CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Honeymoon


__ADS_3

Pagi menjelang, aktifitas berjalan seperti biasanya. Kali ini Dika dan Mariam sedang dalam perjalanan honeymoon ke Bali.


"Sayang, kenapa kamu memilih kita honeymoon ke Bali? padahal aku menawarkan ke berbagai negara?"


"Nggak apa-apa, mas. Aku nggak ingin pergi jauh-jauh, bisa pergi ke Bali saja aku sudah sangat senang."


Perjalanan mereka lalui dengan penuh suka cita, tetapi mendadak wajah Mariam berubah suram pada saat di pesawat berpapasan dengan seorang pria yang mirip sekali dengan almarhum kekasihnya.


"Astaghfirullah alazdim, pria barusan milik sekali dengan, Mas Aris. Kenapa pula jantungku berdetak kencang ketika bertemu dengannya? setahuku Mas Aris tak memiliki saudara kembar," batin Mariam di liputi oleh tanda tanya.


"Maaf, mba. Saya tak konsentrasi sehingga menabrak, mba," ucapnya tersenyum ramah.


"Nggak apa-apa, mas. Saya juga salah nggak lihat-lihat jalan."


Hati Mariam semakin tak menentu pada saat pria tersebut menatapnya dengan penuh rasa cinta. Hal ini membuat kecemburuan bagi, Dika.


"Maaf, tolong jangan menatap istri saya seperti itu."


Pria tersebut segera pergi dari hadapan Dika dan Mariam. Tetapi Mariam terus saja menatap kepergian pria tersebut.


"Sayang, kenapa kamu malah menatapnya terus? apakah kamu kenal dengannya?"


"Enggak kok, mas. Aku sama sekali tak mengenalnya."


"Ya sudah, kalau memang kamu tak mengenalnya. Sebaiknya kita lekas duduk, karena pesawat akan lepas landas."


Kebetulan pria tersebut duduk di seberang tempat duduk Mariam dan Dika. Hingga Mariam sesekali bisa melirik ke arah pria tersebut.


Dan jika Mariam sedang melirik pada pria tersebut, tak sengaja pandang mereka beradu. Kembali lagi Mariam merasakan detak jantungnya begitu cepat.


"Ya Allah, pertanda apa ini? di saat aku sudah mencoba move on dari almarhum Mas Aris, kini hadir seseorang yang sangat mirip dengannya," hati Mariam semakin tak menentu.


"Sayang, kamu kenapa? sepertinya ada hal yang sedang merisaukan hatimu?"


"Nggak apa-apa, mas. Kepalaku rada pusing sedikit kok."


Mariam masih saja sesekali melirik ke arah pria tersebut, begitu juga pria tersebut sesekali mencuri pandang ke arah Mariam.


Hati Mati semakin tak menentu, memang dia dulu sangat cinta pada almarhum Aris. Tetapi karena suatu hal kedua orang tuanya tak merestui hubungan mereka. Hingga terjadilah tabrak lari tragis yang menyebabkan meninggalnya, Aris.

__ADS_1


Sejenak Mariam melamunkan masa dimana terjadinya tabrakan tersebut.


"Tidakkk"


Tiba-tiba Mariam teriak histeris.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Astaghfirullah alazdim, maaf ya mas. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba seperti ini."


Mariam tak bisa mengontrol dirinya sendiri sejak berpapasan dengan pria yang mirip sekali dengan almarhum, Aris.


"Kenapa istriku menjadi seperti ini? seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu hal, tapi apakah itu? nggak mungkin dia memikirkan almarhum kekasihnya."


Dika menjadi penasaran dengan Mariam, akan tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa lagi karena seseorang yang pantas di curigai telah tiada.


"Masa iya, Mariam ingat dengan kekasihnya? padahal kan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu?"


"Ah, kenapa pikiranku jadi tak menentu seperti ini? nggak seharusnya aku berprasangka buruk padanya."


Dika menjadi gelisah juga setelah melihat gelagat Mariam yang menurutnya aneh.


