CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Gelisah


__ADS_3

Setelah sejenak membeli lotek, barulah Riky melajukan mobilnya menuju arah pulang rumah, Nia.


"Terima kasih, Mas Riky. Bagaimana kamu tahu jika aku ingin makan lotek?"


"Jelas tahulah, karena dari tadi kamu melihat tukang lotek sampai tak berkedip."


Ada rasa malu pada diri Nia, tapi dia mencoba bersikap biasa saja. Tak berapa lama, sampailah mereka di pintu gerbang rumah Nia.


Sejenak dia terdiam menunggu pintu gerbang di bukakan oleh asisten rumah tangga, Nia.


Setelah di bukakan, barulah Riky melajukan mobilnya masuk. Di teras halaman telah menunggu, Nani.


"Nayla, aku langsung pulang ya. Besok kalau ada kabar terbaru dari kantor polisi aku pasti kabari kamu."


"Ya, mas. Terima kasih dan hati-hati di jalan."


"Tante, aku lekasan ya. Karena ada hal lain yang mau aku urus."


"Iya, nak. Hati-hati."


Seperginya Riky, Nani bertanya banyak hal pada Nia.


"Nia, barusan Riky katakan kantor polisi. Apa yang terjadi hingga kalian sampai berhubungan dengan aparat polisi?"


Nia menceritakan semuanya pada mamanya tentang apa yang barusan terjadi.


Nani sangat fokus mendengar cerita dari, Nia. Dia hampir tak percaya Jika ternyata, Lina ingin mencelakai Nia dan ternyata selama ini menyukai almarhum Rocky.


"Lihatlah betapa perhatiannya Ricky pada mu. Jika tidak ada Riky mungkin saat ini kamu telah celaka oleh anak buah, Lina."


"Ricky benar-benar menjalankan permintaan terakhir dari almarhum Rocky. Dia benar-benar menjaga dirimu, lantas kamu masih saja ragu dengannya?"


"Iya,mah. Aku tahu itu, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Jika memang kelak aku berjodoh dengan Mas Riky pasti tidak akan kemana kita akan bersama. Jadi Mama tak usah khawatir akan hal ini."


"Jodoh tidaknya seseorang itu tergantung pada kemauan orang itu sendiri. Jika kamu tak membuka hatimu sedikitpun untuk Ricky mana mungkin kamu bisa berjodoh dengannya."


"Mah, semua itu butuh waktu butuh proses. Apalagi meninggalnya almarhum Mas Rocky belum ada tiga bulan. Aku masih dalam masa berkabung tidak pantas rasanya tiba-tiba aku membuka hati untuk pria lain. Walaupun pria tersebut adalah saudara kembar dari almarhum Mas Rocky."


"Tolong mamah ngertiin aku sedikit. Saat ini aku sedang fokus dengan kehamilanku, mah. Jadi jangan menambah beban pikiran aku."

__ADS_1


"Maafkan mamah, Nia. Mamah hanya ingin melihatmu bahagia dengan memiliki pendamping kembali."


"Sabar ya, mah. Ada dan tak adanya pendamping, aku tetap bahagia kok. Asalkan mamah dan Ronald selalu sehat, itu saja sudah cukup buatku."


Mendengar pernyataan Nia, membuat Nani terharu. Dia pun tak kuasa menitikkan air matanya.


"Mah, aku minta maaf jika kata-kata aku melukai mamah hingga mamah menangis."


Nia merasa iba melihat mamahnya menangis di depannya.


"Nia, mamah menangis karena terharu. Kamu lebih mementingkan mamah dan Ronald dari pada dirimu sendiri."


"Sudahlah, mah. Jangan di bawa bersedih, sebaiknya kita makan lotek saja yuk. Aku sudah lapar sekali."


Nia pun sengaja mengalihkan pembicaraan supaya mamahnya tak bersedih lagi.


Nia dan Nani beranjak masuk ke dalam rumah menuju ke ruang makan. Mereka makan bersama dengan penuh keceriaan sudah tidak ada lagi kesedihan pada wajah Nani seperti waktu tadi.


