
Dika terus saja bertanya dalam hatinya, dia masih saja penasaran dengan maksud kedatangan Nia dan Riky.
"Mas Dika- Mariam, maaf kami datang kemari. Karena ada hal penting yang ingin kami bicarakan pada kalian berdua."
"Silahkan masuk," tukas Mariam.
"Tidak, kami duduk di sini saja."
Riky tak mau masuk ke ruang tamu, dia lebih memilih duduk di kursi teras halaman depan.
"Hem, sepertinya Riky tak suka datang kemari. Sangat terlihat dari wajahnya itu," batin Dika.
Tanpa menunggu lama, Nia menyampaikan maksud kedatangannya tersebut. Dia bercerita panjang lebar di hadapan Dika dan istrinya. Sesekali Dika mencuri pandang ke arah, Nia. Riky yang melihat hal itu merasa kesal.
"ehem, biasa saja kalau menatap."
Sindirnya melirik sinis ke arah Dika.
"Mas Riky, kamu bicara padaku?" Nia mengernyitkan alisnya.
"Hem, bukan sayang. Itu ada cicak menatap terus ke arah dirimu, tapi udah pergi cicaknya," tukas Riky.
Nia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Dia pun melanjutkan pembicaraannya.
"Jadi, anak yang kami adopsi adalah anak kandungmu, Nia?" Mariam masih saja tidak percaya.
"Iya, Mariam."
"Tapi apa buktinya jika dia anak kandungmu?" Dika juga belum percaya.
"Apa kamu tadi tak mendengarkan cerita istriku? jika semua terbongkar karena penculiknya sendiri yang mengatakannya. Tapi sayang saat ini dia sudah meninggal dunia," Riky sangat kesal mendengar pertanyaan Dika.
"Biasa saja kali berkatanya tak perlu ngegas seperti itu," Dika melirik sinis pada Riky.
"Mas Dika, sudahlah jangan di buat masalah."
"Kamu membela orang itu, dia dulu yang cara berkatanya tak sopan. Aku hanya meluruskan saja," Dika merasa tak suka dengan pembelaan yang di lakukan Mariam.
"Mas Dika, jadi kamu tak percaya juga jika Ina itu anak kandungku? sayangnya Mas Rocky telah meninggal dunia, sehingga tidak bisa di adakan tes DNA." Nia tertunduk lesu.
__ADS_1
Dika merasa iba melihat kesedihan terpancar di wajah, Nia. Dia pun mengatakan hal yang tak terduga.
"Sayang, sebaiknya kita kembalikan saja Ina pada orang tua kandungnya. Kasihan juga kan jika mereka berpisah?" Dika mencoba membujuk Mariam.
"Nggak, mas. Aku sudah begitu menyayanginya. Aku tak bisa kehilangan dirinya. Lagi pula Nia kan sudah ada dua anak." Mariam menolak mengembalikan Ina pada Nia.
"Nia, aku mohon padamu. Jangan paksa aku mengembalikan, Ina. Aku sudah terlanjur sayang padanya seperti anakku sendiri. Lagi pula kami merawatnya dengan sepenuh hati kami," Mariam mencoba membujuk Nia.
Sejenak Nia terdiam seolah sedang berpikir. Dia pun menatap ke arah Riky seolah meminta saran yang tepat.
"Mas Riky, bagaimana ini?"
"Itu terserah kamu, sayang. Aku juga tak bisa memberikan keputusan yang tepat."
"Mas Riky, apa golongan darahmu? mungkin saja sama dengan almarhum Mas Rocky. Jika sama, kita bisa lakukan tes DNA."
"Golongan darahku O."
"Subhanallah, berarti sama dengan golongan darah almarhum Mas Rocky. Mariam, maaf ya aku tetap akan mengambil anakku kembali. Jika kamu tak izinkan secara baik-baik, aku akan menempuh jalur hukum dengan melakukan tes DNA pada Ina."
"Nia, aku percaya kok padamu. Tapi aku minta bekas kasihmu untuk membiarkan kami merawat anakmu." Mata Mariam berkaca-kaca.
"Kalian kan bisa adopsi lagi bayi yang lain, nggak usah di bikin ribet seperti ini dong. Kasihan istriku."
"Mas Riky, sabar dong. Jangan seperti ini berkatanya," bisik Nia menenangkan hati suaminya.
