CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Tertangkapnya Lina


__ADS_3

Tak berapa lama, datanglah Riky bersama dengan beberapa aparat polisi. Segera kedua pria anak buah, Lina di bawa ke kantor polisi.


"Bagus, aku suka cara kerja kalian. Nanti aku pasti akan beri bonus untuk kalian. Salah satu dari kalian ikut aku ke kantor polisi untuk jadi saksi."


"Jadi Riky bos empat pria itu?" batin Nia sedikit heran.


"Nia, jika kamu bersedia sekalian saja kamu ikut kami ke kantor polisi untuk jadi saksi." Pinta Riky.


"Hem, boleh."


"Kamu ikut dengan mobilku saja, bagaimana? nanti pulangnya aku antar."


"Baiklah, Mas. Aku parkir dulu mobilnya ke garasi sebentar ya?'


Sementara Nia melajukan mobilnya masuk rumah kembali. Aparat kepolisian sudah jalan terlebih dahulu ke markasnya.


Nani yang sempat melihat mobil Nia masuk menjadi penasaran dan menghampiri Nia.


"Nia, kamu kok sudah pulang kontrolnya? loh sama Riky?"


"Mah, aku jelaskan nanti saja ya kalau sudah pulang. Aku mau pergi sama, Mas Riky dulu."


Nia langsung melangkah menuju ke luar gerbang bersama Riky.


Riky hanya mengulas senyuman pada Nani. Dia pun lekas melangkah menyusul Nia yang sudah menunggu di dekat mobil Riky.


"Hem, mereka kok terlihat aneh ya? apa mungkin Nia akan kontrol di temani oleh Riky? apa mungkin Nia sudah bisa membuka hatinya untuk, Riky? ah kok aku jadi semakin penasaran?" di dalam hati Nani di penuhi dengan tanda tanya.


Namun dia mencoba menepis rasa itu, dia akan menanyakan rasa penasarannya nanti jika Nia telah kembali ke rumah.


Selama dalam perjalanan menuju ke kantor polisi, baik Nia maupun Riky hanya diam saja. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tak ada saling tegur sapa, hanya ada gerutuan di dalam hati masing-masing.


"Nia, apa kamu tak tahu jika aku saat ini sangat rindu padamu. Ingin aku memeluk dan bercanda ria denganmu. Kenapa kamu nggak bisa merasakan apa yang saat ini aku rasakan? hanya Ronald saja yang peka jika aku ini adalah, Rocky. Kenapa kamu tak pernah bisa merasakan keberadaan Rocky di sisimu, Nia. Kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku, Nia?"


Begitu banyak pertanyaan yang ada di hati Riky yang ingin sekali dia katakan untuk Nia.


"Mas Riky, kadang aku merasa kamu itu Almarhum Mas Rocky. Tetapi aku enggan katakan ini karena aku tak mau membuatmu besar kepala."


Tak berapa lama, mereka telah sampai di kantor polisi.


"Silahkan duduk Nona Nayla dan Tuan Riky. Kami sengaja belum menginterogasi kedua orang tersebut karena menunggu kedatangan kalian berdua."

__ADS_1


"Kami hanya menginterogasi salah satu anak buah anda, Tuan Riky."


Tukas salah satu aparat polisi yang sedang bertugas. Lalu dia bertanya banyak hal pada, Nia selaku saksi. Nia pun bercerita apa adanya tentang dua orang pria tersebut yang tiba-tiba menghadang laju mobilnya.


Salah satu aparat polisi yang lain menulis semua laporan Nia dengan memasukkan data ke laptopnya.


Setelah itu, barulah aparat polisi memanggil dua tersangka untuk dimintai ketey lebih lanjut mengenai apa yang telah mereka lakukan.


"Kalian harus jawab dengan jujur jika tak ingin mendapatkan hukuman yang berat!" bentak salah satu aparat polisi.


"Apa maksud kalian menghadang laju mobil, Nona Nayla?"


"Kami hanya melakukan tugas dari bos kami," jawab salah satu dari dua pria tersebut.


"Hem, jadi ada orang di balik kalian berdua. Sebutkan nama, alamatnya. Jangan berbohong pada kami, karena kami tak pernah berbohong dengan ancaman kami!"


Sejenak kedua pria tersebut saling berpandangan satu sama lain, seolah ingin meminta persetujuan. Lantas salah satu pria tersebut berbisik pada salah satu temannya.


