CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Waspada


__ADS_3

Setiap hari, Lina selalu saja mengikuti kemana mobil Riky pergi tanpa sepengetahuannya. Tapi kali ini, Riky memergoki dirinya sedang bersembunyi di mobil di balik pohon besar.


"Itu seperti ada mobil di balik pohon besar, sosok itu seperti aku kenal."


Riky perlahan menghampiri mobil yang tersembunyi di balik pohon besar itu.


Sementara Lina tak mengetahui jika Riky sedang berjalan ke arahnya, karena dia sedang fokus dengan game di ponselnya.


Riky mengetuk kaca mobil tersebut, membuat Lina tersentak kaget.


"Waduh, bagaimana bisa Riky sudah ada di sini?" tanya Lina dalam hatinya.


Riky terus saja mengetuk kaca pintu mobil, Lina. Hingga pada akhirnya, Lina membukanya.


"Ada apa, Riky?"


"Masih pura-pura tanya ada apa? untuk apa kamu memata-matai aku, jadi selama ini kamu sering mengikuti aku ya?"


"Siapa bilang, aku sama sekali tak mengikutimu. Aku di sini karena sedang menunggu seseorang."


Lina mencoba berkilah.


"Ya, seseorang itu adalah aku. Iya, kan?" Riky berkaca pinggang menatap tajam ke arah Lina.


"Kepedean kamu, aku sama sekali nggak sedang menunggumu. Siapa pula yang mau sama pria dingin seperti dirimu ini!"


"Hem, begitu ya? awas saja jika kamu berniat membuat masalah denganku!"


"Apa maksud ucapanku, Riky? kenapa tiba-tiba kamu mengancam aku tanpa ada alasan yang jelas?"


"Aku tidak mengancammu tanpa alasan, setelah mendengar cerita dari almarhum, Rocky. Aku jadi tahu siapa kamu sebenarnya, awas saja jika kamu berniat jahat pada istri dan anak, almarhum Rocky! kamu akan berhadapan denganku!"


Setelah mengucapkan hal itu, Riky berlalu pergi meninggalkan, Lina. Dia berinisiatif mempekerjakan orang untuk selalu menjaga Nia dan Ronald.


"Ini tidak bisa di biarkan! aku harus lebih waspada lagi. Aku akan mengirim orang untuk selalu menjaga anak dan istriku. Sepertinya, Lina sedang punya niat jahat pada keluarganya kecilku."


Riky langsung menghubungi beberapa body guard yang dia kenal.


Riky langsung saja mengajak para body guard tersebut bertemu. Hingga beberapa menit kemudian, Riky sudah bersama beberapa body guard tersebut.


"Bagaimana, bos. Apakah ada tugas baru untuk kami?"


"Ya ada, kalian menjaga tiga orang yang ad di foto ini. Tapi yang tarjet utama kalian jaga adalag wanita yang menggendong anak ini, karena dia yang sedang dalam bahaya."


"Kalian harus selalu waspada yw, karena orang tersebut sangat licik dan dia sering bersembunyi di balik pohon besar."

__ADS_1


"Orang tersebut seorang wanita tetapi dia sangat berbahaya. Jika ada gerak gerik mencurigakan, laporkan padaku ya?"


"Siap, bos. Kami akan benar-benar menjaga mereka."


Setelah mendengar akan hal itu, Riky memberikan separuh gaji mereka terlebih dahulu.


"Ini aku bayar kalian separuh dulu, nanti jika sudah satu bulan aku bayar gaji yang separuhnya lagi."


Ke empat body guard tersebut sangat sumringah mendapatkan gajinya tersebut.


"Wah terima kasih ya, bos.Kami selalu puas jika bekerja sama dengan, bos yang loyal ini."


Saat itu juga ke empat body guard mulai bertugas secara bergantian menjaga keluarga Nia tanpa sepengetahuan Nia.


Hati Riky kini benar-benar lega karena sudah ada yang menjaga istri dan anaknya.


"Alhamdulillah, lega rasanya setidaknya ada yang menjaga istri dan anakku."


Riky melajukan mobilnya arah pulang rumah Rudi. Kini dirinya langsung melakukan ritual mandi sorenya.


