
Lina saat ini sedang merasakan bahagia dengan pemikirannya sendiri. Padahal, Nia sengaja menutup butiknya karena dia tak mau kelelahan bolak balik dari butik itu ke butik yang di pusat kota.
Dia pikir, Nia telah kalah darinya. Dan kini dia merasa telah menang.
Waktu berjalan begitu cepatnya, kini telah satu bulan berlalu. Dan kini saatnya Nia melakukan proses melahirkan.
"Hem, Nayla akan melahirkan. Aku akan membuat hal yang mengerikan dalam hidupnya. Aku akan membuat hidupnya menderita."
Lina sudah berhasil mengeruk keuntungan dengan jalan korupsi di butik milik Nia. Tetapi dia masih saja tak puas dengan apa yang di dapatnya.
Hingga pada saat Nia dalam proses melahirkan, dia menyewa jasa temannya yang memiliki profesi sebagai perawat.
Kebetulan saat itu Nia melahirkan di satu klinik bukan di rumah sakit. Karena pada saat itu Nia sedang ada ada acara di suatu desa.
Semua telah di rekayasa oleh Lina dengan sangat baik. Dia menyewa orang untuk merusak ban mobil yang sedang di tumpangi oleh, Rocky. Sehingga Rocky terlambat untuk menyusul Nia di klinik tersebut.
"Cepat tukar bayinya dengan bayi ya.g telah mati!" bisik Lina dengan menyamar memakai baju perawat.
Teman Lina bergerak cepat menukar bayi Nia yang hidup dengan bayi seseorang yang telah mati. Nia tak tahu akan hal itu karena dia tak sadarkan diri. Nia kelelahan karena mengalami pendarahan hebat.
Kebetulan bidan di klinik tersebut sedang ke ruangannya untuk mengambil beberapa alat medis yang kurang lengkap untuk menangani, Nia.
"Loh, suster. Bukannya tadi bayinya menangis dan saya rasa sehat. Ini kok bayinya kenapa jadi diam dan sudah biru seperti ini?"
"Entahlah, bu bidan. Saya juga tak tahu akan hal itu karena saya juga barusan mengecek stok darah untuk donor Nona Nayla."
Perawat ini pintar sekali berakting di depan Bu bidan. Entah bagaimana caranya dia bisa begitu mudah bekerjasama dengan Lina menukar bayi milik, Nia.
Bayi Nia yang hidup kini di bawa pergi oleh Lina.
"Aku harus apakan bayi perempuan ini? apa sebaiknya aku buang saja ke panti asuhan ya?"
"Hem, tapi sepertinya itu terlalu enak buat bayi ini dech. Apa aku rawat saja tapi kelak jika bayi sudah besar aku siksa dan buat hidupnya menderita saja ya?"
Begitu banyak pikiran picik yang ada di otak, Lina. Hingga akhirnya Lina memutuskan membuang bayi tersebut ke panti asuhan. Dia tak ingin di Bebani dengan repotnya mengurus seorang bayi.
Beberapa jam setelah Nia mendapatkan transfusi darah di sebuah klinik bersalin, akhirnya dia tersadar juga dan bertepatan dengan datangnya, Rocky.
__ADS_1
"Mas, mana anak kita?"
"Sayang, aku saja baru sampai karena terhalang ban mobil pecah dan hujan lebat pula."
"Nona Nayla, kami turut berduka ya. Nona yang sabar, anak anda telah meninggal dunia."
"Bu bidan sedang bercanda kan? saya ingat betul pada saat saya melahirkan, bayinya menangis keras. Selepas itu saya pingsan karena tak kuat menahan sakit kepala yang mendera dan rasa yang lemas."
"Iya, nona. Tapi setelah kami periksa lagi, anak anda alami kelainan jantung dari lahir."
"Nggak mungkin, bu bidan! setiap bulannya saya selalu periksa kandungan saya dan kondisi anak saya selalu sehat!"
Nia tak bisa menerima kenyataan tersebut, dia pun seketika itu juga menangis histeris memberontak.
"Sayang, sabar dulu."
