
Dika tetap saja tak percaya dengan perkataan psikiater tersebut, dia begitu kesal pada orang tuanya.
"Pah-mah, kalian sungguh keterlaluan sekali! masa sama anak sendiri menganggap gila! aku waras, sehat!"
Dika berlalu pergi dari klinik tersebut dengan perasaan yang sangat marah.
"Pah, bagaimana ini? kalau Dika minggat dan nekad bagaimana?"
"Sudahlah, mah. Tak usah khawatir, paling saat ini Dika sedang ada di mobil. Dia nggak akan berani pulang sendiri."
"Sebaiknya mamah tengok dulu ya, pah."
Ambar pun berlari kecil mengejar kepergian Dika. Dan apa yang di katakan oleh, Andre ada benarnya. Saat ini Dika sedang duduk bersandar di dalam mobil dengan memijit pelipisnya
"Alhamdulillah ya Allah, ternyata anakku tidaklah pergi. Tapi aku akan tetap di sini mengawasinya karena khawatir akan terjadi hal yang tak di inginkan."
Sementara Andre bertanya banyak hal pada temannya yang seorang psikiater tersebut.
"Bagaimana kondisi anakku, Mike?"
"Sebenarnya anakmu itu sehat saja, hanya dia terguncang jiwanya karena dia sangat mencintai wanita tersebut."
"Seharusnya kalian jangan pernah melarang hubungan percintaannya selama wanita tersebut wanita yang baik. Jalan satu-satunya, supaya Dika bisa kembali seperti sediakala ya pertemukan dengan wanita tersebut."
"Itulah, Mike. Aku sama sekali tak tahu saat ini dimana keberadaan, Nia. Jika kami tahu pasti kami akan mengesampingkan ego kami, demi anak kami."
"Kalau tidak kalian coba hibur dia dengan sering mengajak nya healing atau melakukan aktifitas yang Dika suka."
Setelah cukup lama konsultasi dengan Mike, Andre lekas melangkah pergi karena Ambar sudah berkali-kali mengirimkan chat pesan pada nomor ponselnya.
Tak lupa Mike memberikan resep obat penenang, untuk di konsumsi oleh Dika jika pada saat Dika sedang dalam kondisi emosi.
"Dika, kami minta maaf ya. Kami sama sekali tak menganggap kamu itu gila. Hanya kami inginkan kamu itu sehat seperti sediakala."
"Apa bedanya? sama sajalah!"
Dika sangat kesal dengan tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya.
"Semua ini juga karena ulah mamah dan papah. Jika kalian tak menghalangi hubunganku dengan, Nia. Semua takkan menjadi seperti ini!"
"Kalian puas kan? saat ini aku sudah tak bersama dengan, Nia. Ini kan yang dari dulu kalian harapkan!"
Setelah mengucapkan banyak hal, Dika pun diam tak bergeming. Matanya terus saja berkaca-kaca.
__ADS_1
"Hanya karena kalian dendam pada almarhum papah, Nia. Kalian memusuhi Nia yang hanya korban dari keegoisan almarhum papahnya!"
"Intinya, kalian juga egois! hanya mementingkan balas dendam kalian saja tanpa memikirkan perasaanku! seharusnya kalian bisa mengerti perasaanku, karena kalian juga pernah muda, pernah mengalami hal yang sama seperti aku!"
Kembali lagi Dika mengoceh panjang lebar untuk menumpahkan rasa sakit hatinya pada orang tuanya yang telah membawa dirinya ke psikiater.
Hingga dia merasa lelah sendiri dan pada akhirnya tertidur di dalam mobil. Akan tetapi dia sempat bermimpi bertemu dengan, Nia.
Mimpi yang baginya sangat indah, dimana dia bisa bersama dengan Nia. Hingga sampai di halaman rumah, Dika masih saja tertidur dengan nyenyaknya.
"Pah, apa kita bangunkan Dika atau tidak usah?" bisik Ambar lirih.
"Biarkan saja dia seperti itu, jangan ganggu istirahatnya."
Ambar dan Andre membuka pintu mobil dengan sangat pelan karena khawatir mengagetkan Dika.
