
"Aku nggak apa-apa kok, Mas Dika. Bagaimana, apakah kita akan lanjut senamnya?"
Mariam mencoba tersenyum di hadapan Dika.
"Sudah tak ingin senam sama sekali. Kenapa Suster tak mau cerita padaku? kenapa pula hanya aku yang selama ini cerita pada, suster?"
"Ayohlah, suster. Cerita dan berbagilah pada ku."
Karena bujukan dari, Dika. Akhirnya Mariam menceritakan semua masa lalunya. Tak terasa kembali air matanya tertumpah.
"Ternyata, masa lalu Suster Mariam lebih parah dariku. Tapi dia mampu bertahan dan tegar bahkan bisa berguna untuk hidup orang lain. Ya hidupku seperti sekarang ini, dia merawatku dan selalu mensupport ku. Padahal sendirinya juga butuh support."
Perlahan Dika mulai menyadari kesalahannya. Dia kini akan berusaha move on dari Nia.
Sementara di ruang rawat Dika, orang tuanya sedang menunggunya. Mereka belum juga pulang.
"Pah, suster membawa Dika kemana ya?"
"Bukannya tadi Dika mengatakan ke taman. Apakah sebaiknya kita ke taman juga untuk menyambangi Dika?"
"Ya, mah. Sebaiknya kita samperin saja Dika di taman dan memintanya untuk sarapan. Pasti saat ini Dika belum sarapan."
Orang tua Dika melangkah menuju ke taman. Dika yang melihat kedatangan orang tuanya, masih saja tak merespon.
"Dika, tolong jangan seperti ini pada kami. Memang kami salah, tapi apa tidak ada kata maaf pada kami?"
"Tidak akan ada maaf jika aku tidak lekas bisa keluar dari sini!"
Orang tuanya saling berpandangan satu sama lain.
"Kenapa? kalian keberatan jika meminta pada dokter supaya aku di izinkan pulang? toh aku ini sehat."
"Baiklah, Dika. Papah akan ke ruangan dokter dulu dan meminta izin untuk membawamu pulang."
Andre melangskah menuju ke ruangan khusus dokter. Dia mencari dokter yang khusus merawat, Dika. Dia mengatakan banyak hal pada, dokter tersebut.
Hingga akhirnya dokter mengizinkan pulang. Asalkan Dika tetap dalam pengawasan Suster Mariam.
"Baiklah, pak. Saya izinkan pasien pulang karena menurut saya dia juga kondisinya sudah stabil."
"Tapi saya belum percaya sepenuhnya. Sehingga saya akan meminta pada, Suster Mariam untuk tetap merawat anak anda, pak."
"Baiklah, dok. Asalkan kami di izinkan membawa pulang anak kami."
Saat itu juga, Dika di izinkan pulang. Dengan bantuan Suster Mariam, Dika mengemasi semua pakaiannya. Dia kini bisa bernapas lega karena sudah bisa keluar dari rumah sakit yang penuh dengan orang-orang sakit jiwa.
__ADS_1
"Suster Mariam, mohon maaf karena kami merepotkan anda."
"Tidak sama sekali, pak. Ini sebagian tugas saya sebagai seorang perawat. Jadi bapak atau ibu tak perlu sungkan."
Tak lupa dokter memberi tahu pada, Suster Mariam jika dirinya masih di perlukan untuk merawat, Dika.
"Pak-bu, saya izin pulang ke kost dulu untuk mengambil pakaian saya. Nanti saya menyusul ke rumah, bapak dan ibu."
"Sekalian saja, sus. Biar kami antar ya?"
tiba-tiba Dika berkata.
"Tapi saya mengendarai motor, Mas Dika."
"Begini saja, biar Suster dan saya berboncengan naik motor. Sementara orang tua saya tetap di mobil."
"Papah dan mamah tak usah khawatir, aku takkanberbuat nekad. Karena pada dasarnya aku ini nggak gila seperti yang kalian sangka selama ini."
"Pak-bu, biarkan Mas Dika bersama saya."
Suster Mariam juga yakin dengan kondisi kesehatan, Dika. Karena dia sudah sering merawat pasien di rumah sakit tersebut.
Saat itu juga, Suster Mariam pergi ke kost bersama Dika. Dia yang mengemudikan motor maticnya.
