
Waktu begitu cepatnya berlalu, kini baik Ronald maupun Reyna telah berusia satu tahun. Sementara Dika sampai detik ini belum juga menikah dengan, Mariam.
"Nak, hubungan mu dengan Mariam sudah cukup lama. Kenapa kalian belum juga menikah?"
"Iya, Dika. Menunggu apa lagi?"
Orang tua Dika mulai resah dengan hubungan anaknya.
"Mariam yang belum mau menikah denganku, mah-pah."
"Oh begitu ya, ya sudah dech mau bagaimana lagi."
Sekarang orang tua Diamka sudah tak mengekang anaknya lagi. Dia membebaskan anaknya untuk berhubungan dengan wanita yang di cintainya.
Mereka trauma dengan kejadian yang telah lalu dimana Dika sampai mengalami depresi.
Kehidupan bahagia selalu mengikuti rumah tangga Nia dan Rocky. Menjelang anak mereka umur satu tahun, Nia kini tengah hamil lagi.
"Hoek Hoek Hoek "
Hampir setiap pagi Nia alami morning sickness.
"Sayang, kamu nggak apa-apa, sebaiknya kita ke dokter saja yuk?"
"Nggak usah, mas. Ini hal yang wajar di alami oleh setiap ibu hamil."
"Hah, jadi kamu benar-benar hamil lagi? Alhamdulillah, senangnya aku. Mau punya anak lagi."
"Iya, mas. Aku kan sengaja nggak ikut KB karena ingin mewujudkan keinginan, Mas Rocky yang ingin punya banyak anak."
"Hhheee, terima kasih sayangku. Btw berapa bulan ini calon anak papah."
Rocky sangat senang terus saja mengusap perut Nia yang masih rata.
"Baru satu bulan, mas."
"Jaga kesehatan selalu ya, sayang. Jangan terlalu cape, jika perlu nanti aku tambah asisten rumah tangga."
"Nggak perlu, mas. Boros amat tambah asisten rumah tangga? sudah cukup dua saja dan baby sitter satu."
"Apa nggak sebaiknya kamu tak ke butik dulu? di handle salah satu anak buahmu saja, sayang."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, mas. Jika aku di rumah saja malah nggak sehat. Terpenting jangan terlalu cape."
"Ya sudah, terserah kamu saja dech bagaimana baiknya."
Nia bukan tipe wanita pemalas, dia wanita yang pekerja keras dan mandiri. Sehingga walaupun hamil, dia tetap bekerja.
Pada saat telah sampai di butik, dirinya terhenyak kaget karena melihat seseorang yang sepertinya tak asing lagi baginya.
"Bukankah pria dan wanita ini yang pernah aku temui pada saat berada di wahana? dan sepertinya aku sudah tak asing lagi dengan pria di hadapanku ini."
"Selagi, Nia menggerutu di dalam hati dan mengamati sosok pria dan wanita yang ada di hadapannya, secara tiba-tiba seorang karyawannya datang dan mengatakan banyak hal tentang sepasang suami istri yang ada di hadapannya tersebut.
"Bu Nayla, bapak dan ibu ini ingin memesan beberapa kemeja seragaman yang menyerupai batik."
"Nayla, aku pikir dia ini Nia? berarti benar apa yang dikatakan pria bersamanya pada waktu kita bertemu di wahana."
Nando terus saja mengamati Nayla dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Postur tubuh, kulit sama persis. Hanya potongan rambut yang berbeda. Ternyata waktu itu aku salah orang, benar apa yang istriku katakan jika dia ini hanyalah mirip dengan, Nia."
"Mas Nando, kenapa diam? Bu Nayla, bertanya pada kita."
Sontak saja Nando terhenyak dari lamunannya.
"Ada, pak. Sebentar saya ambilkan motif-motif kemeja batik yang sedang tren sekarang."
Nia pergi sejenak untuk mengambil beberapa sample kemeja batik baik untuk pria maupun wanita.
"Ini ada beberapa sample untuk kemeja batiknya, yang ini untuk pria dan yang ini untuk wanita."
Nia meletakkan beberapa sample kemejanya di atas meja yang ada di hadapannya.
