CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Rocky Muncul Kembali


__ADS_3

Lina sangat sedih dan kecewa karena usahanya benar-benar gagal. Dia tak menyangka jika Rocky akan pergi secepat itu.


Lina terus saja murung dan tak bersemangat untuk menjalani aktivitasnya.


"Semangat hidupku cuma, Rocky. Kini Rocky telah tiada, bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?"


"Aku sudah tak sanggup lagi jalani hidup ini tanpa ada senyuman dari Rocky."


"Padahal sebenrar lagi aku bisa memiliki dirinya seutuhnya. Tetapi malah takdir berkata lain."


Lina terus saja melamun dan mengeluh..Dia benar-benar sudah tak semangat hidup, tetapi jika dia mati bagaimana pula dengan orang tuanya.


Dia sangat sayang pada orang tuanya..Dia juga ingin memberikan pengobatan yang terbaik untuk ayahnya. Selama ini dia menjadi tulang punggung untuk orang tuanya.


Ayahnya terkena penyakit aneh, yang mengharuskan dirinya di rawat terus di rumah sakit. Secara, ibu juga tak bisa bekerja karena harus menjaga ayah. Makanya Lina yang bekerja banting tulang untuk menafkahi orang tuanya.


"Padahal di samping aku cinta pada Rocky. Dia juga bisa membantu ekonomi keluargaku yang sangat susah."


"Ternyata hasil dari butikku juga sedikit apa lagi sekarang ini sepi. Ramai hanya pada saat baru di buka."


"Aku sampai heran, kenapa tiba-tiba semua pelanggan tak pernah datang lagi ke butik bahkan tanpa memberi alasan yang tepat."


Terus saja Lina melamun sendiri memikirkan nasib dirinya untuk kedepannya.


Sementara Nia juga memikirkan masa depannya tanpa ada Rocky.


"Nia, kamu yang sabar ya? aku turut berdukacita, memang ini sangat berat buatmu. Tetapi setidaknya bertahan dan tegar untuk Ronald dan mamahmu."


Mariam mengusap bahu Nia.


"Terima kasih, Mariam. Kamu tahu dari mana jika suamiku meninggal padahal aku sama sekali tak memberi tahumu?"


"Aku tak sengaja lewat depan rumahmu dan melihat ada bendera putih, hingga akhirnya aku memutuskan untuk sekalian kemari."


"Terima kasih sekali lagi ya, Mariam."


Kembali lagi air mata Nia tertumpah begitu saja.


Dia masih belum ikhlas dengan kepergian suaminya. Padahal suaminya telah di kuburkan.


"Nia, apa yang temanmu katakan ini ada benarnya. Kamu harus kuat demi Ronald dan mamah. Jika terjadi apa-apa padamu, lantas bagaimana dengan kami?"


Nani juga mencoba memberi support pada anaknya.


"Iya, mah. Insa Allah, aku akan kuat kok. Mamah tak perlu khawatir."

__ADS_1


******


Sore menjelang, Mariam telah pulang ke rumah. Dia masih ikut merasakan kesedihannya. Dia duduk termenung memikirkan Nia.


"Aku bisa merasakan apa yang saat ini Nia rasakan. Karena kami sama-sama di tinggal oleh orang yang sangat kami cintai."


"Nia, malang benar nasibmu harus mengalami hal yang sama seperti aku. Bedanya aku baru kekasihku, sedangkan kamu, Rocky sudah menjadi suamimu. Pasti lebih perih yang kamu rasakan dari pada aku."


Dika melintas di hadapan Mariam dan duduk di sebelahnya. Mariam sama sekali tak menyapa Dika, karena kini pikirannya entah sedang ada di dunia antah berantah mana.


"Mariam, kenapa kamu dari tadi melamun?"


Dika menegur dengan menepuk bahu Mariam.


"Mas Dika, bikin kaget saja."


Mariam terlonjak kaget.


"Bukan salahku, aku hanya nggak ingin kamu terus melamun. Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?"


Mariam menceritakan semua pada Dika tentang meninggalnya Rocky. Dan tentang keseduhsn yang di alami oleh Nia .


