
Saat itu juga, Dika dan Mariam tinggal di rumah yang baru. Akan tetapi hati Mariam masih saja memikirkan tentang foto-foto kebersamaan Dika dan Nia.
"Aku jadi berpikir, jika Mas Dika menikah denganku hanya untuk pelarian saja. Karena sebenarnya dia masih cinta pada, Nia."
"Entahlah, aku saat ini sedang tak bisa berpikir jernih sejak pertemuanku dengan pria yang mirip Almarhum Aris."
Nia bangun lebih awal, dia pun menyiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun di rumah tersebut telah ada sepasang asisten rumah tangga.
Pada saat Nia sedang menyirami tanaman di depan pintu gerbang. Dia tak sengaja melihat pria tersebut kembali. Bahkan pria tersebut melambaiksn tangan seraya tersenyum pada, Mariam.
"Astaghfirullah alazdim, kenapa dia lagi dia lagi? kenapa dia ada di sini juga? bagaimana dia tahu kalau aku tinggal di sini?"
"Sayang, aku cari-cari dirimu ternyata ada di sini. Aku akan mengajakmu berkeliling di desa ini."
"Baiklah, mas. Tetapi kita sarapan dulu kan?"
"Iya, sayang. Kan kamu sudah capek-capek menyiapkan semuanya. Masa tidak di makan."
Dika merangkul Mariam masuk kedalam rumah, hal itu sempat di lihat oleh pria tersebut.
"Sekarang kamu boleh merasa bahagia, tapi sebentar lagi aku akan buat rumah tanggamu hancur berantakan. Dan aku akan membuatmu menderita berkepanjangan, Mariam."
Senyum sinis menyeringai dari sudut bibir pria tersebut.
Beberapa menit kemudian, Dika dan Mariam telah selesai sarapan. Mereka keluar halaman menyambangi rumah para tetangga dengan memperkenalkan diri mereka sebagai warga baru di desa tersebut.
Dan pada saat Dika mengajak ke seberang rumsh mereka, ada rasa ragu di dalam diri Mariam.
"Bukannya tadi pria tersebut ad di rumah ini? berarti aku akan kenalen dengan pria aneh ini. Malas sekali rasanya."
"Ayo Mariam, kemari lah. Ini namanya Mas Ari, ternyata dia juga baru tinggal di sini sama seperti kita."
"Mas Ari, ini istri saya Mariam."
"Ampun, kenapa bertemu dengan pria aneh ini lagi? memang tak di ragukan jika parasnya sangat mirip dengan Almarhum Aris," batin Mariam menggerutu pada saat melihat pria tersebut.
"Hey, Nona Mariam. Kita tetanggaan ya? semoga bisa saling bantu ya."
Senyum sinis menyeringai dari sudut bibir Ari. Membuat Mariam merasa tak nyaman berlama-lama berada di hadapan pria aneh tersebut.
"Mas, aku lupa sesuatu. Aku pulang dulu ya."
Mariam berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ari dan Dika.
__ADS_1
"Maafkan istri saya, Mas Ari. Dia memang seperti itu jika bertemu dengan orang yang belum dia kenal."
"Nggak apa-apa, Mas Dika. Itu wajar kok."
Sejenak mereka berdua mengobrol panjang lebar tanpa ingat waktu hingga menjelang siang. Dika sama sekali tak ada rasa curiga sedikitpun pada Ari. Dia sebentar saja telah akrab dengan Ari.
"Mas Dika, kamu betah sekali berada di rumah tetangga?"
"Maafkan aku, sayang. Karena Mas Ari asik banget di ajak ngobrol, jadi kelupaan waktu. Katanya kalau kamu butuh bantuan apa pun tak usah sungkan padanya, dia akan selalu siap membantu."
"Iya, mas."
"Tapi aku takkan minta bantuan darinya, karena orang itu terlihat sangat menakutkan dan aneh," gerutu Mariam di dalam hati.
"Sayang, besok aku mulai bekerja. Kamu nggak apa-apa kan jika aku tinggal sendiri di rumah?"
"Mas Dika, apa nggak sebaiknya aku juga tetap bekerja selagi aku belum hamil?"
