CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Selalu Saja Tak Tenang


__ADS_3

Karena rasa kesal, Riky tak sengaja mengatakan jika dirinya adalah saudara kembar, almarhum Rocky.


"Sialan, gara-gara aku kaget karena kedatangan Lina yang secara Tiba-tiba. Aku jadi mengatakan hal yang seharusnya aku rahasiakan."


"Jika seperti ini, aku harus waspada pada Lina dan benar-benar menjaga Nia dan Ronald. Aku tak ingin, Lina mencelakai istri dan anakku."


Selama dalam perjalanan pulang, Riky terus saja menggerutu kesal pada, Lina. Sesampainya di rumah dia pun masih terlihar murung.


"Ya ampun, kenapa aku lupa jika hari ini sudah mulai berangkat ke kantor. Untuk menggantikan tugas Rocky."


Saat itu juga Riky berganti dengan seragam kantor. Dia sudah mulai aktif ke kantornya sendiri, hanya kali ini dia memakai identitas Riky bukan Rocky.


Pikiran Riky tak fokus, dia selalu berpusat pada Nia dan Ronald. Begitu pula dengan Nia, entah kenapa dia juga memikirkan Riky.


"Semua menjadi rumit gara-gara, Lina! tetapi dia tak pernah merasa bersalah sama sekali. Kalau seperti ini aku jadi kesal padanya, ingin sekali aku menyakitinya kalau tak ingat hukum."


"Aku nggak mau jika aku menyakiti Lina terus ketahuan, itu bisa membahayakan diri aku sendiri."


"Ujung-ujung jeruji besi, tetapi jika aku biarkan dia. Itu juga sangat membahayakan, Nia dan anakku."


Rasa cemas, panik, dan gelisah bersatu menjadi satu. Riky bingung akan bertindak seperti apa lagi untuk bisa memecah permasalahannya.


******


Tak terasa sore menjelang, saatnya Riky pulang kerja. Terlebih dulu dia mampir ke rumah Nia. Tanpa sepengetahuan dia, Lina mengikuti laju mobil Riky dari kantor hingga ke rumah Nia.


"Nah kan, kecurigaan aku terbukti. Ternyata memang benar jika Riky itu bukan hanya sekedar parkir di samping pintu gerbang rumah, Nayla. Tetapi dia memang sengaja untuk bertemu dengan Nia."


"Dia kan cuma saudara kembar, almarhum Rocky. Tetapi kenapa dia ada di kantornya dan dia juga ke rumah Nayla?"


"Semakin hari aku semakin penasaran dengan jati diri, Riky."


Lima terus saja mengamati mobil Riky yang terparkir tersebut dari balik pohon besar. Riky keluar dari mobil, lantas dia masuk ke rumah Nia.


"Mas Riky, bukankah tadi pagi aku sudah katakan supaya jangan terlalu sering kemari. Kamu kan sudah datang tadi pagi, tetapi kenapa datang lagi?"


"Aku mohon dengarkan apa yang aku katakan, mas. Aku nggak mau menambah masalah di dalam hidupku."


Nia merasa tak suka dengan kedatangan Riky ke rumah. Hal ini membuat Riky sangat kecewa dan sedih.


"Nia, tolong janganlah kamu bersikap seperti ini padaku. Aku hanya ingin menepati janjiku pada almarhum Rocky. Jika kamu bersikap seperti ini, sama saja kamu akan membuat sedih dirinya di alam sana."

__ADS_1


Nia sama sekali tak menghiraukan apa yang di katakan oleh, Riky.


"Ronald sedang tidur, sebaiknya Mas Riky pulang saja!"


Nia pun masuk berlalu meninggalkan Riky yang masih terpaku diam menatap kepergian dirinya.


"Ya Allah, kenapa malah jadi seperti ini? dengan aku menjadi Riky malah aku tak bisa dekat dengan anak dan istriku. Apa yang harus aku lakukan?"


Dengan langkah gontay dan lemas, Riky berlalu pergi meninggalkan rumah Nia.


"Nah itu, Riky. Kenapa wajahnya terlihat murung, dan dia hanya sebentar saja dari rumah Nia? aku kok jadi penasaran apa yang sebenarnya dia lakukan di rumah, Nia? sayang sekali aku tak bisa melihat apa saja yang di katakan oleh Nia dan Riky."


