
Hidup Dika semakin tak tenang sejak perginya, Nani tanpa kabar. Dia semakin tak semangat menjalani hidupnya.
"Dika, apa kamu sakit?"
"Tidak, mah. Aku baik-baik saja kok."
"Kamu tak bisa berbohong pada, mamah. Wajahmu sangat murung dan tak bersemangat. Sebenarnya ada apa? apa sampai detik ini kamu masih saja memikirkan tentang, Nia? kenapa kamu tak mencoba mnyka hatimu untuk wanita lain?"
"Tidak, mah. Sampai mati rasa cinta ini hanya untuk, Nia. Tidak ada satu pun wanita yang bisa menggantikan posisinya di dalam hatiku."
"Dika, kenapa kamu keras kepala? apa kamu tak kasihan pada orang tuamu yang semakin hari semakin menua? kami sudah ingin menumanf cucu," bujuk Andre.
"Kenapa sih, papah dan mamah hanya mementingkan diri sendiri? kalian sama sekali tak memikirkan perasaanku. Andai saja waktu itu, kalian setuju dengan hubunganku bersama, Nia. Mungkin saat ini aku telah bahagia dan memiliki anak bersamanya."
"Dika, mamah nggak yakin akan hal itu. Apa kamu melihat seorang anak dalam pernikahan Nia dan suaminya yang dulu? beberapa tahun menikah tapi tak juga punya anak, kan?"
"Sudahlah, mah. Jangan terus memaksa aku untuk menerima wanita lain di dalam hidupku! Sekali tidak tetap tidak, mah!"
Dika selalu saja marah dan memberontak pada saat di ajak berunding tentang pendamping hidupnya.
"Pah, bagaimana cara kita meluluhkan hati Dika yang sangat keras bagai batu?"
"Guna-guna apa yang di gunakan oleh, Nia. Sehingga Dika sangat tergila-gila padanya."
Ambar terus saja menggerutu karena dia kesal dengan penolakan, Dika.
"Sabar, mah. Pada akhirnya nanti, Dika pasti akan menyerah dengan menunggu sesuatu yang tak pasti. Apalagi mungkin saat ini, Nia sudah meninggal."
"Tapi bagaimana cara kita meyakinkan dirinya bahwa Nia telah meninggal?"
"Entahlah, mah. Papah juga tak tahu."
Orang tua Dika sangat bingung menghadapi sikap keras kepala anaknya tersebut. Mereka sudah kehabisan cara dalam menghadapi, Dika.
"Pah, kita harus bagaimana lagi? apa sebaiknya kita jodohkan lagi anak kita dengan seorang gadis?"
"Mah, dulu sudah pernah kita lakukan. Tapi hanya membuat kita malu saja pada calon menantu dan orang tuanya. Bahkan sejak kejadian itu, mereka memutuskan hubungan kerja sama dengan, papah. Dan malah pindah ke luar kota."
"Lantas, apa selamanya anak kita akan menjadi perjaka tulen?"
__ADS_1
"Entahlah, mah. Papah juga Tah tahu, semua hanya Allah yang tahu."
Bergulirnya waktu cepat sekali, tak terasa sudah satu bulan lamanya, Nia dan mamahnya tinggal di salah satu rumah milik, Rocky.
"Nayla, mamah ingin berbicara sejenak denganmu. Apa nggak sebaiknya kamu menikah saja dengan, Rocky?"
"Mah, atas dasar apa mamah mengharapkan aku menikah dengan, Rocky? belum tentu dia mau denganku?"
"Siapa bilang, Nayla. Aku mau kok menikah denganmu."
Tiba-tiba Rocky sudah ada dibelakang Nia dan Nani.
"Rocky, kenapa datang tak kasih kabar?" Sontak pernyataan Rocky membuat Nia tersipu malu.
"Nayla, sejak pertama aku bertemu denganmu. Hati ini sudah merasa jatuh cinta padamu. Tapi aku sengaja memendam rasa ini. Tak mungkinnya jika aku langsung mengutarakan rasa ini padamu. Aku nggak mau di katakan pria gampangan, baru lihat sudah suka."
"Dengarkan itu, Nayla. Mamah akan sangat setuju jika kalian menikah secepatnya. Mamah sudah tua, Nayla. Sudah ingin menimang seorang cucu."
