
Waktu begitu cepat berlalu, kini sudah enam bulan berlalu dan Mariam belum juga hamil. Dirinya mulai resah dan cemas kembali.
"Mas Dika, bagaimana ini? sudah enam bulan berarti tinggal sisa enam bulan lagi dari waktu yang telah di tentukan. Tapi aku belum juga hamil."
"Sayang, berapa kali aku harus katakan padamu. Supaya kamu tak perlu cemas seperti ini. Serahkan semuanya pada, Allah." Dika merasa kesal juga pada istrinya karena tak pernah mendengarkan apa yang di katakan olehnya.
Mariam tak bisa berkata lagi, dia hanya diam saja mendengar perkataan dari suaminya.
"Hem, aku tahu pasti saat ini Mas Dika merasa kesal padaku. Tapi aku tak bisa menutupi rasa cemasku ini. Karena aku benar-benar khawatir. Ya Allah, semoga di sisa waktu yang di tentukan oleh Nia, ada suatu keajaiban dariMu. Aku bisa merasakan hamil," Doanya di dalam hati.
Tanpa sepengetahuan Dika, Mariam terus saja menghitung hari demi hari waktu kebersamaan dirinya dengan Ina. Dia juga benar-benar tak menyia-nyiakan waktu yang tak lama tersebut untuk bisa lebih dekat dengan, Ina.
"Aku tak yakin, jika kelak aku bisa melepas kepergian Ina dengan ikhlas. Aku pasti akan selalu merindukan dirinya. Karena aku sudah anggap dia anak kandungku sendiri. Kenapa pula di saat aku sudah sangat sayang pada Ina, harus menghadapi hal seperti ini." batinnya penuh keluh kesah.
"Aku melihat jia Mas Dika tak merasa seperti diriku. Aku lihat dia santai saja. Sementara aku selalu tak nyenyak tidur tak enak makan selaku membayangkan saat perpisahan dengan, Ina. Apa mungkin hati nurani seorang ibu dan seorang ayah jauh berbeda ya?" terus saja Mariam menggerutu sendiri di dalam hati.
Dika memang tak ambil pusing untuk masalah Ina, jika memang susah waktunya di kembalikan dia akan kembalikan Ina pada mamah kandungnya. Apa lagi Dika tahu jika mamah kandungnya adalah wanita yang pernah dia cintai begitu lama. Jadi dia takkan tega jika Ina terlalu lama ada di rumahnya.
Hatinya lebih condong ke Nia dari pada ke Mariam. Tapi sampai detik ini, Mariam belum tahu juga jika dirinya adalah mantan kekasih dari, Nia.
Baik Nia maupun Dika sama-sama saling menjaga rahasia ini. Supaya Mariam tidak mengetahuinya, bahkan mereka juga menjaga jarak.
Nia sengaja meminta pada Dika untuk menjaga jarak dengan dirinya karena dia tak mau suatu saat nanti rasa cinta mereka tumbuh kembali. Nia tak ingin menyakiti hati, Mariam. Karena bagaimanapun Mariam sudah menjadi sahabat baik, Nia.
Dika memutuskan untuk pergi sejenak mencari kesegaran di luar sana, karena dia suntuk berada di rumah. Selalu saja mendengar keluhan dari, Mariam tentang Ina.
"Mas Dika, kamu mau kemana? bukannya ini hari minggu kenapa mau pergi?"
"Aku suntuk setiap hari mendengar keluhanmu tentang Ina. Aku ingin mencari kesegaran di luar sana."
"Maksudnya kesegaran bagaimana, Mas Dika?"
__ADS_1
"Aku ingin main sejenak ke danau tempat favoritku."
"Ya sudah, hati-hati. Kalau bisa pulangnya jangan terlalu sore."
"Hem, baiklah."
Dika melajukan mobilnya menuju ke danau favoritnya dulu bersama dengan, Nia. Entah kenapa hingga sampai detik ini tempat itu adalah tempat kesukaannya. Tidak ada lagi tempat lain yang dia suka, hanya danau kenangan selama dulu bersama dengan, Nia.