Lina menghela napas panjang, seraya terus menatap kepergian mobil Riky.


Sementara di rumah, Mariam. Dika sedang memikirkan Nia. Dia sangat iba mendengar kabar berita tentang suami, Nia.


Karena selama ini, Mariam masih menjalin pertemanan dengan, Nia.


"Mas Dika, kenapa kamu melamun?"


"Nggak apa-apa, kepalaku sedang pusing."


"Minumlah obat, atau aku kerikin?"


"Tumben kamu nggak keluar main bersama, Nia?" Dika sengaja ingin mengorek keterangan tentang Nia dari mulut istrinya.


"Sejak meninggalnya suaminya, dia lebih suka di rumah. Dan apa lagi saat ini dia sedang hamil muda, katanya malas untuk pergi-pergi."


"Hamil?"


"Ya, mas. Pada saat empat puluh hari suaminya, dia sedang hamil satu bulan katanya. Berarti saat ini usianya sudah menginjak jalan dua bulan."


"Kasihan ya, mas. Di saat dia hamil justru tak ada suami di sampingnya. Aku tak bisa membayangkan betapa sedihnya, Nia saat ini."


"Hiburlah dia dengan kamu sering main ke rumahnya, supaya dia tak merasa sendirian. Bawakan makanan apa yang dia suka."


Dika menyarankan hak tersebut pada istrinya.


"Hem, iya juga ya mas. Kalau dia nggak mau di ajak keluar, mending aku yang main ke rumahnya. Terima kasih ya, mas. Atas sarannya yang bagus ini."


"Iya, sama-sama."

__ADS_1


"Jika Nia tak melarangku menemui dirinya. Aku pasti akan sering menjenguk dirinya dan memberikan penghiburan baginya. Apa lagi saat ini dia sedang hamil muda, pasti pikirannya sangat sensitif mudah sedih."


Dika terbawa perasaan hingga dia kembali melamunkan, Nia.


"Mas Dika, kenapa melamun lagi sih? apa di kantor sedang ada masalah?"


"Nggak kok, mumpung masih sore kamu nggak main ke rumah Nia?"


"Hem, iya juga ya?"


"Enaknya bawa apa ya?"


'Masa kamu nggak tahu jika orang sedang hamil sukanya apa? lebih baik kamu tanya saja padanya, sedang ingin makan apa?" Saran Dika.


"Hem, benar juga."


Saat itu juga Mariam menelpon Nia.


"Hallo, Nia. Aku ingin main ke rumahmu sekarang juga, apakah kiranya ada yang ingin kamu makan? biasa kalau wanita hamil kan suka ngidam sesuatu."


"Wah, serius kamu akan kesini? bolehkah aku minta tolong sekalian belikan aku mie ayam pangsit tiga porsi, yang satu untuk mamahku yang dua untukku. Nanti kalau kamu sudah sampai di sini, uangnya aku ganti."


"Ok, siap. Ya sudah aku otw sekarang juga cari pesananmu dulu ya?"


"Hati-hati ya, dan terima kasih sebelumnya."


Saat itu juga keduanya mematikan panggilkan telepon. Nia dengan penuh semangat langsung berganti pakaian dan lekas pergi tanpa lupa berpamitan pada suaminya.


"Mas, aku pergi dulu ya ke rumah Nia. Tadi dia juga memintaku membelikan mie ayam pangsit."


Mariam mencium punggung tangan suaminya.


"Iya, sayang. Kamu yang hati-hati ya, ini ada uang untukmu. Bisa untuk membeli mie ayam dan bensin."


Dika memberikan uang dua lembar ratusan ribu.


"Mas Dika, aku akan susah di beri jatah bulanan."


"Sudahlah, terima saja."


"Terima kasih ya suamiku tercinta."

__ADS_1


Mariam menerima uang tersebut dengan penuh suka cita.


Dia lekas melajukan motor maticnya untuk terlebih dahulu mencari pesanan untuk Nia. Kebetulan pesanan Nia tak begitu susah hingga mudah di dapat olehnya.


__ADS_2