Selama dalam perjalanan ke kost, Suster Mariam hanya diam saja. Sesekali dia bersenandung lagi kesukaannya.
"Jika saya pintar mah sudah jadi penyanyi bukan perawat, Mas Dika. Saya hanya hobi saja. Jika sedang suntuk atau tidak ada kegiatan, saya habiskan untuk bersenandung ala-ala Mariam hhee."
Sesekali Suster Mariam mengajar bercanda Dika.
"Entah kenapa di samping suster ini, aku merasa nyaman seolah tak ada beban apa pun," batin Dika merasa heran sendiri.
Sesekali Mariam mengajak Dika bersenandung. Dika pun tak menolak, sepanjang perjalanan mereka terus saja bersenandung.
Hingga tak terasa sampai pula di kost Mariam. Dia lekas mengemasi beberapa pakaian yang di perlukannya.
Sementara Dika menuggu di motornya, tanpa ada niat kabur sana sekali. Berbeda dengan orang tua, Dika yang terus khawatir padanya. Dia sudah berpikir yang macam-macam.
"Pah, kenapa papah izinkan Dika ikut dengan perawat tersebut? seharusnya papah larang!"
"Mah, biarkan saja. Sebentar lagi juga mereka akan sampai juga di rumah kita."
"Sebentar yang bagaimana? sudah hampir tiga puluh menit kok!"
"Sabar sedikit lagi, mah. Kalau memang mereka tak jua datang , kita kan bisa hubungi lewat ponselnya."
__ADS_1
Keduanya duduk menunggu di teras halaman, hingga sepuluh menit berlalu barulah datang motor matic milik, Mariam.
"Lihatlah, mah. Semua kekhawatiran mamah tidak ada gunanya. Kini mereka telah datang. Suster itu bisa dipercaya."
Kini Ambar bisa bernapas lega setelah melihat kedatangan Dika.
"Suster, boleh nggak jika aku panggil kamu tanpa embel-embel suster?"
"Boleh saja, Mas Dika. Panggil saja, Mariam."
Dika masih tak menghiraukan orang tuanya, dia malah mengajak Mariam masuk ke dalam rumahnya dan menunjukkan kamar tamu untuk, Mariam.
"Mariam, ini kamar untukmu. Semoga kamu kerasan tinggal di rumahku, dan secepatnya aku akan bekerja kembali."
"Alhamdulillah, nah begitu. Aku ikut senang dengarnya."
"Tapi aku ingin kamu tetap merawatku, aku juga ingin mendengar kisah hidupmu lebih banyak lagi. Untuk memotivasi diriku, apakah boleh?"
"Iya, boleh. Tapi misalkan kondisi Mas Dika sudah sehat benar, saya tidak mungkin selamanya ada di sini. Nanti saya bisa kena sanksi dari rumah sakit tempat saya bekerja."
"Hhee, kalau begitu aku akan berpura-pura sakit lebih lama supaya kamu lama pula ada di rumah aku."
"Hah, kok begitu?"
"Hhee nggak kok, Mariam. Aku hanya bercanda."
Mariam menata pakaiannya sedangkan Dika sejenak bkr kamar untuk rebahan.
"Alhamdulillah, akhirnya aku kembali kemari. Bosan juga rasanya tinggal di rumah sakit yang penuh dengan manusia gila."
******
Waktu berjalan begitu cepatnya, sudah seminggu Mariam tingga di rumah Dika. Kini kondisi Dika juga telah pulih, dia sudah bisa aktifitas kembali.
Orang tua Dika sangat bersyukur atas kembalinya Dika seperti dulu kala. Discbshkan tak hentinya mengucapkan terima kasih pada, Mariam.
"Suster Mariam, kami ucapkan terima kasih atas bantuannya sehingga kini anak kami telah pulih kembali."
"Sama-sama, bapak-ibu. Kalau begitu saya pamit kembali ke rumah sakit."
"Mariam, kamu mau kemana?"
'Mas Dika, kebetulan sekali. Aku pamit pergi ya?"
"Kok pergi?"
__ADS_1
"Mas Dika, tugasku untuk merawat Mas sudah selesai. Kini kan Mas Dika telah sehat."
"Nggak, aku nggak akan izinkan kamu pergi dari rumah ini!"