Hanya beberapa menit saja, Dika telah sampai di danau tersebut. Dia pun duduk di tempat dulu dimana dia suka duduk bersama dengan, Nia.
"Biasanya jika aku kemari, Nia juga datang kemari. Tetapi kini dia tidak datang sama sekali."
"Apa memang dia sudah benar-benar melupakan cintanya padaku? padahal aku masih ada rasa cinta walaupun kini aku telah menikah dengan wanita lain."
Sejenak Dika melamun membayangkan masa yang lalu dimana saat dirinya masih bersama dengan, Nia.
Masa-masa indah saat berpacaran dulu tiba-tiba terlintas begitu saja di pelupuk mata, Dika. Sejenak dia tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Untung saja di tempat ini tidak ada orang lain selain aku sendiri. Jika ada pasti aku akan malu dan dikatain gila," batinnya celingukan seraya memijit pelipisnya.
"Sampai kapan aku akan seperti ini, selalu saja teringat Nia. Dan jika aku sedang suntuk, hanya tempat ini yang selalu berhasil mengobati rasa suntukku. Tempat ini bagaikan obat mujarab bagiku."
Sejenak Dika terdiam lagi, tanpa sadar dia terbayang lagi mas indah bersama dengan Nia. Hingga tak sadar sudah dua jam, Dika berada di danau tersebut.
Ternyata rasa yang saat ini di rasakan oleh Dika sedang menyerang, Nia.
"Ya Allah, kenapa aku tiba-tiba ingat Mas Dika. Apakah saat ini dia baik-baik saja? kenapa hati ini bergetar hebat, ada apakah ini?'
Nia tidak tahu jika saat ini Dika sedang memikirkan dirinya di danau tempat kenangan manis mereka berdua.
"Aku khawatir terjadi sesuatu pada, Mas Dika. Tapi bagaimana caranya supaya aku mengetahui keadaan dirinya?" batin Nia semakin gelisah.
__ADS_1
Hingga dia punya cara yang jitu, untuk bisa mengetahui kondisi Dika saat ini. Dia akan datang ke rumah Dika dengan alasan menjenguk, Ina.
"Mas Riky, maukah kamu temani aku?"
"Memangnya kamu mau kemana, sayang? aku akan siap selalu menemanimu kemanapun kamu pergi."
"Aku ingin menjenguk, Ina."
Raut wajah Riky yang semula ceria kini berubah menjadi masam mendengar kata-kata Nia yang terakhir.
"Jenguk Ina atau kangen Dika?" sindir Riky mulai keluar api cemburunya.
"Astaghfirullah alazdim, Mas Riky. Kenapa kamu seperti ini? aku pikir sifatmu tidak sama seperti almarhum Mas Rocky. Kenapa cemburu sih? apa salah aku ingin bertemu dengan anak kandungku? ya sudah jika tak mau menemani, aku tidak jadi pergi."
Nia merasa kecewa dengan ucapan suaminya.
"Ternyata hati, Mas Riky peka juga. Seolah dia tahu jika sebenarnya di dalam hatiku ingin bertemu dengan, Mas Dika," batin Nia.
Riky merasa iba pada Nia, hingga dia meminta maaf padanya.
"Sayang, aku minta maaf. Aku hanya bercanda kenapa kamu marah seperti ini?"
"Aku tidak marah, mas. Aku tidak suka caramu bercanda seperti ini. Sudahlah, mas. Jika kamu tak mau menemaniku ya sudah, aku nggak apa-apa kok." Nia beranjak pergi melangkah keluar kamar.
Tetapi Riky meraih jemari tangannya.
"Sayang, aku mau kok menemanimu menjenguk, Ina. Berdandanlsh yang cantik."
"Nggak, mas. Aku tidak akan dandan, yang ada nanti kamu salah paham lagi. Biar aku seperti ini saja, hanya akan berganti pakaian saja sudah cukup buatku."
"Hem, baiklah jika begitu."
__ADS_1
Nia hanya berganti pakaian yang lebih pantas saja. Dia hanya mengoleskan sedikit bedak dan lips glos. Setelah itu mereka berangkat ke rumah Dika.