
Hari berganti hari, lambat laun mulai tumbuh cinta di dalam hati, Nia pada Riky. Kini Nia sudah tak canggung lagi pada suaminya. Hal ini tentu saja membuat, Riky sangat bahagia.
Selagi berdua duduk di teras halaman bersama dua buah hatinya, tiba-tiba ponsel Riky berdering.
"Hallo, Tuan Riky. Anda dan Nona Nayla di minta datang ke lapas di mana saat ini, Saudari Lina di tahan."
"Memangnya ada apa ya, pak?"
"Saat ini kondisi, Saudari Lina sedang kritis. Dia ingin berbicara sesuatu pada kalian berdua."
"Baiklah, pak. Kami akan segera datang ke lapas."
Panggilan telpon langsung di matikan oleh kedua belah pihak. Rikky langsung mengajak Nia ke lapas di mana saat ini Lina di rawat.
Hanya beberapa menit saja telah sampai di lapas. Riky dan Nia langsung menemui Lina yang sedang di rawat di salah satu ruang rawat yang ada di ruang kesehatan di lapas tersebut.
"Nayla, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu sebelum aku pergi."
"A-aki ingin miinnnnta ma-afa a-atas ke-sa-la-han-ku pa-damu. A-ku i-ingin me-nga-ta-kan pa-da-mu, bah-wa ba-yi-mu yang sem-pat ka-mu ki-ra ma-ti, se-be-nar-nya ma-sih hi-dup."
"A-ku yang te-lah me-nu-kar ba-yi-mu de-ngan ba-yi yang te-lah ma-ti."
"Dan ba-yi-mu a-ku bu-ang ke pan-ti a-su-han W."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Lina memejamkan matanya. Dia meninggal dunia pada saat itu juga.
"Mas Riky, jadi anakku yang kedua yang dulu aku pikir telah meninggal ternyata dia masih hidup."
"Sebaiknya kita langsung ke panti asuhan tersebut untuk mengambil anak kita, sayang."
__ADS_1
Mereka lekas pergi dari ruang rawat Lina. Sementara jenazah Lina segera di urus oleh pihak lapas.
Lina memiliki penyakit gagal ginjal karena dulu dia sempat mendonorkan ginjalnya atau lebih tepatnya menjual satu ginjalnya untuk biaya rumah sakit ayahnya pada saat dia belum punya pekerjaan sama sekali.
"Ya Allah, aku jadi ingat dulu. Pada saat aku marah sama, Nia dan menyalahkannya atas meninggalnya anak kami yang nomor dua." Batin Riky.
Nia masih belum percaya jika ternyata anaknya yang nomor dua masih hidup. Dia sungguh sangat bahagia hingga tak terasa air matanya menetes.
"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di panti asuhan tersebut."
"Iya, mas. Tahu saja jika aku sudah tak sabar ingin sekali memeluk anakku."
Tak berapa lama sampai juga mereka di panti asuhan tersebut dan menanyakan tentang bayi perempuan yang dua tahun lalu di letakkan di depan panti asuhan.
Nia menjelaskan kedatangannya pada pengurus panti tersebut. Dia menceritakan kejadian dua tahun yang lalu. Dia juga menceritakan perihal semua yang di katakan oleh almarhumah Lina barusan.
"Begini, mba. Beberapa bulan lalu ada yang mengadopsi anak kalian berdua. Kalau tidak salah enam bulan lalu."
Sejenak Nia memandang Riky.
"Bagaimana ini, mas?"
"Ibu, masih menyimpan nama alamat dan nomor ponsel yang telah mengadopsi anak kami?" tanya Riky.
"Sebentar, saya cek dulu. Saya selalu menyimpannya di suatu buku agenda."
Sejenak pengurus panti tersebut bangkit dari duduknya dan melangkah masuk untuk mengambil sebuah buku tebal.
Dia pun mencari-cari segala laporan pada waktu enam bulan yang lalu.
__ADS_1
"Ini nama suami istri yang telah mengadopsi anak kalian."
Melihat nama yang tertera pada buku tersebut sejenak baik Riky maupun Nia terperangah.
"Hem, jadi anakku di adopsi oleh mantan kekasih Nia!" batin Riky merasa tak suka.
"Bagaimana bisa anak kami saat ini ada di dalam asuhan Mas Dika dan Mariam? lantas bagaimana caraku untuk bisa mendapatkan anakku kembali?" batin Nia merasa ragu.
"Mas, apakah mereka mau ya menyerah anak kita?"
"Kita katakan yang sebenarnya pada mereka, pasti mereka akan mengerti kok."
"Semoga saja ya, mas. Aku sudah tak sabar ingin melihat wajah anakku, mas. Seperti diriku atau seperti almarhum Mas Rocky," batin Nia.
Saat itu juga mereka melajukan mobil menuju ke rumah Dika. Hanya beberapa menit saja telah sampai di pintu gerbang rumah Dika.
"Sebenarnya aku malas bertemu Dika, tapi ini demi anakku. Jika tidak aku ogah kesini," batin Riky mengomel.
Tak berselang lama, ada asisten rumah tangga yang membukakan pintu gerbang.
"Nia, tumben kamu datang ke rumahku?" Mariam langsung memeluk Nia.
"Hah, dari mana dia tahu Nia?" Riky sempat terperangah.
Dia sama sekali tak tahu jika selama ini Nia berteman baik dengan Mariam.
Dika juga sempat kaget melihat kedatangan Nia dan Riky.
"Ada apa mereka berdua datang kemari? nggak seperti biasanya?" batin Dika penuh dengan tanda tanya.
__ADS_1