
Ada rasa lega di hati Riky mendengar kejujuran yang terlontar dari mulut, Nia. Dia merasa bahagia karena istrinya tak menutupi jati diri, Dika darinya.
"Kini aku percaya padamu, sayang. Jika kamu benar-benar telah memupus rasa cintamua pada, Dika. Aku minta maaf karena keegoisan aku dulu membuat hubungan rumah tangga kita tak karuan."
"Jika dulu aku tak menyalahkan atas kematian anak kita, mungkin saja aku tak kesusahan seperti ini. Dengan berpura-pura mati dan datang lagi dengan identitas baru."
"Ternyata semuayang terjadi pada rumah tangga kita karena rekayasa, almarhumah Lina. Maafkan aku, Nia. Mulai detik ini dan selamanya aku akan percaya dengan segala apa yang kamu katakan padaku."
"Aku tak ingin melakukan kesalahan yang sama yang pernah aku lakukan dahulu. Aku juga tak ingin kehilangan istri sebaik dirimu."
Penyesalan demi penyesalan terus saja ada di dalam hati, Riky. Dia bahkan berjanji akan merubah segala kelakuan buruknya supaya rumah tangganya selalu harmonis.
Berbeda situasi di rumah Dika, dia sama sekali belum percaya jika Ina adalah anak kandung, Nia. Tetapi jika di lihat sekilas memang wajah Ina mirip dengan Nia.
"Kenapa selalu saja kehidupan aku tak lepas dari sosok, Nia? padahal aku sedang mencoba move on tetapi Nia datang kembali dengan mengaku jika Ina adalah anaknya."
"Mas Dika, kamu kenapa melamun seperti ini? apa yang sedang kamu pikirkan?" tiba-tiba datanglah Mariam membuyarkan lamunan Dika.
"Nggak apa-apa, kok. Hanya merasa kenapa dunia ini sempit. Kita mengadopsi anak yang ternyata anak itu adalah anak, Nia. Bukankah dunia terasa sempit jika begini?"
"Hem, iya juga sih. Aku malah sedang cemas, mas. Bagaimana jika dalam waktu yang di tentukan oleh, Nia ternyata aku tak hamil juga?"
"Sayang, seharusnya kamu tak boleh stres dengan banyak pikiran seperti ini. Tetapi harus yakin dan berserah pada Allah, jika kamu akan hamil. Pasti Allah akan buat indah jalan kita."
"Jika kamu cemas dan khawatir sama saja kamu tak percaya dengan kuasa Allah. Apa yang kamu yakini itu pula yang akan terjadi pada kehidupanmu. Makanya selalu positif tinking supaya hasilnya juga positif."
"Ya juga ya, mas. Baiklah mulai sekarang aku tak kan cemas dan percaya dengan kuasa Allah serta perbanyak doa saja."
"Mah seperti itu baru istrinya, Mas Dika."
Mariam tersenyum tersipu malu mendengar apa yang di katakan oleh Dika. Dia sangat bahagia karena telah di beri suami sebaik Dika. Selama mereka berumah tangga tak ada yang namanya Dika emosi padanya. Dika selalu bijaksana dalam menyikapi setiap permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
__ADS_1
Tanpa Mariam tahu, di dalam diri Dika masih ada sedikit sisa rasa yang tersimpan untuk, Nia. Makanya kerap kali tanpa sepengetahuan Mariam, Dika sering kali mengintai rumah Nia..Dia lakukan itu hanya ingin sejenak bisa melihat wajah ayu mantan kekasih hatinya.
"Sekarang aku sudah tak bisa lagi mengintai, Nia. Sejak aku kepergok oleh suaminya yang galak itu. Padahal aku tak berniat apa pun, hanya ingin sekedar melihat wajahnya saja aku sudah tenang dan nyaman."
"Kini aku sudah tak bisa lagi memandang wajah ayu, Nia. Aku tak ingin kepergok lagi oleh suaminya yang super nyebelin itu."
"Mungkin memang aku sudah seharusnya benar-benar move on dari, Nia. Akan aku coba walaupun terasa susah buatku."