"Begini saja, izinkan kami merawat Ina hingga istriku di nyatakan hamil," tukas Dika menengahi.
"Seenaknya saja kalau memberi saran, ya kalau istrimu memang benar bisa hamil. Kalau dia tak bisa hamil bagaimana?" Riky sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Mas Riky, janganlah berkata seperti itu," Nia merasa tak enak hati pada Dika dan istrinya.
"Insa Allah, dengan seizin Allah istriku aku pasti akan hamil. Karena kami tidak ada masalah dengan kesuburan kami."
"Hem, jika tidak ada masalah untuk apa kalian adopsi anak?" tukas Riky ketus.
"Untuk pancingan, banyak yang telah melakukan hal ini dan ternyata berhasil. Makanya kita mengadopsi anak." Tukas Dika membela diri.
"Sudah-sudah, kalian tak usah berdebat. Ya sudah, jika seperti itu aku akan menunggu kabar baik dari kalian tentang kehamilan, Mariam. Tapi jika dalam waktu satu tahun, Mariam tidak hamil juga. Aku akan ambil anakku," tukas Nia.
__ADS_1
Setelah melalui perdebatan yang cukup lama. Akhirnya sudah diputuskan jika Nia akan menunggu hingga Mariam di nyatakan hamil barulah dia akan mengambil anaknya.
Segeralah Nia berpamitan pada Dika dan istrinya. Seperginya mereka, Mariam malah semakin gelisah.
"Mas Dika, kenapa kamu mengambil keputusan seperti ini? jika dalam waktu satu tahun aku tidak hamil bagaimana?"
belum apa-apa Mariam sudah panik dulu.
"Sayang, positif tinking. Ucapan adalah doa loh. Jika kamu berucap buruk itulah yang akan kamu dapatkan. Makanya berucaplah yang baik-baik."
"Astaghfirullah alazdim, iya Mas Dika. Aku minta maaf ya."
Sementara Riky terus saja emosi setelah pulang dari rumah Dika.
"Sayang, seharusnya kamu tak perlu memberi waktu untuknya seperti itu! bawa saja langsung, Ina. Jika perlu kita lakukan tes DNA sekarang juga."
"Mas, aku masih punya hati nurani. Aku nggak tega pada Mariam."
"Nggak tega pada Mariam atau pada suaminya?" tiba-tiba Riky menyindir.
"Mas Riky, kenapa kamu berkata seperti itu?" Nia memicingkan alisnya.
"Aku berkata seperti ini karena aku pernah memergoki suami Mariam mengintai rumahmu dari balik pohon besar yang tak jauh dari rumahmu. Itu terjadi tepat setelah kita menikah."
Mendengar apa yang di katakan oleh Riky, Nia merasa heran.
"Untuk apa pula, Mas Dika mengintai rumahku? apakah dia masih cinta padaku? astaghfirullah alazdim, kenapa aku berpikir sejauh ini?" batin Nia menjadi penuh tanda tanya.
"Nia, siapa pria itu sebenarnya? apa kamu sebelumnya pernah punya hubungan spesial dengannya?" tiba-tiba Riky bertanya hal itu.
Dia sengaja ingin mengetes istrinya akan menjawab apa pertanyaan dirinya, walaupun dia sebenarnya tahu jika Dika adalah mantan kekasih, Nia.
"Mas Riky, itu hanya masa lalu. Dia mantan kekasih aku beberapa tahun yang lalu. Sudah lama sekali."
"Bagus, Nia. Ternyata kamu jujur padaku walaupun kamu tahunya aku ini Riky padahal aku ini juga Rocky," batin Riky dia puas dengan jawaban dari istrinya.
"Hem, bisa saja dia masih ada rasa padamu makanya dia diam-diam mengintai rumahmu."
"Mas Riky, jika dia masih cinta atau tidaknya itu urusan hati dia. Yang terpenting aku sudah tidak ada rasa cinta lagi padanya.Dia hanya sepenggal masa lalu. Jika aku masih cinta padanya, mungkin pada saat aku menjanda Kan menikah dengannya. Tetapi aku menikah denganmu, bukan?" tukas Nia mulai merasa kesal dengan perkataan Riky.
__ADS_1
"Hem iya dech, aku minta maaf ya."
******