CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Dika Di Bawa Ke Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Semakin hari orang tua Dika semakin di repotkan olehnya. Karena Dika semakin hari semakin berulah. Sering kali tiba-tiba mengamuk, berteriak tak jelas. Membanting semua barang yang ada di kamarnya.


"Pah, bagaimana ini? jika kondisi Dika seperti ini, kita takkan bisa mengendalikannya."


"Papah juga bingung, mah. Apa lebih baik kita bawa Dika ke rumah sakit saja?"


"Rumah sakit jiwa maksud, papah?"


"Iya, mah. Dari pada semakin hari, Dika semakin parah. Dia anak kita satu-satunya, mah. Pewaris tunggal kita."


"Tapi, pah. Apa kata orang-orang jika mengetahui, Dika ada di rumah sakit jiwa? pasti semua orang akan mengejek kita. Terutama teman sosialita mamah."


"Dari pada terlanjur dan tak dapat di sembuhkan. Mending kita bawa kerumah sakit secepatnya, supaya lekas kembali seperti sediakala."


"Ya sudah, terserah papah saja dech. Mamah juga sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, melihat kondisi Dika."


Saat itu juga, mereka membawa Dika ke rumah sakit jiwa. Hal ini membuat Dika mengamuk.


"Mah-pah, aku nggak mau di bawa kemana-mana! aku mau di rumah saja!"


Pada saat telah sampai di rumah sakit jiwa pun, Dika tak mau keluar dari mobil. Hingga akhirnya beberapa perawat pria turun tangan memaksa Dika keluar dari mobilnya.


"Lepaskan! aku ini waras, tidak gila! mah-pah, jahat sekali kalian padaku!"


Dika terus saja berteriak histeris, memberontak menolak untuk di bawa masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Sesampainya di ruang periksa, Dika di ikat tangan kanan dan kirinya. Setelah itu dokter menyuntikkan obat penenang sehingga saat itu juga, Dika tertidur pulas.


Orang tuanya menceritakan semuanya pada sang dokter, awal mula Dika tak bisa mengontrol emosinya. Dan segala sebab akibatnya.


"Bapak -ibu, seharusnya kalian sebagai orang tua harus bisa bersikap bijaksana. Jangan hanya mementingkan rasa dendam kalian saja."


"Jika saya menelusuri cerita dari kian berdua, kalian telah bertindak salah dalam memutuskan suatu perkara."


"Kalau menurut saya pribadi, si wanita tersebut tidaklah bersalah. Dia juga sebagai korban keegoisan orang tuanya. Jadi kalian salah jika meluapkan amarah dan dendam kalian pada kekasih, Nak Dika."

__ADS_1


"Kalau menurut saya, Dika itu tak salah menjalin hubungan dengan kekasihnya. Bagi saya pribadi, yang penting wanita tersebut Solehah dan baik hati."


"Kalau wanitanya bukan wanita baik-baik, kalian baru memutuskan untuk menjauhkan, Nak Dika darinya."


"Jika sudah seperti ini, kalian juga kan yang bingung dan repot. Mohon maaf, jika terlalu banyak bicara."


"Nak Dika, bisa sembuh jika dia bisa benar-benar melupakan wanita yang di cintainya dan menemukan pengganti yang sepadan dengan wanita tersebut. Yang bisa membuatnya nyaman."


Panjang lebar, dokter ahli kejiwaan menasehati orang tua Dika. Tiba-tiba air mata Ambar tercurah. Dia merutuki dirinya sendiri.


"Dika, menjadi seperti ini karena ulahku sendiri. Aku menyesal ya, Allah. Tolong ampuni aku dan sembuhkan anakku."


"Aku tak sanggup melihatnya menderita ya, Allah. Aku sungguh menyesali semua perbuatan ku."


Ambar terus saja berdoa di dalam hati dan menyesali semua yang telah dia lakukan dahulu.


"Mah, sudahlah. Semua sudah terjadi jadi tak perlu kita sesali. Kini kita harus mencari seseorang yang bisa membuat Dika nyaman ada di sisinya."


"Pah, yang bisa membuat Dika nyaman hanya Nia saja. Sementara saat ini kita sajatak tahu dimana keberadaannya."