Sejenak Nando dan Nita mengamati modelnya satu persatu kemeja batik tersebut.
"Mengenai ukurannya bagaimana ya, Bu Nayla?"
"Untuk ukuran bisa kamu sesuaikan dengan pesanan..Misal anda ingin memesan ukuran jumbo kami juga bisa."
"Lantas untuk harga bagaimana ya, Bu Nayla?"
"Harga juga di sesuaikan dengan ukurannya. Karena setiap ukuran harganya beda."
__ADS_1
"Dan harga juga bisa di sesuaikan dengan jumlah pesanan barangnya."
Dari tadi Nita yang aktif bertanya pada, Nia. Sementara Nando malah asik mengamati wajah, Nia tanpa berkedip.
"Kami juga tidak bisa mengerjakan jahitan secara mendadak, bu-pak. Misalkan anda memesan untuk satu bulan mendatang kami bisa mengerjakannya. Tetapi jika anda memesan sekarang tetapi untuk satu miggu atau dua Minggu mendatang, kami tak bisa."
"Karena penjahit kami juga harus menyelesaikan pesanan yang sebelumnya dahulu. Tidak langsung mengerjaksn pesan,bapak-ibu.'
"Bagaimana kalau yang sudah jadi, ada nggak, Bu Nayla?"
"Hem, banyak juga. Tetapi ukurannya yang mungkin sudah tidak komplit lagi."
Sejenak Nita berdiskusi dengan Nando. Bagaimana baiknya. Mereka datang ke butik Nia karena mendapat rekomendasi dari teman yang kebetulan sudah menjadi langganan tetap butik tersebut.
Hingga pada akhirnya mereka memperoleh kesepakatan. Mereka memesan kemeja batik karena untuk acara hajatan pada saudara, Nita.
Setelah cukup lama, Nando dan Nita berada di salah satu butik milik Nia. Mereka pun berlalu pergi. Dan seperginya sepasang suami istri tersebut, kembali lagi kepala Nia sakit.
Sejenak ada bayangan di pelupuk mata dia. Bayangan pria yang barusan datang kini mengghantuinya di dalam pikiran, Nia.
"Kenapa pria tadi ada di otakku? apakah memang dia ada hubungannya dengan masa laluku?"
"Silahkan kamu pergi, Nia! selangkah saja kamu pergi dari rumah, aku anggap hubungannya rumah tangga kita telah selesai!"
Kata-kata tersebut terlintas di benak, Nia. Beribu kenangan masa lalu yang berhubungan dengan, Nando kini tiba-tiba bermunculan di benak, Nia.
"Apakah ingatanku mulai kembali? aku sudah ingat siapa pria tadi. Ya, dia kan Mas Nando. Mantan suamiku yang sangat posesif."
"Karena sifatnya itulah, aku jadi menggugat cerai dirinya. Dan karena dia punya banyak sekali pacar."
"Alhamdulillah ya Allah, perlahan kenangan masa laluku telah kembali tanpa aku mengharapkan kembali."
"Tetapi aku akan selalu ingat pesan mamah. Aku akan tetap menyamar sebagai, Nayla."
"Karena aku ingat betul, adanya aku hilang hingatan karena ada dua orang tak di kenal mendorong ku ke jurang."
"Aku rasa memang ada orang yang tak suka padaku. Jadi nggak ada salahnya jika aku selalu waspada dan tetap dengan penyamaranku walaupun nantinya ingatan aku telah pulih."
"Baiknya bagaimana ya?apakah aku ceritakan pada Mas Rocky jika aku perlahan sudah mengingat masa laluku walaupun belum semuanya?"
"Hem, sebaiknya jangan dech. Biar saja Mas Rocky beranggapan kalau aku masih hilang ingatan.".
__ADS_1
Nia terus saja menggerutu di dalam hatinya. Ada rasa bahagia ingatan mulai kembali, tetapi ada rasa khawatir. Jika dirinya punya masa lalu dengan pria lain.
"Sejauh ini aku baru mengingat mantan suamiku. Aku nggak tahu apakah ada seorang pria di masa lalu yang aku cintai? jika memang ada lantas aku harus bagaimana ya?"