Berendam di bathup sambil membayangkan wajah ayu, Nia. Senyam senyum sendiri ingat kala bersama dengan istri dan anaknya. Seketika bayangan itu sirna dari pelupuk matanya, dia pun murung kembali.


"Huh, seandainya saja rasa bahagia ini nyata. Sayang hanya sebuah hayalan makanya hilang sirna begitu saja!"


Riky segera menyudahi mandinya karena dia tak ingin terlalu lama dalam berhayal tentang anak dan istrinya.


"Ya Allah, kenapa di dalam mimpipun aku bertemu dengan anak dan istriku?" Riky memijit pelipisnya yang agak pening.


"Aduh, mau sampai kapan aku harus tersiksa dengan memendam rasa rinduku yang teramat dalam pada istri dan anakku? serasa sudah tak tahan sekali menahan beban di hati ini."


"Tok tok tok"


Selagi dirinya termenung dalam lamunannya, terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Riky lekas beranjak membuka pintu kamarnya tersebut.


"Bro, tak biasanya kamu mengurung diri di kamar sepulang kerja? mukamu kusut banget, kenapa?"


Riky melangkah keluar kamar di ikuti oleh, Rudi. Mereka duduk di kursi teras rumah. Riky menceritakan semuanya pada, Rudi.


"Hem, jadi benar ya? Lina itu masih penasaran denganmu. Kamu pintar juga mengerahkan anak buahmu untuk menjaga keluargamu."


"Hadeh, jadi selama ini aku kamu anggap bodoh?" Riky mengerucutkan bibirnya.


"Hem, nggak banyak kok. Rada bodoh sedikit hhaaa," Rudi malah sengaja menggodanya dengan gelak tawa yang terbahak-bahak.

__ADS_1


Hal ini membuat Riky semakin merasa kesal dengan Rudi. Dia hanya bisa melirik sinis pada sahabatnya tersebut tanpa berkata lagi.


"Bro, kita cari makan yuk?"


Mendengar tawaran tersebut, Riky tiba-tiba teringat akan Nia.


"Sebentar, bro. Aku ingin tanya mamah mertua dulu, apakah Nia sedang ingin makanan atau tidak."


Saat itu juga, Riky menelpon Nani.


"Hallo, mah."


"Kok, mah sih Riky?'


Dia lupa jika dirinya saat ini bukan Rocky melainkan Riky.


"Eh maaf, Tante. Hanya ingin tanya, ini kan waktu makan sore. Apakah Nia ingin makanan? biar aku belikan."


"Hem, tadi sih sempat cerita lagi kepengen siomay pangsit dan kue bolu pandan."


"Ok, mah. Sekarang juga aku carikan dan akan langsung aku kirim pake kurir ya?"


"Iya, Nak Riky. Terima kasih ya."


"Sama-sama, mah. Eh maaf Tante."


Seketika itu juga, Riky mematikan panggilan telponnya dan lekas mengajak Rudi untuk pergi mencari makanan.


Sementara Nani merasa heran kenapa Riky sampai dua kali lupa memanggilnya dengan sebutan, mah.


"Yang biasa memanggilku mah kan , Rocky. Kenapa pula Ricky salah memanggilku? ah masa bodoh dech, yang terpenting dia itu perhatian sama anak dan cucuku."


Nani mencoba menepis rasa curiganya pada, Riky. Dia tak ingin ambil pusing dengan memikirkan hal yang menurutnya tak begitu penting baginya. Nani melanjutkan aktifitasnya menyirami tanaman kesukaannya.


Selagi asik menyirami tanaman, tak berapa lama sudah datang pesanan untuk, Nia.


"Tante, ini pesanannya. Jangan katakan pada Nia jika aku yang telah memberikannya."


Riky memberikan bingkisan berisi makanan pada Nani.


"Baiklah, terima kasih ya Nak Riky."


"Sama-sama, aku lekas pulang ya Tante. Khawatir nanti Nia melihatku malah tak mau makan makanannya."


"Iya, Nak Riky. Hati-hati di jalan ya."

__ADS_1


Riky lekas pulang karena tak ingin di ketahui oleh Nia.


__ADS_2