Kembali lagi Mariam harus bertemu dengan pria yang mirip dengan almarhum kekasihnya. Entah semua serba kebetulan atau memang unsur kesengajaan, pria tersebut bermalam di kamar hotel sebelah kamar hotel yang di pesan oleh, Mariam dan Dika.


"Ya Allah, kenapa aku bertemu lagi dengannya. Membuar aku mengingat semua kenanganku bersama dengan almarhum, Mas Aris."


"Hay, mba. Kebetulan sekali ya, kamar kita bersebelahan. Pengantin baru ya, hhee asik nech," godanya pada Mariam seraya melirik sinis pada Dika.


Setelah mengucapkan hal tersebut pria itupun masuk ke kamarnya. Sementara Dika merasa geram dengan lirikan sinis pria tersebut.


"Sayang, dari tatapan matanya sepertinya dia suka padamu."


"Mas Dika ini ngomong apa sih? kita kan nggak kenal sama sekali."


"Iya sekarang nggak kenal, tapi jika lama-lama sering bertemu akan menjadi kenal."


"Mas Dika, kenapa mendadak jutek seperti ini? cemburu yang tak jelas."


Keduanya malah saling adu mulut tanpa ada yang mengalah satu sama lain. Hingga pertama menginap di hotel tersebut tak melakukan aktifitas malam pengantin sama sekali.

__ADS_1


Keduanya tidur saling membelakangi satu sama lain. Tidak ada satupun yang mau mengalah, keduanya saling menyalahkan satu sama lain.


Hingga tak terasa pagi menjelang, tetapi suasana hati Mariam masih belum ceria. Dia masih saja marah pada Dika yang terlalu cemburu dengan pria yang tak di kenalnya sama sekali.


"Mas Dika , aneh. Aku kenal saja nggak dengan pria itu, eh dia cemburu begitu saja."


"Mariam, nggak peka. Aku cemburu karena di dalam hatiku susah mulai tumbuh rasa cinta. Tetapi dia nggak mau di cemburui."


Keduanya hanya saling menggerutu satu sama lain di dalam hati masing-masing. Hingga akhirnya Mariam membuka kata.


"Mas Dika,jika honeymoon kita hanya di isi dengan rasa kecemburuan yang tak jelas seperti ini, sebaiknya kita pulang saja. Lebih baik aku berangkat bekerja lagi ke rumah sakit, dari pada harus seperti ini."


"Nggak bisa begitu dong, kita kan baru semalam berada di Bali. Juga belum berkeliling sama sekali, masa harus pulang?"


"Lantas maunya apa? aku nggak mau ya, jika aku terus di curigai atau di cemburui yang tak jelas seperti ini, mas."


"Hem, ya sudah. Aku minta maaf yah, sudah jangan marah dan jangan cemberut lagi."


"Kenapa nggak dari semalam minta maaf, kenapa baru sekarang."


"Sayang, yang penting aku kan sudah minta maaf. Kenapa kamu belum juga bisa memaafkan aku? lalu aku harus bagaimana lagi supaya kamu mau memaafkan aku?"


"Iya, sudah aku maafkan. Tapi lain kali jangan seperti ini, aku sama sekali tak suka."


"Iya-iya, bawel."


Kini keduanya telah akur kembali, dan terjadilah pergumulan suami istri yang seharusnya di lakukan semalam.


Sementara di kamar sebelah, pria yang mirip almarhum Aris sedang menatap foto Mariam.


"Gara-gara kamu, aku gagal bertemu saudara kembarku yang sudah sekian lama berpisah dariku! jika waktu itu kamu tak sedang bersama Aris, pasti saat ini Aris masih hidup."


"Lihat saja, Mariam! aku tidak akan tinggal diam. Aku datang sengaja untuk menuntut balas padamu atas kematian Aris!"


"Nyawa harus di bayar dengan nyawa. Aku yakin almarhum Aris akan tenang jika aku sudah menuntut balas pada, Mariam."


"Dan orang tua kandungku juga pastinya senang jika aku berhasil membalaskan dendam almarhum Aris.'


Ternyata pria yang mirip dengan almarhum Aris adalah saudar kembarnya yang telah berpisah begitu lama.

__ADS_1


__ADS_2