
Setelah bertemu dengan, Lina. Hari-hari, Rocky selalu gelisah. Dia hidupnya tak tenang sama sekali. Apalagi dia harus memberi sebuah keputusan hanya dalam waktu satu minggu saja.
"Apa aku harus ambil keputusan dengan menikah siri? tetapi sama saja aku menyakiti hati, Nia."
Kegelisahan Rocky bisa di baca oleh, Nia.
"Mas Rocky, sebenarnya ada apa? aku lihat dari kemarin hingga kini kamu murung saja. Apa ada penyakit serius yang membuatmu seperti ini?"
"Penyakit, apa maksudmu?"
Rocky melupakan jika kemarin dirinya pergi dengan alasan akan ke dokter.
"Bukannya kemarin sore kamu mengurungkan makan, dan mengatakan akan ke dokter kan? lantas mana obatnya, mas? aku nggak melihat kamu makan obat pemberian dokter?"
"Ya Allah, aku malah lupa akan hal ini. Bagaimana aku harus beralasan?"
batin Rocky semakin bingung.
"Aku nggak apa-apa, kemarin memang periksa ke dokter. Tapi obatnya hilang, aku tarok di kantung celana."
"Lah kok bisa seperti itu?"
"Ya kan aku gugup pulangnya, khawatir kamu menunggu lama. Begitu sampai di rumah, aku raba kantong celananya tak ada obatnya."
"Hem, begitu ya? tapi sekarang bagaimana kondisimu?"
"Aku baik-baik saja, sudah tidak merasa pusing sama sekali."
"Lantas apa yang sedang merisaukan hatimu? kenapa kamu tak cerita padaku? apa kamu tak percaya dengan istrimu sendiri?"
"Bukan begitu, sayang. Karena memang tidak ada yang perlu aku ceritakan."
"Sepertinya, Mas Rocky sedang menyembunyikan sesuatu. Apa aku tanya saja pada pak sopir tentang kepergian Mas Rocky kemarin kemana saja selain ke dokter. Karena perginya juga lumayan lama."
Dalam hati Nia sudah berniat akan bertanya pada sopir pribadi, Rocky.
"Tapi aku menunggu waktu yang tepat di kala tak ada Mas Rocky."
Nia berlalu pergi dari kamarnya, sementara Rocky masih saja termenung sendiri.
"Sepertinya aman, Mas Rocky kan sedang ada di kamarnya. Sebaiknya aku bertanya pada pak sopir sekarang saja."
Nia melangkah ke paviliun belakang mencari pak sopir.
"Pak, kemarin suamiku selain ke dokter ada pergi kemana lagi?"
__ADS_1
"Aduh mampus aku, ini yang sedang aku takutkan. Jika aku berbicara bohong alasan apa yang tepat? jika aku jujur pasti, Tuan Rocky marah besar."
Batin pak sopir semakin bingung.
"Pak, kemana malah bengong? apa ada yang serius dengan suami saya? maksudnya pada saat ke dokter apa dia sempat cerita ke bapak jika dia punya penyakit serius atau apa?"
"Nggak ada kok, Non. Kemarin Tuan Rocky hanya menemui klien barunya. Makanya pulangnya agak lama."
"Maafkan saya, Non Nia. Jika saya jujur nanti rumah tangga kalian berantakan," batin pak sopir merasa bersalah.
"Oh ya susah, terima kasih ya pak atas informasinya."
Nia melangkah pergi ke kamar lagi untuk bersiap-siap ke butik. Sementara Rocky malah masih bermalas-malasan.
"Mas, kamu nggak ngantor?"
"Nggak, sayang. Aku sedang ingin di rumah saja."
'Oh ya sudah, istirahatlah jika terasa letih dan lelah. Tapi aku nggak bisa menemani ya, mas. Karena kebetulan di buti sedang banyak pesanan seragam batik jadi aku harus tetap kerja."
"Ya, sayang. Kamu yang hati-hati ya?"
"Iya, mas."
"Siapa yang kirim pesan pagi-pagi? apa mungkin, Mariam?"
