CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Rasa Penasaran Nia


__ADS_3

Sementara Nani lekas membawa makanan itu masuk.


"Mah, sudah datang pesanannya? kok cepat sekali gojeknya ya?"


Nia tahunya, Mamah Nani pesan makanan pakai gojek.


"Iya, Nia. Yuk di makan pesananmu, pasti anakmu kan sudah ingin makan."


Keduanya masuk ke dalam rumah, untuk menikmati pesanan makanannya. Karena kebetulan, Riky memesan tidak hanya untuk Nia saja. Tetapi untuk mamahnya pula.


"Mah, memangnya ikut pesan juga ya?"


"Iya, Nia. Karena kamu nggak pesanin untuk mamah jadi mamah pesan lagi." Tukas Nani berbohong.


"Maafkan, mamah ya Nia. Terpaksa bohong padamu," batin Nani ada rasa sedikit bersalah pada, Nia.


"Sebenarnya aku ingin sekali membuat Nia dekat dengan Riky. Aku rasa Riky pria yang baik. Tetapi sifat Nia yang sangat keras kepala yang membuatku susah untuk membujuknya."


"Mah, kok malah bengong sih? kenapa nggak di makan?"


Nia menepuk lengan Nani Hingai dirinya terlonjak kaget.


"Nia, bikin kaget mamah saja."


"Kan mamah yang dari tadi melamun saja. Memangnya apa yang sedang mamah pikirankan?"


"Hem, nggak ada kok. Kamu saja yang buat mamah kaget."


Nia hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Kini keduanya melahap makanan tersebut. Akan tetapi hati Nani tetap tak tenang.


Sementara saat ini, Lina sudah tak berani lagi mengamati rumah Nia sejak kepergok oleh Riky.


"Bagaimana aku bisa mengamati Riky lagi jika seperti ini? karena pasti nanti Riky tahu kedatangan aku. Hem, aku harus membayar orang lagi untuk menjalankan aksiku ini."


"Sebaiknya aku juga harus menyingkirkan, Nia. Supaya Riky tak lagi datang ke rumah, Nia. Hanya ini jalan satu-satunya supaya aku bisa mendapatkan cinta Riky sepenuhnya."


Lina akan melancarkan aksi jahatnya kembali untuk menyingkirkan Nia. Dia tak kapok dengan kejahatan yang pernah dia lakukan dulu. Sebelum dia berhasil mendapatkan apa yang di inginkan olehnya, dia tak kan berhenti berbuat jahat.

__ADS_1


Lina meminta beberapa anak buahnya untuk melancarkan aksinya. Dia segera menelpon anak buahnya.


"Ada tugas baru apa nih, bos?"


"Tugas yang sangat gampang, melenyapkan seorang wanita. Pasti kalian berdua sanggup melakukannya."


"Baiklah, bos. Mana foto wanita tersebut dan dimana alamat rumahnya supaya kami bisa lekas menyelesaikan tugas dari, bos."


Saat itu juga Lina mematikan panggilan telponnya, dia pun lekas mengirimkan foto Nia dan alamatnya pada chat pesan ke nomor ponsel anak buahnya.


"Hem, aku yakin kali ini rencanaku tidak akan gagal lagi. Nikmati saja masa terakhirmu, Nayla atau Nia."


Tersungging senyuman sinis di bibir, Lina. Dia sudah berpikir jika rencana jahatnya tersebut akan segera terlaksana.


Seketika itu juga, dia anak buah Nia langsung menuju ke rumah Nia. Dia mengamati rumah Nia dari balik pohon besar. Hal ini sempat terbaca oleh anak buah, Riky. Salah satu dari mereka menelpon, Riky.


"Bos, wanita yang sempat bos curigai sudah tak pernah datang. Tetapi hari ini ada dua orang pria yang gerak geriknya sangat mencurigakan. Mereka mengamati rumah tarjet, bos."


"Jika begitu, kalian harus lebih waspada lagi. Biasa jadi dua pria tersebut adalah anak buah dari wanita tersebut. Kalian jangan sampai lengah. Jika perlu tangkap basah mereka berdua supaya aku bisa meringkus dalang utamanya dan membawanya ke kantor polisi."