Sementara saat ini, Lina sedang meratapi kesedihannya di dalam jeruji besi. Dia sama sekali tak menyangka jika usahanya tidak hanya gagal, tetapi juga dirinya akan mendekam lama di balik jeruji besi.


"Aku tak menyangka jika aku akan berakhir tragis seperti ini. Bagaimana dengan nasib orang tuaku jika aku di penjara?"


"Ternyata otak Riky lebih cerdas dari pada, almarhum Rocky. Hingga mampu membongkar kejahatan aku dalam waktu sesingkat ini."


"Semua bukti sudah jelas mengarah padaku dan aku juga sudah tak dapat lagi mengelak."


"Haduh, pusing sekali diriku ini. Aku hanya memikirkan nasib orang tuaku saja."


Lina terus saja menggerutu di dalam hatinya. Dia bingung, panik, gelisah. Dia memikirkan bagaimana nasib orang tuanya kelak, jika dirinya di penjara. Apa lagi saat ini kondisi ayahnya belum juga pulih.


Selagi panik dan gelisah, tiba-tiba ibunya sudah ada di hadapannya. Lina pun terhenyak kaget.


"Ibu, bagaimana ibu tahu jika aku ada di sini?"


"Semua orang tahu, jika kamu. di bawa oleh aparat polisi. Ibu sama sekali tak menyangka dengan apa yang kamu lakukan ini, Lina."


"Apa kamu nggak mikir bagaimana nantinya nasib ibu dan ayah? apa lagi saat ini ayah masih ada di rumah sakit. Hanya kamu yang kami punya, dan kamu pula yang selama ini membantu kami."


Tiba-tiba air mata ibunya tercurah begitu saja.

__ADS_1


"Ibu, aku minta maaf aku khilaf."


"Lina, seharusnya kamu berpikir seribu kali jika ingin bertindak hal buruk seperti ini. Jangan langsung bertindak saja."


"Ibu, bukannya sudah aku katakan barusan jika aku khilaf. Namanya orang khilaf kan nggak mikir apa pun."


"Ibu, aku minta tolong pada ibu. Mintalah supaya Nayla atau Riky mencabut tuntutan mereka. Sepertinya jika ibu yang memohon, pasti mereka akan iba, lantas mencabut tuntutannya."


"Entahlah, Lina. Ibu malu jika harus memohon pada orang, apa lagi sudah jelas sekali jika kamu ini salah."


"Bu, aku mohon pada ibu. Jika aku tak jadi di penjara, ibu dan ayah kan tidak akan hidup terlantar. Sekarang bayangkan saja, jika aku ada di penjara. Siapa yang akan mengurus kalian berdua?"


Sejenak ibunya, Lina diam seolah sedang berpikir dengan apa yang di katakan oleh, Lina.


"Baiklah, Lina. Ibu akan berusaha membujuk mereka untuk mencabut tuntutannya terhadap dirimu."


"Tapi ibu mohon padamu. Jika usaha ibu berhasil, ibu minta kamu minta maaf pada mereka dan jangan pernah kamu ulangi lagi hal ini."


"Baiklah, Bu. Aku janji akan menuruti apa nasehat ibu. Aku tak akan ulangi lagi."


Saat itu juga Ibu Lina pulang, tetapi dia akan menyambangi rumah Nia. Ibunya akan membujuk Nia supaya mencabut tuntutannya terhadap Lina.


Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Nia.


Dia mondar mandir di depan pintu gerbang membuat empat anak buah Riky merasa curiga dan menghampiri wanita paruh baya tersebut.


"Ibu, ada perlu apa di depan pintu gerbang rumah, Nona Nayla?"


"Saya ingin bertemu dengannya penting. Apa anda bisa membantu saya?"


"Jelaskan dulu apa kepentingan anda ini, ibu. Baru saya akan bantu ibu untuk bisa bertemu dengan, Nona Nayla."


"Saya ingin memesan seragaman baju batik. Saya ingin telpon tapi kebetulan ponsel saya baru saja di copet di angkutan umum."


"Tolong pertemukan saya dengan, Nona Nayla. Ini sangat penting."


Ibunya Lina terus saja memelas pada salah satu anak buah Riky. Dan tiga anak buahnya yang lain saling berpandangan.


****

__ADS_1


__ADS_2