Nia membuka satu notifikasi chat pesan.
[Hay, Nayla. Bagaimana kabarmu? oh iya, siapkan dirimu untuk menyandang status janda yang kedua kali ya jika tak ingin di madu. karena tak lama lagi suamimu akan menikah dengan wanita lain.]
Nia kaget membaca chat pesan dari nomor tak di kenal. Dia semakin penasaran dengan nomor asing tersebut.
Namun pada saat nomor di telpon sudah tak aktif.
"Siapa sebenarnya yang mengirim pesan padaku? di telpon malah tak di angkat sama sekali."
Nia berinisiatif mengirim chat pesan tersebut ke nomor ponsel, Rocky. Dia mengcopy pesan tersebut dan langsung di kirimkan ke nomor ponsel suaminya.
"Drt drt drt"
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam ponsel, Rocky.
[Mas Rocky, apa kamu mengenal nomor ponsel yang mengirim chat seperti itu padamu?]
Rocky mendadak melotot melihat isi chat pesan tersebut.
__ADS_1
"Bukankah ini nomor ponsel milik Lina? kenapa dia mengirim chat ke Nia? apa maksudnya?"
Rocky lantas membalas chat pesan dari, Nia.
[Aku tak tahu, sayang. Bisa saja orang iseng, susah tak usah di tanggapi.]
"Mas Rocky membalas seperti ini. Tetapi kenapa hatiku tak tenang ya?"
Nia mulai meras curiga ada ya g tak beres dengan, Rocky.
"Ah, mungkin apa yang di katakan oleh Mas Rocky ada benarnya. Yang kirim chat orang tak punya kerjaaan."
Nia mencoba menepis rasa curiga pada suaminya.
Sementara Rocky menelpon Lina.
"Hallo, Rocky sayang. Ini kan baru sehari, apa kamu sudah mengambil sebuah keputusan?"
"Aku ingin tanya padamu, kenapa kamu meneror istriku?"
"Teror, oh itu. Aku memang sengaja mengirim pesan padanya. Ini satu bukti jika ancaman aku tidak main-main padamu, Rocky sayang."
"Bukannya kita telah sepakat jika dalam waktu satu Minggu aku akan memberi jawaban padamu! kenapa malah kamu seperti ini!"
"Ok aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi kamu harus ingat, jika aku tak main-main dengan ancamanku! jika ternyata kamu memberikan keputusan yang merugiy padaku, aku tak segan-segan bongkar semuanya di hadapan istrimu!"
Setelah mendengar segala hal yang di katakan oleh Lina di balik panggilan telpon. Rocky langsung mematikan panggilan telponnya.
"Sialan! ini sama saja aku tak di beri kesempatan untuk memilih! Melainkan aku harus menuruti yang Lina mau! percuma jika aku meminta waktu satu Minggu untuk berpikir dan ambil sebuah keputusan!"
Rocky semakin frustasi karena di hadapkan dengan suatu pilihan yang sangat rumit.
"Ahhh, sialan! ini semua juga gara-gara Nia! jika waktu itu dia tak membuat masalah, pasti aku tak mabuk hingga aku terjerumus dalam masalah pelik seperti ini!"
Rocky memukul-mukul kepalanya sendiri. Dia benar-benar bingung dengan masalah yang di hadapinya saat ini.
Sementara di tempat Lina, diapun sedang mendengus kesal.
"Ternyata, Nayla mengadu pada Rocky dengan teror pesan yang aku kirim. Lihat saja Nayla, itu bukan hanya sekedar omong kosong. Tapi akan segera terwujud secepatnya! kamu akan tersingkir dengan sendirinya dari sisi, Rocky!"
Senyum sinis menyeruak di bibir Lina.
Dia sangat terobsesi dengan pria tampan bernama, Rocky. Hingga menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan dirinya.
Rencana jahat Lina sama sekali tak di ketahui oleh orang tuanya, terutama ibunya yang saat ini selalu setia menemani ayahnya yang berada di rumah sakit.
__ADS_1