Hingga sore menjelang barulah, Dika terbangun dari tidurnya. Dia pun lekas beranjak keluar dari mobilnya dan menuju ke kamarnya.
Dika melakukan ritual mandi sorenya seraya teringat dengan mimpinya barusan.
"Aku pikir semua ini nyata, tapi ternyata hanyalah sebuah mimpi saja. Padahal aku sudah sangat senang sekali."
"Aku harus bagaimana lagi, sudah sekian lama tapi aku belum juga bisa melupakan, Nia."
Dika terus saja menggerutu di sela mandi sorenya.
"Tok tok tok"
"Dika, boleh mamah masuk?"
Kebetulan Dika sudah selesai mandi, hingga dia mengizinkan mamahnya masuk.
"Masuklah, mah."
"Dika, papah menunggumu di ruang makan. Kita makan sore bersama."
"Maaf, mah. Aku belum lapar, jadi mamah dan papah saja yang makan dulu."
"Dika, dari siang kamu itu belum makan. Kamu tertidur di mobil dalam waktu yang cukup lama. Jadi jangan kamu katakan belum lapar. Mamah nggak ingin kamu sakit, ayok kita makan."
Dengan sangat terpaksa, Dika melenggang lemas mengikuti mamahnya ke ruang makan.
Akan tetapi Dika hanya duduk diam tanpa menyentuh makanan yang telah tersaji di piringnya. Dia hanya sesekali meminum air putih saja.
__ADS_1
"Dika, makanlah! apa masakannya orang cocok? kamu ingin makan apa, biar papah pesankan grabfood."
"Nggak usah, pah. Terima kasih. Ini saja sudah cukup."
Dika menyuapkan makanan sedikit demi sedikit ke mulutnya. Walaupun dia sama sekali sedang tak ingin makan.
"Dika, ini ada vitamin untukmu. Untuk menjaga stamina tubuhmu, karena akhir-akhir ini kamu kan susah banget makannya."
Andre memberikan satu pil pada Dika.
Akan tetapi Dika sama sekali tak menerima pil tersebut.
"Pah, aku bukan anak kecil lagi yang mudah papah bohongi dengan permen."
"Dika, kamu ini ngomong apa sih?"
"Pah, ini bukan vitamin kan? ini obat dari psikiater itu! papah tak usah membohongi aku!"
"Aduh, bagaimana dia tahu tentang hal ini? padahal pada saat, Mike memberikannya tidak ada Dika kok ya?" batin Andre gelisah.
"Dika, itu murni vitamin. Papah membelinya bersama mamah. Janganlah kamu curiga seperti ini, nak."
"Sudahlah, mah. Aku sama sekali tak butuh obat apapun! aku butuh adanya, Nia! hanya dia penyemangat hidupku, yang mampu membuat hari-hariku berwarna dan indah."
"Tak seperti saat ini, aku kesepian dan serasa tak bersemangat sama sekali."
Kembali lagi orang tua, Dika tak bisa bergeming dan hanya saling pandang satu sama lain. Mereka bigung harus bagaimana lagi untuk bisa meyakinkan Dika supaya mau meminum pil pemberian dari psikiater.
Dika beranjak bangkit, dia pun kembali ke kamarnya lagi.
"Mah, ini pil bagaimana? Dika sana sekali tak mau meminumnya?"
"Entahlah, pah. Mamah sendiri juga bingung, harus bagaimana lagi cara menghadapi Dika."
"Semua cara telah kita coba, tetapi dia masih saja belum bisa kembali seperti sedia kala."
"Pah, apa kita mencoba mencari Nia lagi? siapa tahu kali ini pencarian kita berhasil."
"Tapi kita akan mencarinya dari mana?"
"Ya kita coba datangi lagi rumahnya. Siapa tahu kali ini, Nia ada di rumah nya."
"Mah, apa kamu lupa? jika sebelumnya kita beberapa kali ke rumah, Nia. Dan ternyata rumah sudah di jual ke orang lain. Jadi percuma saja jika kita masih saja mencarinya ke sana."
__ADS_1
"Lantas kita mau bagaimana lagi?"