
Pagi menjelang, Nia menjalankan aktifitasnya lagi seperti hari biasanya. Dia sudah lega karena suaminya sudah tak marah.
Sebenarnya Nia merasakan badan remuk tak karuan. Tetapi dia tak ingin libur kembali setelah kemarin sehari libur tak ke butik.
Sesampainya di butik, dirinya sudah di tunggu beberapa pelanggannya yang merasa kesal karena nomor ponsel tak bisa di hubungi.
Nia beralasan jika ponselnya hilang dan dia tak hapal denga nomor ponsel semua pelanggannya. Nia meminta maaf pada para pelanggannya dan memberikan nomor ponsel barunya.
Dia meminta maaf pada para pelanggannya. Kini semua pelanggan bisa memakluminya. Dan Nia akan membuat sebuah catatan khusus untuk menyimpan nomor-nomor ponsel, untuk antisipasi jika terjadi sesuatu pada ponselnya lagi.
Dia tak ingin mengecewakan para pelanggannya lagi. Waktu berjalan begitu cepatnya, tak terasa telah siang.
Nia memutuskan untuk menyambangi rumah sakit dimana Mariam bekerja.
"Nia, kemana saja kamu? menghilang bagai hantu saja."
Nia meminta maaf pada Mariam, tanpa ada rasa sungkan dia menceritakan semua yang sebenarnya telah terjadi.
Nia juga tak lupa memberikan nomor ponselnya yang baru pada Mariam.
"Sebagai permintaan maaf bagaimana kalau aku traktir makan siang?"
"Baiklah."
Saat itu juga Nia mengajak Mariam ke sebuah cafe. Sembari makan siang, dia menceritakan semua yang belum sempat dia ceritakan.
Ada rasa senang terpancar pada wajah Mariam karena kemunculan Nia. Kini dia sudah bisa berkomunikasi lagi dengan Nia.
"Ternyata suamimu terlalu posesif ya? Hem mungkin karena besarnya rasa cintanya padamu hingga dia sepy itu."
"Hem, entahlah. Tapi ini benar-benar di luar nalarku. Aku tuh nggak kebayang sama sekali jika ternyata suamiku sifatnya seperti ini. Tetapi sebenarnya dia baik sih. Yah mungkin seperti itu, karena rasa cintanya padaku yang begitu besar."
"Bukannya cinta itu buta, hingga membutakan akal dan pikiran," goda Mariam terkekeh.
"Iya, badan aku masih terasa remuk gara-gara menuruti kemauan dia yang super menguras tenagaku."
"Pijat saja, pasti kan enak badannya dan sembuh dech. Aku tahu loh, tempat pijat refleksi yang sangat nyaman dan mujarab pijatannya."
"Boleh juga tuh."
"Ok dech, setelah pulang dari sini aku tunjukkan tempatnya supaya kamu bisa datang langsung jika ingin pijat."
Mereka makan siang dengan sangat menikmati smbari bercanda ria. Hingga tak sadar ada sepasang mata sedang menatap kebersamaan mereka yang begitu akrab.
"Hem, apakah yang di maksud Mariam dengan teman baiknya adalah Nia? mereka sangat terlihat akrab sekali dan seperti sudah lama kenal."
"Bagaimana caraku bertanya pada, Mariam tentang Nia? supaya tidak curiga?"
__ADS_1
Dika merasa penasaran apakah wanita yang selama ini sering di ceritakan oleh, Mariam adalah Nia.
Dika juga penasaran mereka bisa kenal dimana?
"Apakah sebaiknya aku samperin saja mereka ya? ah kenapa aku jadi sepenasaran ini sih?"
Dika mencoba memupus rasa penasaran tersebut. Dia menahan untuk tidak mendekati Mariam dan Nia.
Tetapi tiba-tiba Mariam malah berteriak memanggil dirinya.
"Mas Dika!"
"Hah, Mas Dika?" batin Nia seraya melihat ke arah Mariam memangil nama itu.
"Dari mana, Mariam bisa kenal dengan Mas Dika?" batinnya lagi penasaran.
"Aduh, mampus dah. Kalau sudah seperti ini aku harus bagaimana?"
Batin Dika panik.
"Nia, ayok kita ke meja Mas Dika. Aku kenalkan kamu dengan suamiku."
