CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Belajar Mencintai


__ADS_3

Sejak saat itu mulai ada perubahan pada Nia sedikit demi sedikit. Nia sudah tidak bersikap angkuh lagi pada Riky. Hal ini juga membuat Mamah Nani merasa bahagia.


"Alhamdulillah, kini aku lihat ada perubahan positif pada diri, Nia. Dia tidak sedingin dulu lagi pada, Ricky."


Ricky pun merasa bahagia karena Bia mulai memperhatikan segala kebutuhannya.


"Mas Riky, jika mau mandi sudah aku siapkan airnya. Baju untuk kekantor juga telah aku siapkan di ranjang."


"Terima kasih, sayang."


Riky lekas mengambil handuk dan dia lekas ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit saja, dia sudah selesai mandi. Dan pada saat memakai baju kantornya, Nia denga sigap lekas memasangkan dasinya pada, Riky.


Sejenak Riky terus saja memandang wajah cantik, Nia.


"Mas Riky, kenapa menatapku seperti itu? apa ada yang aneh pada wajah aku?" Sejenak Nia melirik ke arah Riky.


"Nggak kok, istriku ini justru sangat cantik membuat aku tak bosan menatapnya."


"Ya Allah, kenapa ucapannya mirip sekali dengan almarhum Mas Rocky?" batin Nia.


"Sayang, jika kamu masih belum sehat. Sebaiknya istirahat saja di rumah, jangan di paksakan untuk berangkat kerja."


"Nggak kok, mas. Aku sudah sehat, kamu tak usah khawatir."


"Kalau kerja yang hati-hati ya, maukah kiranya pada saat jam makan siang kita makan siang bersama?"


"Boleh juga, mas." Tukas Nia singkat.


Riky dan Nia melanjutkan sarapannya bersama dengan Nani. Nani sangat senang melihat kebersamaan suami istri ini.


Beberapa menit kemudian, Riky berpamitan untuk berangkat ke kantor.


"Sayang, aku berangkat ke kantor ya? nanti aku jemput ke butik pada saat jam makan siang."


"Mah, aku berangkat dulu." Riky menyalami mamah mertuanya.


Nia juga tak lupa mencium punggung tangan suaminya.


"Alhamdulillah, aku sangat bahagia ya Allah. Istri aku sudah mau membuka hatinya untukku."


Riky berangkat kerja dengan penuh kegembiraan dan keceriaan itu sangat terlihat di wajahnya.


"Mas Rocky, aku minta maaf. Karena perlahan tapi pasti aku telah membuka hatiku untuk, Mas Riky. Aku harap kamu di alam sana bisa mengerti tentang posisi aku," batin Nia.

__ADS_1


Kini Nia juga telah mempersiapkan diri untuk berangkat ke butik.


"Mah, hari ini aku akan mulai berangkat ke butik. Aku nitip anak-anak yang, mah."


Memangnya kamu sudah benar-benar sehat?" tanya Mamah Nani mengerutkan alisnya.


"Sudah kok, Mah."


"Ya sudah, kamu yang hati-hati di dalam bekerja ya. Kamu tak usah mengkhawatirkan anak-anakmu, mereka pasti akan baik-baik saja bersama mamah di rumah."


"Terima kasih ya, mah."


Saat itu juga, Nia langsung beranjak ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Dan beberapa saat kemudian dia pun berangkat ke butik dengan mengemudikan mobilnya sendiri.


Kini di hatinya sudah tidak ada lagi rasa yang terpendam. Nia sudah memutuskan untuk memulai membuka hatinya dan untuk belajar mencintai, Riky.


Karena dia berpikir tidak mungkin dia terus berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan tentang kematian almarhum Rocky.


Kehidupan harus terus berjalan ke depan dan bukanlah berjalan mundur apalagi dia mempunyai dua anak.


Nia juga berpikir jika dia selamanya hidup sendiri dengan merawat kedua anaknya dia merasa tidak akan sanggup.


Nia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan memikirkan kematian almarhum Rocky. Ada yang lebih penting dari itu yaitu masa depan kedua anaknya yang masih sangat kecil.


"Jika aku renungkan dan aku resapi sebenarnya Mas Riky itu orang yang sangat baik. Kebaikannya justru melebihi kebaikan almarhum Mas Rocky."