"Mamah sangat khawatir, pah. Apakah Dika akan selamanya seperti ini jika kita tak bisa menemukan, Nia?"


"Astaghfirullah alazdim, maafkan mamah, pah. Bukan mamah ingin mendoakan hal buruk terjadi pada, Dika. Mamah sudah putus asa dengan permasalahan ini, pah."


"Ya Allah, mah. Kenapa berkata seperti itu? perbanyak doa saja, mah. Supaya Allah segera membuka jalanya untuk kita bisa menyelesaikan permasalahan ini. Dan bisa membuat Dika sehat seperti sediakala."


********


Berjalannya waktu cepat sekali, kini sudah seminggu Dika berada di rumah sakit jiwa. Dia tak pernah tersenyum, hanya murung saja dan selalu melamun.


"Suster Mariam, apakah anda bisa merawat pasien itu?"


"Memangnya apa kasus yang dia alami, dok?"


Sang dokter menceritakan kasus yang membuat Dika menjadi depresi. Suster Mariam mengamati dan mendengar semua penjelasan dokter dengan seksama.

__ADS_1


"Insa Allah saya bisa, dok. Apa salahnya kita berusaha untuk bisa menyembuhkannya. Intinya positif thinking."


"Baiklah, Suster Mariam. Mulai detik ini juga, aku serahkan pasien yang bernama, Dika pada dirimu."


"Baik, dok. Saya akan berusaha semampu saya untuk bisa menyembuhkannya."


Saat itu juga, Suster Mariam menjadi perawat pribadi, Dika.


"Selamat lagi, Mas Dika. Perkenalkan nama saya, Mariam."


Mariam mengulurkan tangannya pada Dika, akan tetapi Dika tak meresponnya, dia hanya melirik sinis.


"Mas Dika, bisa anggap saya ini teman. Saya akan siap mendengarkan keluh kesah, Mas Dika."


"Pergilah, sus. Aku tak butuh dirimu, paling yang ada kamu juga seperti orang tuaku beranggapan aku ini gila! sehingga mereka membawaku kemari!"


"Siapa bilang, saya sama sekali tak menganggap anda ini gila. Saya percaya anda ini sehat, hanya ada sedikit masalah pribadi saja."


Dika mulai luluh, dia pun mulai bercerita panjang lebar pada, Mariam tanpa ada yang di sembunyikan sama sekali.


"Mas Dika, ingat nggak ada pepatah. Jodoh, maut dan rezeki sudah ada yang mengaturnya, jadi kita tidak bisa berbuat apa pun jika Allah sudah berkehendak."


"Begitu pula dengan apa yang di alami, Mas Dika. Jika Mas Dika seperti ini, sama saja Mas Dika tak menerima keputusan dari Allah."


"Sudahlah, kamu tak usah sok menasehati aku! percuma saja aku cerita padamu, jika jawabanmu hanya seperti ini."


Dika tak menghiraukan suster Mariam lagi, dia pun merebahkan dirinya dan menutup wajahnya dengan bantal. Hal ini membuat, Suster Mariam terpaksa berlalu pergi dari ruang rawat, Dika.


"Selamat malam, Mas Dika. Selamat beristirahat. Jika bisa, perbanyaklah doa supaya hati mas ada kelegaan dan tidak selalu emosi."


Suster Mariam pergi dan tak lupa mengunci pintu ruang rawat Dika dari luar. Karena dia tak ingin, Dika melarikan diri, seperti kasus beberapa pasien yang lain. Karena keteledoran dari pihak rumah sakit, beberapa pasien kabur dan menjadi repot karena harus mencari kesana kemari.


Suster Mariam adalah seorang perawat di rumah sakit jiwa tersebut yang terkenal paling sabar dan selalu berhasil menyembuhkan pasien yang dia tangani.


Belum pernah sekalipun dia mengalami kegagalan dalam merawat pasiennya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, dokter meminta dirinya kini menjadi perawat bagi, Dika.


"Aku harus sabar menghadapi pasien yang kena gangguan mental karena patah hati. Karena untuk permasalahan yang satu ini tidaklah segampang membalikkan telapak tangan."


__ADS_2