Saat itu juga panggilan telpon di matikan dari dua belah pihak. Kini ke empat anak buah, Riky mengamati gerak gerik dua anak buah, Lina.


Dan pada saat Nia berniat akan kontrol kandungan, baru saja dia keluar dari pintu gerbang dengan melajukan mobilnya. Dua pria anak buah Lina langsung berdiri tegak di depan laju mobil, Nia. Sehingga terpaksa Nia menghentikan laju mobilnya.


"Siapa mereka berdua? kenapa pula menghadang jalanku? semoga saja mereka tidak berniat jahat padaku."


'Nona, tolong turun sebentar saja. Kami ingin meminta bantuan dari nona." Tukas salah satu pria tersebut.


Sebenarnya Nia agak ragu melihat perangai kedua pria yang ada di hadapannya. Akan tetapi dia takkan bisa pergi jika kedua orang tersebut masih saja menghalangi mobilnya.


Nia membuka kaca mobilnya, dia sama sekali tak turun dari mobilnya karena ada rasa ragu dengan dua pria tersebut.


"Ada apa ya, mas?"


"Nona, bisalah keluar dari mobil sebentar saja? jika anda masih ada di dalam mobil, kami tak bisa minta tolong dengan nyaman."


"Katakan saja, nanti jika aku bisa pasti akan tolong kalian kok."

__ADS_1


Nia tetap berada di depan kemudinya dengan hati mulai tak menentu.


Hingga akhirnya kedua pria anak buah, Lina sudah tak bisa menahan rasa amarahnya lagi. Salah satu dari mereka bahkan melempar kaca mobil bagian depan dengan batu. Niaulsi tampak ketakutan.


Di saat seperti ini, empat anak buah Riky langsung datang menyergap dia orang ini kemudian memukulinya hingga babak belur. Satu lawan dua.


Satu anak buah Lina melawan dua anak buah Riky. Otomatis kedua anak buah Lina kalah telak dan keduanya lantas di ikat kedua tangannya di balik punggungnya.


"Nona Nayla, silahkan anda lanjutkan lagi perjalanannya. Biarkan kami yang mengurus dua cecunguk ini."


Namun Nia bukannya lekas pergi tetapi malah penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh ke empat anak buah Riky terhadap kedua anak buah, Lina.


"Memangnya kalian akan apakan mereka?" Nia memicingkan matanya.


Namun pertanyaan dari Nia sama sekali tak di jawab. Keempat anak buah Riky hanya diam saja. Dengan gerak cepat salah satu dari mereka menelpon Riky.


"Bos, dua cecunguk ini sudah kami ringkus pada saat akan mengganggu, Nona Nayla."


"Baguslah, aku akan segera kesana dengan membawa polis. Kalian jaga baik-baik supaya dia tidak lepas begitu saja."


"Siap, bos."


Saat itu juga Riky langsung menelpon aparat polisi, dia juga langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah, Nia.


Sementara Nia semakin penasaran.


"Dia menelpon dengan bosnya, lantas siapa bos dari keempat orang tersebut, dan dari dua orang yang di tangkap ini?" tanya Nia di dalam hati.


Nia malah tak ingin melanjutkan untuk kontrol, dia merubah jam janjinya dengam dokter kandungannya. Dia katakan ada hal penting yang harus dia kerjakan hingga harus cansel jam kontrol kandungan.


"Untung dokter yang menangani kandung aku adalah teman semasa sekolahku dulu sehingga aku tak repot untuk menjelaskan kenapa aku mendadak merubah jam kontrol kandungannya."


"Aku ingin tahu siapa di balik dua orang pria itu dan siapa di balik empat orang yang menolong aku."


"Jika aku belum tahu pasti akan terus merasa penasaran, sebaiknya aku tunggu saja di sini hingga bos empat orang tersebut datang kemari."


Batin Nia menggerutu.

__ADS_1


__ADS_2