"Inalillahi wa innailaihi rojiun, jadi suami Nia meninggal dunia? kasihan sekali dia, harus menjadi janda dua kali," batin Dika merasa iba pada mantan pacarnya.


"Mas, aku tak bisa membayangkan betapa pilunya Nia."


"Iya, kasihan juga temanmu itu."


"Iya, mas. Tadi saja aku sampai ikut terharu pada saat melihatNia terus saja menangis."


Dika semakin merasa iba mendengar berita tentang Nia. Ingin rasanya saat itu juga dia datang ke rumah Nia dan memberikan pelukannya pada Nia. Tapi itu jelas takkan mungkin.


Dika hanya bisa menggerutu di dalam hatinya saja.


**********


Berjalannya waktu cepat sekali, tak terasa sudah empat puluh hari dari hari meninggalnya Rocky. Kini Nia mulai beraktivitas kembali.


Selagi dia akan berangkat ke butiknya, tiba-tiba dia merasakan mual dan tiba-tiba dia ingin muntah.


"Hoek hoek hoek"


"Ya Allah, apakah aku hamil lagi? di saat aku baru saja kehilangan suamiku?"


Nia pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dan apa yang sempat dia pikirkan kini menjadi kenyataan. Dia benar-benar di nyatakan hamil.

__ADS_1


"Ya Allah, apa aku mampu jalani kehamilan ini seorang diri tanpa ada suamiku?"


Nia melanjutkan perjalanannya menuju ke butiknya. Walaupun saat ini dia merasakan kepala sangat sakit. Perut mual terus Tetap India tak menyerah hanya karena hal tersebut.


Dia tetap bekerja karena saat ini dia menyandang status single parents. Jadi jika dia bermalas-malasan, itu tidak akan baik.


Sementara di suatu tempat, Rocky sudah tak sabar ingin keluar dari tempat persembunyiannya.


"Rudi, sudah empat puluh hari. Apa sebaiknya aku segera keluar?"


"Hem, boleh dech. Tapi kamu hati-hati ya, jangan sampai kamu keceplosan tentang jati dirimu yang sekarang. Namamu bukan lagi, Rocky melainkan Riky."


"Baiklah, Rudy. Terima kasih telah membantu aku. Aku juga ingin tahu apakah Lina benar-benar hamil atau hanya sekedar tipu muslihat."


"Memangnya kamu akan berurusan lagi dengan Lina? bukankah kamu melakukan semua ini juga demi menjauhi Lina kan?"


"Ya, tapi setidaknya aku bisa meminta orang untuk melakukan penyelidikan padanya. Jkat memang dia berbohong, aku akan membuat perhitungan dengannya."


"Oh begitu, ya sudah terserah kamu saja. Lantas apa kamu akan memecat ku setelah ini?"


"Memecat, ya tidaklah. Kira kan sahabat, kamu masih bisa tetap bekerja di kantorku. Aku akan meminta dirimu memimpin kantor baru aku, bagaimana?"


"Baiklah, kasih begitu."


"Oh iya, bagaimana kabar istri dan anakku?"


"Mereka saat ini baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir."


"Sekali lagi terima kasih ya, Rud. Kamu telah membantu ku banyak hal."


"Tak usah sungkan, karena kita kan sahabat."


Rudy dan Rocky saling berpelukan saling menepuk punggung. Mereka memang sahabat baik sejak masa sekolah hingga kini. Hanya saja Rudy masih betah hidup menyendiri. Dia tripikal pria yang sangat dingin dengan kaum hawa.


Kini Rocky tengah berencana datang ke rumah Nia. Dia di temani oleh, Rudy.


"Pokoknya jangan sampai terbongkar kebohongan kita di depan Nia."


Rudy menasehati.


"Baiklah, Rudi. Aku akan bermain secantik mungkin."


Rudy lantas melajukan mobilnya menuju ke rumah Nia. Dan tak berapa saat mereka telah sampai di depan pintu gerbang rumah tersebut.


Sang asisten rumah tangga langsung membukakqn pintu rumah.

__ADS_1


__ADS_2