Rocky tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi Nia yang sangat terpukul.
"Bu bidan, coba di cek kembali kondisi anak kami."
"Sudah berkali-kali, Tuan Rocky."
Rocky memutuskan merawat Nia di rumah dengan menyewa salah satu perawat dari sebuah rumah sakit. Dia sengaja tak menyewa perawat dari klinik tersebut.
Sesampainya di rumah, Rocky langsung mengurus pemakaman untuk bayi tersebut. Bayi yang sebenarnya bukanlah bayinya.
"Rocky, bagaimana ini bisa terjadi? setahu mamah kondisi janin, Nia baik-baik saja tak ada masalah? kenapa jadi seperti ini?"
"Entahlah, mah. Aku juga tak tahu, mungkin ini sudah takdir dari yang kuasa."
Nani hanya bisa menghela napas panjang seraya, menatap iba pada Nia yang saat ini tergolek lemas tak berdaya.
Hari berganti hari, akan tetapi Nia terus saja bersedih. Dia masih belum bisa menerima kenyataan jika anaknya meninggal.
"Anakku masih hidup, tak mungkin meninggal."
Itulah yang selalu terlontar dari mulut, Nia.
__ADS_1
*******
Satu bulan berlalu, Nia baru bisa menerima kenyataan tersebut. Akan tetapi sikap Rocky berubah padanya. Rocky menyalahkan kematian bayinya itu karena kesalahan, Nia.
"Mas Rocky, kenapa akhir-akhir ini kamu bersikap dingin padaku?"
"Kamu masih bertanya seperti ini? kamu koreksi dirimu, kesalahan fatal apa yang telah kamu perbuat sehingga merenggut nyawa anak kita. Padahal aku sudah sangat mendambakan seorang anak perempuan yang akan. melengkapi rumah tangga kita. Tapi kamu telah membuat kecewa aku!"
"Astaghfirullah alazdim, mas. Aku juga terpukul menerima kenyataan pahit ini. Kamu kira aku tak kehilangan atas meninggalnya anak kita?'
"Jika kamu dulu mendengarkan apa kataku, ini semua takkan terjadi!"
"Mas, apa maksud ucapanmu?"
"Dari awal kehamilanmu, sudah aku nasehati supaya kamu berhenti bekerja. Tetapi kamu tetap kerja, ini berdampak pada anak kita!"
"Mas, ini semua takdir! bukankah kamu setiap bulannya juga selalu mendampingi aku kontrol kandungan dan dokter selalu mengatakan bahwa janin sehat, baik-baik saja."
"Kecuali jika janin alami hal nggak sehat terus aku tetap kerja itu salah aku."
"Kamu sudah jelas-jelas bersalah, tetapi tak mau di salahkan!"
Keributan ini terdengar hingga ke kamar, Nani. Dia langsung menyambangi kamar, Nia yang kebetulan terbuka lebar.
"Kenapa kalian malam-malam bertengkar sih?"
"Mah, ini urusan rumah tangga kami. Jadi mamah tak usah turut campur!"
"Mas, kenapa kamu berkata kasar pada mamah aku?"
"Nia, sudahlah. Mamah memang salah kok, nggak seharusnya mamah bertanya. Ya sudah silahkan selesaikan masalah kalian, tapi mamah minta dengan jalan damai. Jangan bersi tegang seperti ini."
Nani berlalu pergi meninggalkan kamar Nia dengan hati kecewa dan sangat sedih. Karena ini pertama kalinya, anak dan menantunya bertengkar hebat.
Nia hanya bisa menangis karena dia sudah tak bisa berkata lagi. Sedangkan Rocky terus saja mengomel nggak ada ujung pangkalnya. Hingga dia merasa lelah dan akhirnya tertidur.
Pagi menjelang, Nia mengira suaminya telah berubah menjadi lebih baik. Tetapi dia salah, suaminya malah semakin bersikap dingin padanya.
__ADS_1
Sama sekali tak ada satu kata pun. terlontar dari mulut, Rocky kembali. Kini mereka berdua bagaikan dua orang asing.