"Tapi mah...
"Ada apa lagi, Nayla?"
"Nayla, itu hanyalah perasaanmu saja. Kamu ini masih sendiri, sebelumnya memang kamu pernah menikah, tetapi pernikahanmu gagal dan mantan suamimu kini telah menikah lagi."
"Berarti statusku janda? kenapa aku juga sama sekali tak ingat mantan suamiku, mah?"
"Nayla, semua itu masa lalu. Apa yang ingin kamu harapkan dari masa lalu? bukankah yang terpenting saat ini adalah masa depan?"
Nani terus saja membujuk Nia supaya bersedia menikah dengan Rocky. Akan tetapi, Nia terus saja mencari alasan untuk menolaknya.
"Tante, jika Nayla belum siap untuk menikah ya sudah tidak apa-apa, jangan di paksa. Aku akan selalu menunggunya hingga Nayla bersedia menikah denganku."
"Maafkan anak Tante, Nak Rocky. Nggak seharusnya dia bersikap seperti ini. Padahal Nak Rocky sudah sangat membantu kami selama ini."
Nani merasa kecewa dengan keputusan putri semata wayangnya, dia hanya bisa tertunduk lesu tanpa bisa berkata lagi.
"Mah, bukan maksudku ingin membuat mamah kecewa dan bersedih seperti ini. Tapi entah kenapa hatiku belum yakin dengan, Rocky."
"Rocky, aku minta maaf jika aku belum bisa menerim pinanganmu."
__ADS_1
"Sudahlah, Nayla. Kamu tak usah bersedih hati. Aku tidak apa-apa kok, aku hanya ingin melindungimu saja."
"Jika kita telah resmi menikah, aku akan lebih leluasa menjaga dirimu. Karena saat ini hidupmu tidaklah aman, tapi terancam bahaya."
"Apa ku lupa, dengan apa yang telah menimpa dirimu? mungkin saat ini orang jahat itu sedang mencari tahu apakah dirimu sudah meninggal atau belum?"
"Dan jika mereka mengetahui kamu masih hidup, pasti mereka tidak akan tinggal diam. Ini yang saat ini sedang aku khawatirkan."
Rocky berusaha meyakinkan kembali Nia dengan segala ucapannya.
"Nayla, apa yang di katakan oleh, Nak Rocky ada benarnya. Mamah juga nggak ingin terjadi hal buruk lagi padamu. Kamu satu-satunya yang mamah miliki saat ini."
Tiba-tiba air mata, Nani tertumpah begitu saja. Dia teringat bagaimana pada waktu tak tahu keberadaan, Nia.
"Nayla, pada saat kamu hilang begitu saja. Hampir setiap hari mamah seperti ini. Sempat mamah putus asa karena tidak ada kabar tentangmu juga."
"Segala daya upaya telah dilakukan untuk mencarimu, tetapi sama sekali tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya datanglah, Nak Rocky ke rumah mengabarkan tentang keberadaan dirimu."
Nia menjadi iba melihat mamahnya menangis, dia semakin tak tega dengannya.
"Mah, berhentilah menangis. Kalau seperti ini aku akan semakin merasa bersalah pada, mamah."
Namun Nani terus saja menangis hingga tak bisa di hentikan.
"Mah, aku akan menuruti kemauan mamah. Aku akan menikah dengan, Rocky. Tapi tolong mamah berhentilah menangis."
"Apa kamu serius dengan ucapanmu?"
"Iya, mah. Aku sangat serius."
"Nayla, aku tidak akan menikahimu jika keputusan yang kamu ambil hanya karena keterpaksaan saja."
Rocky menyela pembicaraan antara Nani dan Nia.
"Tidak, Rocky. Aku menikah denganmu bukan karena terpaksa atau ingin balas budi. Tetapi aku ingin ada yang menjaga diriku."
"Jujur, aku sangat takut jika ingat kejadian waktu aku di dorong oleh dua orang tak di kenal. Padahal waktu itu aku sudah memohon supaya mereka tidak mendorongku."
"Tetapi tidak ada rasa belas kasihan sama sekali buatku."
__ADS_1
Mendengar akan keputusan, Nia. Hati Rocky berbunga-bunga, dia sangat bahagia.