CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hadirnya Lina


__ADS_3

Seperginya Ari, mamahnya mencoba menasehati papahnya supaya tidak bersikap dingin pada, Ari.


"Pah, kenapa kamu tak bisa bersikap ramah pada Ari? padahal dia juga anak kita loh?"


"Aku kurang ramah apa lagi sih, mah? kenapa hal kecil saja dibuat masalah."


"Pah, seharusnya kita malah memberi perhatian lebih pada Ari. Karena dulu kita tak merawatnya sendiri. Kini setelah Ari pulang, kenapa malah kamu seperti ini pah?"


"Sudahlah, mah. Tak usah memperdebatkan sesuatu yang tak seharusnya jadi bahan perdebatan!"


"Aku malas kalau harus bertengkar denganmu untuk hal yang sepele seperti ini!"


Papahnya hanya berlalu pergi meninggalkan mamahnya yang terpaku seraya mengusap dada.


Sejak meninggalnya Almarhum Aris, papahnya memang kerap kali marah tanpa alasan yang jelas. Dia sering kali tak bisa mengontrol emosinya.


Hal ini kerap kali juga membuat mamahnya kadang merasa sudah tak sanggup lagi berada di samping papahnya.


********


Perjalanan hidup begitu berliku, seperti halnya yang kini sedang di jalani oleh Nia dan Rocky.


Kini ingatan Nia sudah pulih total. Dia bahkan sudah ingat masa lalunya bersama dengan Dika.


"Sekarang ingatan aku sudah pulih dengan sendirinya. Dan aku sudah tahu siapa itu, Dika?"


"Aku ingat betul pada saat terakhir Dika di sekap mulutnya sehingga tak sadarkan diri. Dan pada saat itu bada dua orang tak dikenal menarik paksa diriku."


"Aku masih penasaran siapa sebenarnya yang telah memerintah dua orang tersebut menghabisi nyawaku?"


"Apakah orang tua, Mas Dika? karena hanya mereka yang selama ini tak setuju dengan hubunganku bersama, Mas Dika."


"Bagaimana caraku menguak tabir rahasia orang yang telah mencelakai aku hingga aku hilang ingatan?"


"Kenapa aku ingin sekali menangkap orang yang telah mencelakai aku? tapi bagaimana caraku menangkap mereka? sementara mereka mengenakan penyamaran?"


Nia terus saja melamun memikirkan hal tersebut. Bahkan Niw sengaja tak memberi tahu pada, Rocky jika ingatannya telah pulih.


"Untuk sementara waktu aku akan merahasiakan tentang kepulihan ingatanku ini. Biarlah untuk sementara waktu, Mas Rocky menganggap aku masih hilang ingatan."


Selagi asik melamun, datanglah Rocky dari arah belakang mengecup pucuk rambut Nia.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu melamun sendiri? bagaimana dengan kendunganmu?"


"Alhamdulillah, baik mas. Aku sedang bersantai, mas. Bukan sedang melamun kok."


"Bagaimana kondisi butikmu, apa ada masalah?"


"Hem, sejauh ini tidak ada masalah sama sekali, mas. Alhamdulillah malah semakin hari semakin banyak pelanggannya. Mungkin ini rezeki dari calon anak kita."


"Syukurlah, kalau begitu. Tapi sebisa mungkin kamu jangan terlalu cape, ingatlah kalau dirimu sedang berbadan dua."


"Iya, mas. Aku pasti ingat akan pesanmu ini kok. Kamu jangan terlalu khawatirkwn aku, mas."


"Bagaimana aku nggak khawatir padamu, karena kamu sering pulang larut malam. Padahal kamu sedang hamil."


"Mas, aku pulang larut malam kan nggak setiap hari. Hanya beberapa kali saja, itu pun terbentur pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan begitu saja."


"Apa kamu nggak bisa cari karyawan lagi supaya kamu tak terlalu cape, sayang?"


"Aku sedang mencarinya, mas. Tapi sampai detik ini belum juga menemukan yang pas."


"Hem, kalau begitu biar aku ikut mencarikan untukmu bagaimana?"


Rumah tangga Nia dan Rocky masih adem ayem saja, walaupun saat ini Nia sudah pulih ingatannya.


