
Tak berapa lama Dika telah sampai di rumahnya. Dia langsung saja merebahkan badannya di ranjang. Tetapi entah kenapa bayangan indah masa lalu bersama, Nia terus saja berputar-putar di hadapannya.
"Astaghfirullah alazdim, kenapa aku menjadi seperti ini? teringat selalu masa lalu indah yang pernah aku lalui bersama dengan, Nia?"
"Ada apa denganku ini? ataukah sebaiknya aku katakan pada Mariam sejujurnya tentang Nia? supaya dia menjauhi Nia?"
"Serba bingung diriku ini, sejak bertemunya kembali aku dengan Nia."
"Ya Allah, haruslah kenanganku bersama Nia. Karena aku tak ingin menyakiti hati Mariam yang telah dengan tulus mencintai aku sepenuh hati."
"Ya Allah, aku tak ingin membuat Mariam kecewa apa lagi bersedih. Dia yang pernah berjasa merawat aku saat aku benar-benar terpuruk."
Dika malah tak bisa beristirahat, dia selalu saja melamun dan melamun. Hatinya terus saja gelisah tak karuan.
Pandangan matanya menerawang ke atap langit-langit kamar. Hingga tak sadar matanya perlahan mulai terpejam dengan sendirinya.
Dalam mimpipun, Nia hadir. Membuat Dika terhenyak bangun terjaga dari tidurnya.
"Astaghfirullah alazdim, kenapa dalam mimpi juga ada Nia? ada apa dengan diriku ini ya, Allah?"
Dika bangkit dari ranjang dan memutuskan untuk membasuh wajahnya supaya terlihat segar. Dia pun melangkah pergi ke danau tempat kenangan dirinya dan Nia.
Tak di sangka, Dika justru bertemu dengan Nia di danau tersebut.
"Nia?"
"Mas Dika?"
"Kenapa selalu serba kebetulan seperti ini?" batin Nia merasa gelisah melihat kedatangan Dika.
"Nia, bagaimana kamu kenal dengan istriku?"
Nia menceritakan yang sebenarnya pada Dika, awal mula bertemunya dengan Mariam.
"Hem, jadi diam-diam Mariam masih mengingat mantan kekasihnya yang telah meninggal dunia," batin Dika agak tak rela.
"Nia, kenapa kamu tak membalas chat pesanku waktu itu?"
Nia menceritakan yang sebenarnya pada Dika, bahkan dia juga meminta pada Dika supaya jangan mendekatinya lagi.
"Nia, memangnya salah jika aku hanya ingin berteman denganmu?"
"Tidak, tapi aku tak ingin membuat masalah lagi. Aku ingin rumah tanggaku harmonis, mas. Lagi pula aku juga nggak mau suatu saat nanti Mariam juga salah paham padaku."
"Aku berharap jika di hadapan, Mariam kita pura-pura saling tak kenal."
"Akan aku coba, Nia. Aku juga tahu diri kok, jika tidak pasti waktu itu aku langsung mengatakan pada istriku bahwa aku kenal dirimu."
"Terima kasih atas pengertianmu, mas. Aku minta maaf jika tak lagi bisa berteman denganmu."
"Ya nggak apa-apa, Nia. Aku bisa memaklumi kok."
__ADS_1
"Maaf, mas. Aku nggak bisa lama-lama, ada hal yang ingin aku selesaikan."
Nia pun pergi berlalu begitu saja tanpa melihat ke arah Dika. Walaupun sebenarnya hatinya begitu riang bisa bertemu dengan, Dika.
"Berat sekali kaki ini untuk melangkah pergi."
Sejenak Nia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dika.
Kebetulan Dika juga melihat ke arah dirinya, mereka sejenak saling bertatapan satu sama lain.
"Nia, aku tahu jika kamu masih ada rasa padaku. Hanya saja takdir yang telah memisahkan kita berdua."
Batin Dika berkata sendiri.
Nia pun melanjutkan langkahnya kembali dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa dirinya begitu tak rela.
Nia melajukan mobilnya arah pulang dengan suasana hati tak menentu. Sesampainya di rumah tak kuasa dia menangis di kamar mandi.
Tak terasa sore menjelang, Nia melakukan aktifitas rumahnya. Dia mencoba tersenyum dan melupakan pertemuannya hari ini dengan, Dika.
