CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Menurut Saja


__ADS_3

"Mas Rocky, tolong jangan marah terus. Aku akui salah dan aku minta maaf ya?"


Nia meraih jemari tangan Rocky.


"Hem"


Hanya itu yang keluar dari bibir, Rocky.


"Mas, aku nggak ingin kamu marah seperti kemarin lagi. Berlarut-larut hingga berbulan-bulan."


"Ya, sudahlah. Aku sudah nggak marah kok, asal kamu nggak mengulangi kesalahan yang sama.".


"Ya, mas."


Nia merasa lega karena Rocky sudah menerima permintaan maaf darinya. Kini dia bersiap-siap akan pergi ke butik yang ada di pusat kota.


"Nia, telpon salah satu karyawatimu dan katakan padanya hari ini kamu libur ke butik. Karena aku akan mengajakmu membeli ponsel yang baru dan nomor ponsel yang baru."


Rocky memberikan ponselnya pada istrinya.


Kebetulan di dalam nomor ponsel suaminya, tersimpan nomor ponsel para karyawatinya.


Sebenarnya Nia agak keberatan jika dia harus libur hanya untuk membeli ponsel. Dia ingin berkata apa nggak sebaiknya dia berangkat ke butik setelah selesai membeli ponsel. Tetapi dia urung, karena khawatir Rocky akan marah lagi.


"Ternyata sifat asli Mas Rocky seperti ini. Tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi."


Mereka pergi bersama ke mall untuk membeli sebuah ponsel.


"Mba, minta ponsel yang keluaran terbaru."


Tukas Rocky pada pelayan di sebuah galeri ponsel.


Pelayan tersebut mengambil beberapa model dan merk ponsel keluaran terbaru.


"Sayang, kamu tinggal pilih sendiri mana yang kamu inginkan."


"Mas, ini kan mahal semua. Yang harga standar saja."


Bisik Nia lirih.


"Sudah, kamu tinggal pilih saja. Dan pilih juga nomor ponsel yang cantik secantik dirimu."


Rocky sengaja bersikap romantis di hadapan para pelayan, hanya untuk pencitraan saja.


Nia hanya bisa menghela napas panjang dan memilih ponsel serta nomornya sekalian. Setelah itu, Rocky yang membayarnya.


"Sayang, kenapa aku ingin kamu libur nggak ke butik hari ini. Karena aku juga akan mengajak kamu ke suatu tempat."


"Hah, kesuatu tempat? memangnya kita akan kemana, mas?"

__ADS_1


"Hem, nanti juga kamu akan tahu."


"Nyebelin banget, pake acara main rahasia segala," gerutu Nia di dalam hati.


Rocky melajukan mobilnya ke suatu tempat yang dia inginkan. Dan tempat tersebut ternyata lumayan jauh. Dan sampailah di suatu penginapan mewah.


"Mas, kita mau kesini?"


"Iya, sayang. Kenapa kaget begitu?"


"Lantas untuk apa kita kesini, mas?"


"Hem, kamu ini bertanya yang tak perlu sebuah jawaban. Hotel kok untuk apa?"


"Kita akan beristirahat di sini hingga sore hari baru pulang."


"Kenapa nggak istirahat di rumah saja?"


"Ini yang aku nggak suka darimu, bawel terlalu banyak komplen."


"Hem, iya maaf."


"Buang-buang duit saja, ada ke hotel. Ada beli ponsel yang harganya fantastis. Mending yang di tabung saja untuk masa depan anak."


Gerutunya di dalam hati.


Rocky lekas memesan satu kamar untuk mereka berdua. Dan merangkul Nia dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


Batin Nia heran dengan sifat suaminya.


Di dalam kamar hotel, Rocky meminta hal yang pernah Nia lakukan pada saat Rocky sedang marah.


"Sayang, lakukanlah sekarang. Aku ingin kamu bersikap agresif seperti saat kemarin."


"Hah, ada-ada saja. Padahal aku sedang nggak mut sama sekali, sedang nggak berhasrat malah di minta agresif."


Keluh kesah Nia hanya bisa di pendam di dalam hati.