"Hem, apa kamu nggak cape? kerja sambil mengurus rumah?"
"Insa Allah, nggak mas."
"Ya sudah, Jika memang itu maumu. Tapi jangan terlalu cape."
"Iya, sayang. Besok kita berangkat kerja bareng saja. Pulangnya biar aku jemput kamu."
"Apa nggak merepotkanmu, mas. Apa nggak sebaiknya aku naik motor saja? kadang kan jam kerja kita beda jam nya."
"Ya sudah terserah kamu saja. Asal tidak terlalu cape, kalau bisa jangan ambil sift malam. Bahaya jika kamu pulangnya terlalu malam."
"Iya, mas. Aku akan meminta kebijakan pada pihak rumah sakit supaya aku sift pagi terus."
*****
Malam menjelang di saat seisi rumah akan tidur. Tiba-tiba terdengar ada kaca ruang tamu pecah.
"Pyang.."
Bunyi kaca pecah karena di lempar sesuatu.
Seisi rumah keluar dari sepasang asisten rumah tangga hingga Dika dan Mariam juga keluar.
"Astaghfirullah alazdim, kacanya pecah, Pak Dika."
__ADS_1
"Dan ini ada batu tapi ada sebuah kertasnya."
Si Ujang mengambil batu yang di tutup dengan sebuah kertas. Dan kertas tersebut di berikan pada, Dika.
"AKU DATANG UNTUK MENUNTUT BALAS!!!!!!"
"Ini maksudnya apa, dan di tujukan pada siapa? kok aneh seperti ini?"
"Coba kita cek CCTV saja, mas. Siapa tahu ada petunjuk sehingga jelas apa tujuan orang tersebut menulis kata-kata seperti ini."
Seketika itu juga, Dika dan Mariam mengecek rekaman video CCTV. Dan tidak di temukan suatu petunjuk yang jelas karena situasi malem yang sangat gelap. Hanya bayangan hitam yang tengah melemparkan batu tersebut.
"Mas, sepertinya pelaku sengaja memakai pakaian serba hitam. Sehingga kita tak bisa mengenalinya.'
"Benar juga, sayang. Percuma saja jika kita melaporkan hal ini pada polisi, karena tak ada bukti yang kuat yang bisa untuk menjerat pelaku."
"Lantas kita harus bagaimana, mas? yang aku khawatirkan, besok-besok dia akan meneror lagi dengan hal yang lebih menyeramkan."
"Sayang, kamu tak perlu khawatir. Aku akan memperketat penjagaan di sekitar rumah kira."
"Baiklah, mas."
"Hem, baru semalam tinggal di rumah ini. Sudah ada teror seperti ini, apa lagi yang akan terjadi di hari berikutnya?"
Mariam mulai tak tenang di dalam hatinya, dia memikirkan akan hari esok.
"Mas Dika, apa nggak sebaiknya kita pindah rumah saja?"
"Sayang, kita belum juga ada sehari tinggal di sini. Kamu sudah meminta pindah? bukannya aku sudah katakan supaya kamu tak usah khawatir tentang hari esok. Aku akan menyewa oramg untuk menjaga rumah kita."
Walaupun Dika sudah mencoba menenangkan hati Mariam dengan segala bujuk rayu. Tetapi Mariam merasa tak tenang saja tunggal di rumah tersebut.
Dia merasa akan ada teror-teror yang lebih menyeramkan di rumah tersebut. Dia tak ingin mengalami teror kembali, karena itu akan membuat tidur tak tenang. Dan tinggal tak nyaman.
Akan tetapi dia tak bisa membantah apa yang suinya telah putuskan. Dia berusaha menerima keputusan tersebut.
"Bismillah saja, semoga hati esok tak ada teror lagi di rumah ini. Supaya hidupku tenang."
"Jagai rumah tangga kami, Ya Allah. Supaya selalu langgeng selamanya hanya maut yang memisahkan kami."
"Dan jauhkan kami dari goda dan coba. Hanya padaMu ya Allah hamba memohon perlindungan."
Mariam berdoa di dalam hatinya karena dia merasa akan ada bahaya yang mengancam di dalam rumah tangganya kelak.
__ADS_1
*******