
Sementara saat ini, Lina sedang mendirikan sebuah butik kecil tepat di samping rumahnya.
Dia sama sekali tidak ada rasa bersalah pada, Nia. Bahkan semakin menghasut para pelanggan Nia supaya berpindah pada dirinya.
"Ibu-ibu, mohon maaf jika saya meminta kalian semua untuk hadir kemari. Saya hanya ingin menjelaskan yang terjadi waktu lalu."
"Saya hanya seorang karyawati biasa yang menuruti apa perintah atasan. Tetapi setelah saya turuti saya malah di pecat secara tidak terhormat seperti ini."
"Ibu-ibu, saya membuka butik kecil-kecilan sendiri. Harga standar tak seperti harga di butik, Bu Nayla."
"Saya jamin, kwalitas barang juga sama. Tidak ada yang berubah, hanya perbedaan harga dan pemiliknya saja."
Ibu-ibu langganan Nia kini termakan hasutan dari Lina. Mereka beralih membeli pakaian di butik yang di dirikan oleh, Lina.
Hampir semua pelanggan yang ada di butik A pindah haluan, membuat butik milik Nia sepi tanpa pembeli sama sekali.
"Loh, kenapa tidak ada satupun pelanggan datang kemari, Astri?"
"Jadi ibu belum tahu ya? jika Lina telah membuka sebuah butik di samping rumahnya dengan harga dibawah kita, bahkan semua pelanggan di butik ini pindah ke butik, Lina."
"Apa, saya malah tidak tahu menahu tentang hal ini. Terima kasih atas informasinya ya, Astri."
"Iya, Bu. Sama-sama."
Saat itu juga Nia menyambangi butik milik, Lina yang terletak di samping rumahnya.
"Prok prok prok"
Nia bertepuk tangan pada saat melihat Lina sedang melayani para pelanggan yang sebenarnya adalah langganan tetap milik butik Nia.
"Bu Nayla, suatu kehormatan jika ibu datang ke butik yang baru saya dirikan ini. Bukan maksud saya ingin menyaingi usaha ibu, tetapi saya nggak tega dengan para pelanggan yang harus membeli barang dengan harga yang sangat mahal. Padahal mereka kan langganan lama di butik, ibu."
"Lina, kamu pintar sekali memutar balikkan fakta. Ibu-ibu asal kalian tahu, saya mempercayakan butik saya sepenuhnya pada, Lina. Tetapidia malah menyalahkan gunakan kepercayaan saya."
__ADS_1
"Saya sama sekali tidak pernah memerintahnya untuk menaikkan harga pasaran di butik. Dia menaikkannya sendiri."
"Bukan hanya itu, uangnya juga di korupsi olehnya, makanya dia bisa mendirikan butik ini. Dan dia malah memutar balikkan fakta seolah saya yang melakukan ini semua."
Semua pelanggan terperangah saat mendengar penuturan dari, Nia. Satu sama lain saling berpandangan seolah bingung mau percaya dengan siapa.
"Bu Nayla, kenapa ibu memfitnah saya? saya mendirikan butik ini juga uang hasil tabungan saya sendiri. Bukan dari hasil tipu menipu seperti yang ibu katakan."
"Saya tidak pernah memfitnahmu, saya hanya berkata sesuai dengan kenyataan. Saya tidak akan memaksa ibu-ibu percaya dengan saya. Tapi kebenaran suatu saat akan terkuak."
Setelah mengatakan hal tersebut, Nia berlalu pergi meninggalkan butik milik, Lina. Dia sudah tidak memiliki rasa dendam atau marah pada, Lina. Dia sudah mengikhlaskan semuanya.
Bahkan tak menuntut ganti rugi akan apa yang telah di lakukan oleh Lina padanya.
Sementara ibu-ibu pelanggan dari butik Nia menjadi gundah gulana setet mendengar apa yang dikatakan oleh, Nia. Ada beberapa yang mengurungkan niatnya untuk membeli pakaian di butik, Lina.