"Kadang jika aku ingat semuanya, aku merasa sangat bersalah pada, Mas Riky. Di mana aku selalu bersikap dingin dan angkuh terhadapnya beberapa tahun ini."


"Ya Allah, aku akan menerima takdirku dengan menjadi seorang istri dari Mas Riky."


"Aku akan benar-benar setia menjadi seorang istri dan aku akan menjalankan tugasku menjadi seorang istri yang baik."


Selama dalam perjalanan menuju ke butik, dia berbicara sendiri di dalam hatinya. Bahkan dia telah berjanji akan merubah sikap buruknya terhadap Ricky.


Sementara saat ini Ricky telah berada di dalam kantornya yakni sebenarnya kantor Rocky.


Keceriaan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah Riky sangat terlihat jelas sehingga membuat Rudi ingin menggoda dirinya.


"Sepertinya pagi ini ada yang sedang happy nech?" tukas Rudi terkekeh.


"Hem, mau tahu saja urusan orang." Riky melirik sinis ke arah Rudi.


"Galak amat sih, bro. Sepertinya jika aku lihat dari wajahmu itu kamu telah berhasil membelah duren ya?" Rudi terkekeh sendiri.


Sementara Riky menggaruk tengkuknya yang tak gatal pada saat mendengar perkataan dari, Rudi.

__ADS_1


"Nah kan, nggak jawab berarti iya. Selamat ya, bro. Akhirnya burung dalam sangkar bisa bernapas lega keluar dari kandangnya." Kembali lagi Rudi terkekeh.


"Sialan kamu!" Riky semakin memerah wajahnya mendapat candaan dari sahabat baiknya tersebut.


"Bagaimana rasanya, karena sudah lama tak di keluarkan?" Rudi menaik turunkan alisnya.


"Kamu penasaran kan? makanya buruan nikah, jadi bisa merasakan sendiri nggak penasaran seperti itu," Riky malah balik menggoda Rudi.


"Aku belum menemukan wanita yang cocok untukku jadikan istri."


"Hem, maunya cuma pacar-pacaran doang. Payah dech kamu."


"Bukan begitu, bro. Aku ingin wanita yang benar-benar sempurna. Tetapi aku belum menemukannya."


"Rudi yang ganteng sekebun binatang. Di dunia ini tidak ada orang yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik, Allah."


"Sialan, masa aku di katain ganteng sekebun binatang."


"Rudi, jika kamu mencari sang sempurna tidak akan menemukan. Apa kamu menganggap dirimu ini sangat sempurna tak ada kekurangan sama sekali?"


"Hem, ya tidak begitu juga kali. Aku juga sadar kok, aku ini banyak kekurangannya."


"Makanya itu, jika kamu mencari yang sempurna ya nggak ada lah."


"Iya juga ya."


"Intinya itu suatu hubungan memadukan dua hati dan melengkapi ketidak sempurnaaan pasangannya."


"Baik, pak guru. Tahun depan dech, aku menyusul dirimu untuk menikah. Tapi entah dengan wanita yang mana."


"Makanya punya pacar nggak usah banyak-banyak, akhirnya bingung sendiri kan mau pilih yang mana?"


"Heee kan jika bosan dengan yang satu bisa dengan yang satunya lagi." Rudi terkekeh.


"Lantas jika kamu menikah bagaimana? akan bersikap seperti itu? karena jika menikah juga kadang ada rasa bosan, ada banyak pertentangan, perdebatan. Jadi nggak selamanya mulus dengan belah duren setiap hari." Tukas Riky.


"Hem seiring berjalannya waktu, pasti aku akan mengerti bagaimana dalam bersikap di dalam hubungan rumah tangga. Jadi kamu nggak usah khawatirkan diriku ini."


"Baiklah, bro. Kalau begitu, ngobrolnya sudah dulu. Kita lanjut ke pekerjaan, karena banyak sekali tugas hari ini. Dan semoga bisa kelar sebelum jam makan siang, karena aku ada janji makan siang bersama, Nia.'


"Siap, bos."


Kini keduanya fokus dengan semua berkas yang ada di meja.


****

__ADS_1


__ADS_2