"Hah, jadi suami Mariam adalah Mas Dika?" batin Nia semakin tercengang.
Mariam menarik paksa lengan Nia untuk menghampiri Dika. Kini Dika sudah tak bisa lagi berkutik sama sekali.
"Mas Dika, sedang makan siang juga? seharusnya tadi memberi tahu aku jadi kita bisa sekalian pergi bareng."
Nia dan Dika saling mengulurkan tangan bersalaman.
"Aku kemari karena janjian dengan klien, tetapi klien malah tak datang."
Alibi Dika menutupi rasa gugupnya.
Sesekali Dika melirik ke arah Nia. Dia ingin sekali menyapanya tetapi ada Mariam. Begitu pula Nia, ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi hingga dia tak membalas chat nya waktu itu.
"Hem, aku duluan ya. Nggak apa-apa kan, aku tinggal kalian berdua."
Dika beranjak bangkit dan pergi meninggalkan keduanya.
"Ya, mas. Hati-hati ya kerjanya."
Mariam mencium punggung tangan Dika.
Pemandangan ini sempat membuat Nia merasa cemburu di buatnya.
"Kenapa aku mendadak jadi tak suka dengan pemandangan ini? tak seharusnya pula aku seperti ini."
__ADS_1
Nia mencoba mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
Dika segera pergi karena dia tak ingin terus salah tingkah di hadapan, Nia.
Seperginya Dika, Nia juga mengajak Mariam kembali pulang.
"Kita pulang yuk, karena aku juga masih ada urusan yang lain. Kamu juga kalau kelamaan ntar di omelin bos."
"Oh iya, yuk kita cabut. Thanks ya traktirannya."
"Ok dech, sama-sama."
Sepanjang perjalanan mengantar Mariam ke tempat kerjanya, Nia terus saja melamun akan pertemuannya dengan Dika.
"Nia, kamu kenapa? kok diam saja?"
"Nggak apa-apa, cuma badan rasanya nggak karuan banget."
"Oh iya, aku kan ingin menunjukkan pijat refleksi padamu."
"Lain waktu saja dech, aku akan pulang ke rumah saja untuk berbaring dan istirahat."
"Baiklah kalau begitu."
Selepas mengantar Mariam, Nia pun pulang ke rumah dengan hati yang tak karuan.
Apa yang di rasakan Nia sama pula yang di rasakan dengan Dika. Sesampainya di kantor, Dika termenung di ruang kerjanya.
"Kenapa pertemuanku kembali dengan, Nia sangat telat? di saat kita sama-sama telah memiliki pasangan?"
"Kenapa takdir begitu kejamnya padaku? tak menyatukan cinta kami berdua? padahal kami saling mencintai dan menyayangi."
"Takdir begitu kejam pada kami. Sehingga pada akhirnya seperti ini. Coba saja dulu tidak ada yang mencelakai, Nia. Pasti Kami tetap bersama. Siapa sebenarnya orang yang telah jahat melakukan ini semua?"
"Sayang sekali hingga kini aku tak tahu siapa yang telah berbuat jahat pada, Nia. Karena memang tidak ada bukti yang kuat untuk menguak kejahatan orang tersebut."
Dika terus saja meratapi nasib kisah cintanya yang harus kandas di tengah jalan karena suatu kejadian yang sangat fatal.
Dia terus saja merutuki diri sendiri dan terus saja memijat pelipisnya serta sesekali mengacak-acak rambutnya karena geram sendiri.
Dika menjadi tak semangat di dalam bekerja, pikiran masih saja tertuju pada pertemuannya barusan dengan Nia.
"Sebaiknya aku pulang saja, malas rasanya jika kerja tak fokus seperti ini. Yang ada nanti malah kerja jadi berantakan tak karuan."
Dika merapikan semua berkas yang ada di meja dan lekas ke luar dari ruang kerjanya.
Tak lupa Dika meminta tolong pada salah satu asisten pribadinya untuk menghandle kantor sementara dia tak ada di tempat.
__ADS_1
"Bagus, tolong kamu urus segalanya urusan di kantor. Aku mau pulang karena mendadak kepala aku sakit sekali. Jika ada apa-apa hubungi aku saja."
"Baiklah, pak."