Akan tetapi akan ada masalah yang bertubi-tubi setelah salah satu teman masa sekolah Rocky masuk dalam kehidupan rumah tangga mereka.


*****


Pagi menjelang, Rocky telah menemukan seseorang yang tepat untuk bekerja menjadi asisten pribadi Nia. Dia adalah Lina salah satu teman sekolah Rocky pada saat mereka duduk di bangku SLTA.


"Sayang, ini Lina teman semasa SLTA. Kebetulan dia sedang butuh pekerjaan. Apa kiranya kamu bersedia menerima dia di butikmu?"


Sejenak Nia terdiam, dia memandang lekat Lina dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan dua meminta CV yang dibawa Lina untuk Nia terlebih dulu.


"Perkenalkan, namaku Nayla. Istri Mas Rocky. Boleh aku lihat CV , Mba Lina terlebih dulu?"


"Jangan panggil saya, mba. Panggil nama saja, Lina."


Lina memberikan CV tersebut pada Nia. Nia mengamati dengan sangat serius.


"Jadi, Mba Lina dulunya juga pernah kuliah di jurusan tata busana. Hem, kenapa nggak buka toko atau butik sendiri? sementara aku lihat nilainya juga bagus-bagus."

__ADS_1


"Karena saya terbentur dana, Mba. Dan saya harus menjadi tulang punggung orang tua setelah ayah saya alami sebuah kecelakaan."


"Wah, maaf saya tak tahu soal ini. Baiklah kalau begitu saya terima, Mba Lina kerja di butik saya untuk menjadi asisten pribadi saya sesuai keinginan, Mas Rocky."


"Wah, Rocky. Terima kasih ya, berkat bantuanmu aku jadi tak nganggur lagi dan bisa melanjutkan membiayai pengobatan ayahku."


"Iya, sama-sama Lina."


Lina adalah anak dari sepasang suami istri yang kondisi ekonomi sederhana. Ayahnya seorang tukang ojek yang alami korban tabrak lari hingga kini alami kelumpuhan.


Dan ibunya hanya buruh cuci setrika milik para tetangga. Tetapi orang tua Lina mampu memberi pendidikan tinggi pada, Lina hingga dia lulus menjadi seorang sarjana.


Tetapi Lina tak bisa mencari kerja yang pasti karena dia harus bergantian dengan ibunya menjaga ayahnya yang sedang sakit.


Selama ini Lina telah jatuh cinta pada, Rocky. Tetapi dia tak pernah bisa menggapai hari Rocky. Karena Rocky tripikal pria yang dingin dan sangat tertutup.


"Semoga ini awal yang bagus, supaya aku bisa mendapatkan cinta dari, Rocky. Jika aku lihat, paras istrinya biasa saja. Di bandingkan aku masih cantik aku, tetapi kenapa Rocky sama sekali tak melirik diriku?"


"Kali ini aku harus bermain cantik untuk bisa mendapatkan cinta Rocky. Dan perlahan aku juga akan bisa menyingkirkan istrinya ini yang sok kecantikan."


Ternyata Lina berniat tidak baik dengan masuk kerja di butik Nia. Dia punya cinta yang terpendam sudah beberapa tahun pada, Rocky.


Dia menginginkan Rocky menjadi miliknya seuntuhnya.


"Aku harus memanggil apa pada, anda? ibu atau mba?"


"Terserah, Mba Lina saja. Senyumannya, mba."


"Baiklah, saya akan ikuti para karyawati lain cara memanggil. Dan jangan panggil saya, mba. Panggil saja, Lina."


"Baiklah, Lina."


Saat itu juga, Lina mulai bekerja di butik milik, Nia. Dia juga ingin menguasai butik menjadi miliknya pribadi. Makanya dia sangat fokus mempelajari apa saja yang perlu di pelajari di dalam butik tersebut.


"Lina, kamu cepat sekali bisa beradaptasi. Bahkan kamu cepat menguasai segala hal yang ada di dalam butik ini."


"Terima kasih atas pujiannya, Bu Nayla. Ini semua juga berka dukungan dan arahan serta ajaran dari anda."


"Terima kasih telah dengan sabar mengajarkan saya berbagai hal penting di dalam butik ini."


"Sama-sama, Lina.

__ADS_1


__ADS_2