"Sialan, gara-gara kedatangan Nayla. Ada beberapa yang membatalkan membeli di sini. Awas kamu, Nayla. Aku tidak akan tinggal diam, aku akan menuntut balas!"
"Aku juga belum puas karena belum berhasil mendapatkan, Rocky. Aku akan berusaha lebih keras lagi."
Sepulang dari butik Lina, Nia memutuskan untuk pulang ke rumah karena merasa lelah.
"Huft, beberapa bulan ini banyak sekali masalah terjadi di butik A gara-gara, Lina. Untuk sementara waktu aku tutup dulu butiknya dan aku pindahkan saja para karyawanku ke dua butik di pusat kota.".
"Melihat kondisi aku yang sekarang mudah cape seperti ini. Aku nggak ingin terlalu cape mondar-mandir mengecek butik yang di pusat kota lalu ke butik A."
Kehamilan yang sudah memasuki umur jalan delapan bulan, membuat Nia mudah cape. Dia memutuskan untuk menutup sementara butik A.
"Sayang, aku samperin kamu di butik A kata para karyawan susah balik ke rumah."
"Iya, mas. Aku merasa lelah jadi pulang, dan aku juga memutuskan untuk memindahkan para karyawan di butik A ke butik pusat kota."
"Apa ini semua gara-gara ulah, Lina?"
__ADS_1
Sejenak Nia menceritakan semua pada Rocky. Bagaimana dia mendatangi butik baru milik Lina pula. Dan segala kata-kata yang di lontarkan oleh Lina padanya.
"Sayang, aku jadi semakin merasa bersalah padamu. Karena aku kamu jadi rugi dan terpaksa menutup salah satu butikmu."
"Aku akan mendatangi, Lina supaya dia mempertanggung jawabkan semua ini."
Pada saat Rocky akan berlalu pergi, Nia melarangnya.
"Mas Rocky, tak perlu. Biarkan saja Lina seperti itu. Terpenting sekarang aku sudah memecat dia. Aku yakin, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Kita tak perlu bersusah payah untuk membalasnya, biarkan tangan Allah yang bekerja."
"Tapi, sayang. Jika tidak di tindak lanjuti, Lina akan menjadi besar kepala dan tak kunjung jera."
"Mas, percaya saja padaku. Allah akan memberikan hukuman setimpal yang membuatnya jera. Hanya kita tak tahu kapan waktu itu akan datang. Entah cepat atau lambat hanya Allah yang tahu."
"Aku hanya ingin minta tolong saja padamu. Menyampaikan pada karyawati yang ada di butik A untuk pulang pindah ke dua butik yang ada di pusat kota.'
'Baiklah, sayang. Ku tak perlu khawatir untuk hal ini, biar aku yang mengurusnya."
Saat itu juga, Rocky melangkah pergi menuju ke butik A sesuai dengan arahan, Nia. Dia juga menuruti kemauan, Nia. Dengan tidak mendatangi, Lina.
Hanya dalam waktu sekejap saja, Rocky telah mengurus kepindahan para karyawati ke dua butik yang ada di pusat kota.
Tutupnya butik A terdengar hingga ke telinga, Lina. Dia sangat senang mendengar berita buruk tersebut. Dia tak mengetahui jika, Nia masih memiliki dua butik yang lebih besar di pusat kota.
"Hhaaa, akhirnya Nayla bangkrut juga. Usahaku tak sia-sia dalam membuat Nayla bangkrut."
"Aku puas dengan apa yang aku lakukan terhadap, Nayla. Dan kini tinggal langkah selanjutnya untuk aku bisa meluluhkan hati, Rocky."
"Untuk yang satu ini aku harus benar-benar sabar, karena Rocky bukan tripikal pria yang Playboy.".
"Dia pria idaman para wanita. Paras wajahnya yang tampan dan sifatnya yang tak mudah jatuh cinta, yang membuat aku ingin segera memilikinya."
"Aku juga heran, kenapa Rocky memilih menikah dengan janda seperti, Nayla. Seperti tak ada perawan saja."
__ADS_1
Terus saja Lina menggerutu mengumpat, Nia.
********