakan akan bantu ibu dan ayah hingga ibu langsung percaya dan tak memperjuangkan untuk kebebasanku?"


"Sudahlah, Lina. Kamu tak usah berkeras hati, apa yang telah kamu lakukan harus kamu pertanggung jawabkan di hadapan aparat hukum. Makanya lain kali jika ingin bertindak, pikir dulu sebab dan akibatnya."


Saat itu juga, wanita paruh baya ini berlalu pergi dan mengambil tempat duduk yang telah tersedia di persidangan tersebut.


Beberapa menit kemudian, persidangan di mulai. Setia saksi di sumpah terlebih dulu untuk tidak bersaksi dusta atau palsu.


Acara persidangan segera di buka, dari para saksi yang mengatakan segala hal yang mereka ketahui. Setelah itu barulah tertuduh untuk membuka suaranya.


Dengan lantang, Lina tak merasa bersalah sama sekali dengan tindakan yang dia lakukan. Justru dia menyalahkan Nia yang menurutnya merebut almarhum Rocky. Dan menyalahkan Nia pula yang mencuri perhatian, Riky.


Dia anak buah, Lina juga turut bersaksi di depan persidangan. Jika mereka di perintah untuk membunuh, Nia.

__ADS_1


Setelah melihat, menimbang, dan memutuskan. Akhirnya hakim mengetuk palunya.


Nia mendapatkan hukuman sepuluh tahun penjara dan dua anak buahnya mendapatkan hukuman delapan tahun penjara. Mereka terjerat kasus pencobaan pembunuhan berencana.


Lina terduduk lemas saat mendengar masa hukumannya yang begitu berat.


"Sepuluh tahun aku harus mendekam di dalam jeruji besi. Hanya satu malam saja aku sudah merasa tak kerasan, apa lagi sepuluh tahun," batinnya mulai membayangkan dingin dan pengapnya udara di dalam penjara.


Hal yang serupa juga di rasakan oleh, dua anak buah, Lina. Mereka merasa menyesal karena telah menerima tawaran dari, Lina untuk menghabisi, Nia.


"Sialan, seperti ini kita di penjara selama delapan tahun. Bagaimana dengan istri dan anak kita, bro?"


"Entahlah, ini semua gara-gara kamu! jika waktu itu kamu tak mengajak aku, pasti aku tak ikut terbawa dalam masalah ini! sekarang aku juga tak tahu bagaimana nasib istri dan anakku!"


Kedua anak buah, Lina saling menyalahkan satu sama lain. Sementara Ibunya, Lina meneteskan air mata.


"Ya Allah, sebenarnya aku sedih karena anakku harus di dalam jeruji besi dalam waktu yang cukup lama. Tetapi mau bagaimana lagi, dia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dia perbuat."


Wanita paruh baya ini sama sekali tak menghampiri, Lina pada saat selesai persidangan. Dia justru berlaku pergi begitu saja dengan penuh kekecewaan atas apa yang telah di lakukan oleh anak gadisnya.


"Mas Riky, sekali lagi terima kasih telah membongkar kejahatan Lina. Jika tidak pasti saat ini dia akan terus mengincarku."


"Sama-sama, Nayla. Tetapi biarkan saja empat anak buahku berjaga di depan rumahmu ya. Karena untu waspada saja."


"Hem, baiklah mas. Tapi kasihan juga jika mereka berjaga di luar pintu gerbang. Apa nggak sebaiknya aku buatkan pos jaga saja untuk mereka?"


"Ya, itu terserah kamu saja. Tapi sebaiknya buatlah pos jaga yang agak tersembunyi supaya tidak begitu mencolok atau terlihat orang."


"Baiklah, mas."


Riky sangat bahagia karena mampu melindungi istri dan anaknya. Terutama calon bayiyabg saat ini ada di dalam perut, Nia.


"Ya Allah, ingin sekali aku memeluk, mencium istriku dan juga kedua anakku. Tapi apa daya semua terhalang karena diriku bukan Rocky tetapi Riky."


Batinnya terus saja mengeluh.

__ADS_1


******


Berjalannya waktu cepat sekali, kini sudah satu tahun berlalu dari permasalahan tersebut. Dan Nia juga telah melahirkan anaknya. Dan kini anaknya telah berumur dua bulan.


Seorang anak perempuan yang sangat cantik. Di beri nama, Fina.


"Sudah satu tahun berlalu, tetapi Nia belum juga membuka hatinya untukku. Ingin rasay aku katakan saja yang sejujurnya bahwa aku ini adalah, Rocky."


"Aahhh, Nia. Kenapa kamu kejam sekali padaku! izinkan aku untuk bisa menikah lagi denganmu, sehingga aku bisa menjagamu dan anak-anak kita!"


Riky terus saja menggerutu di dalam hati. Penantiannya selama ini belum juga membuahkan hasil. Hati Nia begitu sulit untuk di luluhkan.


Walaupun Riky sudah melakukan beribu banyak kebaikan di dalam hidup Nia.


Sementara saat ini, rumah tangga Dika dan Mariam juga sedang di rundung masalah. Setelah sekian lama menikah, mereka belum juga di karuniai seorang anak.


Hingga mereka memutuskan untuk mengangkat anak dari panti asuhan untuk sebagai pancingan.


Mereka mengadopsi seorang anak perempuan yang kini baru berusia delapan belas bulan. Anak ini bernama, Ina.


"Mas, aku minta maaf ya. Hingga detik ini belum bisa memberikan kebahagiaan padamu yakni seorang anak."


"Sayang, janganlah seperti itu. Kira kan sudah ada, Ina. Walaupun dia bukan anak kandung kita. Dan kita juga telah beberapa kali periksa dan tak ada masalah apa pun dalam diri kita. Kira ini sehat, hanya saja Allah belum mengizinkan kita untuk punya momongan."


"Iya, mas. Terima kasih ya. Kamu memang suami yang sangat baik dan pengertian."


Akan tetapi hati Dika bertolak belakang dengan apa yang dia katakan.


"Jika saja aku menikah dengan, Nia. Mungkin saat ini aku juga telah punya banyak anak darinya. Sayang, Allah tak menakdirkan aku berjodoh dengannya."


"Kasihan sekali hingga saat ini, Nia menjanda. Padahal ada pria yang mirip almarhum Rocky yang selalu mengharapkannya tetapi dia tak mau. Jika saja aku masih sendiri, pasti aku akan selalu mencoba mendekatinya lagi. Tapi aku juga masih punya hati nurani, hingga aku tak ingin menyakiti Mariam."


"Kenapa aku merasa, Mas Dika tak tulus dengan apa yang dia katakan barusan ya? kenapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya?"


Mariam melihat gelagat aneh pada wajah, Dika yang sangat terlihat murung.

__ADS_1


*****


__ADS_2