"Bagaimana ini, apakah kita katakan siapa sebenarnya bos kita?" bisiknya.


"Sebaiknya kita katakan saja, supaya hukuman kita tidak terlalu berat. Lagi pula untuk apa menutupi dia, sementara dia asik bebas tetapi kita di penjara. Biar dia juga merasakan dinginnya penjara juga," balas temennya berbisik.


Nia yang sempat mendengarnyw sempat terhenyak kaget.


"Apa, jadi Lina dalang di balik dua orang tersebut? lantas untuk apa pula, Lina berniat jahat padaku?" batin Nia di penuhi tanda tanya.


"Nia, kamu tak perlu heran. Nanti kamu juga tahu apa yang ada di otak , Lina.' Tukas Riky lirih.


"Apakah kamu sudah tahu jika semua ini ulah, Lina?" tanya Nia lirih.


"Hem, aku tidak tahu. Hanya aku sempat curiga padanya, saat aku tak sengaja melihat Lina mengamati rumahmu dari balik pohon besar. Makanya aku memerintahkan empat orang anak buahku untuk selalu waspada di sekitaran rumahmu." Jawab Riky lirih.


Saat itu juga aparat polisi mendatangi Lina di butiknya. Lina yang sempat melihat kedatangan beberapa aparat polisi sempat heran. Dia sana sekali tak tahu apa maksud dan tujuan para polisi datang ke butiknya.


"Maaf, apa anda yang bernama Saudari Lina?" tanya salah satu aparat polisi.


"Iya, pak. Saya sendiri, Lina. Memangnya ada perlu apa ya, bapak mencari saya?" Lina memicingkan alisnya.


"Kami mendapatkan surat penangkapan untuk anda, dengan tuduhan ingin mencekalai , Nona Nayla."


"Maaf, pak. Saya tidak pernah berbuat apa pun terhadap, Nayla. Saya stand by selalu di butik ini." Lina mulai mengelak.

__ADS_1


"Memang anda stand by, tetapi anda meminta dua anak buah anda untuk melakukan perintah anda."


Lina mulai gelapan mendengar akan hal itu, dia sama sekali tak menyangka jika dua anak buahnya tertangkap.


"Sebaiknya anda lekas ikut kami, dan anda bisa jelaskan semuanya di kantor."


Dengan paksa dua aparat polisi mencekal lengan kanan dan kiri, Lina. Dia sudah tak bisa berkutik lagi.


"Bagaimana mereka bisa tertangkap dengan mudahnya. Dan siapa pula yang berhasil menangkap mereka?" batin Lina di penuhi dengan tanda tanya.


Tak berapa lama, Lina sampai juga di kantor polisi. Dia terhenyak kaget pada saat melihat ada, Nia dan Riky.


"Jadi kalian yang melaporkan aku?"


"Bukan, kami. Tapi hanya aku saja, Nayla sama sekali tak tahu menahu soal ini. Justru aku yang melaporkanmu."


"Bagaimana Riky tahu rencanaku ini?" batin Lina heran.


"Kamu tak perlu tahu bagaimana aku bisa tahu rencana jahatmu. Karena sebelumnya kamu juga telah berbuat jahat pada, Almarhum Rocky, saudara kembar aku!"


Nia semakin tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh, Riky. Dia menatap Riky penuh dengan tanda tanya.


Ingin rasanya dia bertanya banyak hal, tetapi dia mengurungkannya karena ada di kantor polisi.


Lina di mintai keterangan macam-macam oleh aparat polisi. Dia pun kini berkata jujur.


"Jadi, anda ingin menyingkirkan Nona Nayla karena Tuan Riky dekat dengannya?"


Nia semakin tak mengerti dengan semua itu.


"Lina, kenapa kamu jahat sekali padaku?"


"Karena aku tak suka kamu selalu merebut orang yang aku cinta! dulu kamu rebut, Rocky! dan kini kamu akan rebut, Riky! kamu serakah, Nayla!"


Nia mengernyitkan alisnya mendengar pengakuan jujur dari mulut, Lina. Dia sama sekali tak menyangka jika ternyata selama ini, Lina suka pada almarhum Rocky.


"Jadi kamu menghasut para pelanggan butik aku juga karena kamu dendam dan iri padamu?"


"Iya memang aku sengaja melakukan hal itu!"


Kini Lina sudah tak malu lagi mengakui kebusukannya di hadapan aparat hukum dan Nia maupun Riky.

__ADS_1


__ADS_2