Nia pun menuruti kemauan suaminya, dia bersikap seagresif mungkin demi untuk menyenangkan hati suaminya. Hingga menjelang sore hari mereka melakukan penyatuan tubuh. Itupun karena Rocky yang selalu meminta lagi dan lagi.


Walaupun Nia sudah merasa lelah, tetapi dia tetap saja melayani suaminya. Supaya suaminya kembali ceria dan tak marah lagi.


"Terima kasih, sayang. Ini adalah suatu hukuman untukmu. Jika suatu saat kamu membuatku marah lagi. Aku akan hukum kamu seperti ini lagi."


"Aku tahu kamu merasa lelah kan, itu sengaja aku lakukan sebagai hukuman bagimu. Makanya jangan membuatku marah ya."


Nia hanya menyunggingkan senyum keterpaksaan. Dia sangat kelelahan karena selama penyatuan tubuh, ha hanya dia yang aktif saja.


"Mas Rocky, sangat keterlaluan sekali! membuat aku sampai lelah seperti ini, sementara dia hanya merasakan nikmatnya saja!"

__ADS_1


terus saja Nia menggerutu di dalam hati.


Sementara di suatu tempat, Dika sedang gundah gulana karena dia merasa heran akan perubahan yang terjadi pada, Nia.


"Kenapa Nia di chat hanya di baca saja? tak seperti biasanya, dia langsung membalas."


"Ada apa dengannya, kenapa pula nomor ponsel tak bisa di hubungi? aku jadi penasaran apakah saat ini Nia baik-baik saja?"


Hak serupa juga di rasakan oleh Mariam. Dia biasanya selalu berbalas chat selama berada di rumah sakit. Kini ponselnya sepi.


"Nia, kemana ya? kok nomor ponsel nggak bisa di hubungi? sayang sekali aku tak tahu tempat kerja dia."


Mariam tak bisa menemui Nia karena Nia tak pernah bercerita tentang tempat kerjanya. Hingga Mariam hanya bisa gelisah.


"Nia, kenapa kamu hilang bagai di telan bumi? padahal aku sudah cocok berteman denganmu. Apakah ada h yang telah terjadi padanya? semoga saja saat ini Nia selalu sehat-sehat saja."


"Padahal aku ingin sekali tahu bagaimana kabar rumah tangganya yang sekarang. Apakah dia benar-benar melakukan saran yang aku berikan atau tidak ya?"


Sepasang suami istri ini sedang duduk berdampingan, tetapi mereka masing-masing sedang melamunkan hal berbeda.


Hingga pada akhirnya, Mariam menceritakan keluh kesahnya pada Dika.


"Mas Dika, aku ingin cerita apakah kiranya mengganggu?"


"Hem, tidak. Cerita saja, apa kamu sedang ada masalah di rumah sakit?"


"Nggak, mas."


Lalu Mariam menceritakan semua tentang teman baiknyw tanpa mengatakan nama temannya yakni, Nia. Dika sangat mengamati cerita yang di sampaikan oleh istrinya.


"Jadi selama ini kamu telah punya teman baik? lantas kamu bertemu dimana dengan teman baikmu itu?"


"Deg" pertanyaan Dika sempat membuat jantung Mariam berdegup kencang.


"Hem, di suatu tempat mas. Intinya pada saat itu dia sedang terlihat sedih karena kematian bayinya."


Dika hanya berhooh ria tanpa ada rasa curiga sama sekali.


"Mungkin saja dia sedang ada masalah atau sedang sibuk atau terjadi sesuatu pada ponselnya. Pasti suatu saat dia akan menemui dirimu lagi."


"Hem, iya juga. Karena nomor ponsel sama sekali tak aktif hingga kini."


Setelah sejenak bercerita pada suaminya, hati Mariam sedikit lega. Walaupun masih juga memikirkan, Nia.


Saat ini Nia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama dengan Rocky. Dia ingin langsung tidur saja karena rasa lelah yang mendera. Tetapi itu rasanya tak mungkin karena banyak hal yang harus dia kerjakan.


Sementara Rocky kini tengah tidur pulas.


"Hem, enak banget jadi seorang suami. Bisa berbuat sesuka hati pada seorang istri!"

__ADS_1


Batin Nia geram.


__ADS_2