Terus saja Dija menggerutu di dalam hati walaupun saat ini di sampingnya ada istrinya. Akan tetapi pikirannya ada pada, Nia.
*******
Tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya, sudah tiga bulan waktu yang terbuang. Mariam kembali panik, karena waktunya bersama Ina sudah terpotong tiga bulan.
"Sudah tiga bulan berlalu, aku belum juga hamil. Kebersamaan aku dengan Ina tinggal sebilan bulan lagi. Semoga Allah memberi keajaiban padaku untuk bisa hamil." Tukasnya seraya menatap wajah mungil Ina yang sedang terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Nia juga selalu menghitung hari-hari, karena dia juga sudah ingin bersama dengan Ina.
"Mah, aku sedang menghitung waktu."
"Menghitung waktu bagaimana maksudnya?"
"Waktu yang tersisa untuk Ina tinggal di rumah, Mas Dika."
"Nia, jika terus di hitung dan di pikirkan malah akan terasa lama. Biarkan waktu berjalan selayaknya, nak. Nanti kan tak terasa sudah satu tahun berlalu. Jika kamu selalu hitung hari demi harinya, pasti lama sekali."
"Iya juga, mah. Tapi aku benar-benar sudah tak sabar ingin memeluknya. Apa lagi kamu terpisah sejak dia bayi."
"Iya, Nia. Mamah tahu. Tapi jangan sampai karena hal itu membuat kamu melupakan anak-anakmu yang lain. Mereka juga butuh perhatian darimu juga, Nia."
"Iya, mah. Aku tahu itu kok, man mungkin aku melupakan anak-anakku yang lain. Aku akan selalu merawat mereka dengan baik, mah." Nia mencoba meyakinkan mamahnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu.'
Sore menjelang, Riky telah pulang dari kantornya. Dia sudah tak sabar ingin berkumpul dengan anak dan istrinya. Karena kebetulan Nia belum kembali bekerja ke butiknya sejak melahirkan, Fani.
Nia masih asik di rumah bersama anak bungsunya.
"Mas, sudah pulang?" Nia mencium punggung tangan suaminya seraya meraih tas kantor suaminya.
"Sudah sayang, aku kangen sama kalian bertiga," Riky mencium kening istrinya.
"Alhamdulillah, aku punya suami sangat baik. Dia menyayangi anak-anakku layaknya anak kandungnya sendiri. Tak sia-sia aku menerima pernikahan yang terpaksa dulu," batin Nia hingga dia sadar senyam senyum sendiri.
"Sayang, kenapa kamu tersenyum sendiri?" Riky heran melihat istrinya senyam senyum sendiri.
"Hhee nggak apa-apa, mas."
"Hem, apa sedang berpikir yang nggak-nggak ya?" goda Riky.
"Ist, bukanlah mas. Aku cuma sedang senang saja. Karena punya suami yang sangat baik seperti dirimu. Kami menyayangi anak-anak layaknya anak kandungmu. Sampai mereka begitu lengket padamu. Aku sedang berpikir, padahal dulu aku terpaksa menikah denganmu karena di grebek warga. Eh ternyata oh ternyata." Nia tersipu malu.
"Ternyata oh ternyata apa hayo...pasti kamu telah benar-benar jatuh cinta padaku ya?" Riky kembali menggoda istrinya.
"Nia, aku sayang pada anak-anak karena memang mereka adalah anak kandungku. Aku minta maaf ya, Nia. Harus berbohong padamu dengan memakai identitas baru." Batin Riky merasa bersalah.
Riky lekas melangkah ke kamar untuk membersihkan badannya karena dari pagi hingga sore berada di kantor. Dia sejenak berendam di dalam bathup di air yang telah di sediakan oleh, Nia.
Setelah itu dia pun makan sore bersama istri dan mertuanya serta Ronald. Karena kebetulan baby Fani masih tertidur pulas.
Bahagia kini di rasakan oleh Nia dan Riky. Nani juga merasakan hal yang sama, dia merasa tak sia-sia dulu meminta bantuan RT dan warga setempat untuk pura-pura menggerebek Riky dan Nia.
******
__ADS_1