"Mas, kamu pulang cepat?"
Nia mencium punggung tangan suaminya seraya membawakan tas kerja.
"Iya, sayang. Tiba-tiba badanku keras tak enak sekali."
"Mandi dulu ya, mas. Nanti aku pijitin dan kerikin."
Selagi suaminya mandi, dia mengambil air hangat dan jamu tolak angin andalan Rocky di kala dia masuk angin.
Tolak angin di ruang ke dalam air hangat tersebut.
"Mas, sudah selesai mandinya. Ini di minum dulu, biar badan rada enak."
Rocky menerima minuman jamu tolak angin tersebut lantas meminumnya.
"Terima kasih ya, sayang."
"Sama-sama, mas. Sini berbaring di ranjang, biar aku kerikin dan urut supaya lekas sembuh."
Rocky yang hanya mengenakan handuk melilit di pinggangnya, menuruti kemauan Nia. Dia membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
Nia langsung mulai mengerik punggung Rocky dengan minyak kayu putih dan koin. Setelah tiga puluh menit, dengan sangat telaten Nia memijit dari ujung kaki hingga ujung kelapa.
Tak terasa, Rocky pun tertidur setelah di pijat oleh Nia. Nia tersenyum seraya mengecup pipi Rocky dan kemudian menyelimuti tubuhnya.
"Boboklah, suamiku. Aku yakin bangun tidur badanmu pasti sudah baikan."
Nia beralih ke luar kamar untuk segera berkumpul dengan anak dan mamahnya yang sedang ada di teras depan rumah.
"Nia, bagaimana butikmu?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik-baik saja, mah."
"Apa kamu nggak ada niat membuka lagi butik yang telah di tutup?"
"Nggak lah, mah. Aku malah akan menjualnya. Cuku dua butik yang ada di pusat kota saja, mah. Supaya aku nggak terlalu cape bolak balik."
"Ya sudah terserah kamu saja. Terpenting Rocky saat ini kerja dan bertanggung jawab padamu."
"Iya, mah. Itu yang utama."
Ibu dan anak saling bertukar pikiran bercerita banyak hal. Hingga menjelang akan Maghrib barulah mereka mengakhiri obrolan dan masuk ke dalam rumah.
Nia menuju ke dapur untuk mengecek apakah makan sore telah siap. Dia ikut membantu menata makanan di meja makan.
Kemudian Nia mengecek kondisi suaminya lagi, apakah dirinya sudah bangun atau belum.
"Mas, bagaimana kondisimu?"
"Alhamdulillah, berkat perawatanmu. Kondisiku sudah agak mendingan. Terima kasih ya, sayang."
"Alhamdulillah kalau begitu, ayok kita makan dulu, mas."
Nia mencoba membantu membangun kan Rocky.
"Ya Allah, padahal istriku sangat baik dan perhatian serta pengertian. Tetapi kerap kali aku marah yang berlebihan. Betapa egoisnya aku ya, Allah."
Tiba-tiba Rocky merasa bersalah sendiri di dalam hati, tetapi dia gengsi untuk meminta maaf.
"Biarlah aku cukup menyesal di dalam hati, dari pada aku meminta maaf tetapi nantinya istriku jadi besar kepala."
Batinnya berkata sendiri.
Rocky merangkul Nia, melangkah bersama ke ruang makan. Mereka makan bersama Mamah Nani.
Situasi di meja makan begitu hangat, karena si kecil Azam juga ikut makan bersama mereka.
Tetapi makan mereka sedikit terganggu pada saat ponsel Rocky berdering. Ada sebuah panggilan telpon tetapi dari nomor yang tak di kenal.
"Kenapa nggak di angkat, mas?"
"Nomor tak dikenal paling juga cuma iseng saja."
"Drt drt drt"
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel Rocky.
[Rocky, ini aku Lina. Ada hal yang ingin aku katakan padamu, ini sangat penting! jika kamu tak mau menemui ku, biar aku yang datang ke rumahmu.]
Rocky langsung pucat pasi melihat chat pesan dari Lina.
"Mas, kamu kenapa? siapa yang kirim pesan, kok kamu mendadak berubah panik?"
__ADS_1
Pertanyaan dari Nia sama sekali tak di jawab oleh Rocky. Dia malah asik melamun.