CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Menghilangkan Jejak


__ADS_3

Nani sangat terharu pada saat melihat Nia. Dia sepontanitas memeluk, Nia yang sedang melayani pembeli di toko.


"Sayang, Alhamdulillah ternyata kamu masih hidup."


Nani tak kuasa menahan air mata bahagia di pelukan Nia. Sementara Nia bingung.


"Maaf, anda siapa?"


"Nayla, Tante. Sebaiknya kita bicara di ruanganku saja. Nggak enak juga masalah pribadi di dengar orang lain."


"Mba, tolong layani ibunya. Saya ada hal penting dengan, Nayla."


"Baik, Tuan Rocky."


Salah satu karyawati menggantikan tugas Nayla. Sementara Nayamla dan Rocky serta Nani melangkah ke ruang kerja, Rocky.


"Nayla, sudah aku katakan supaya kamu tak usah melayani pembeli. Cukup dengan duduk membuat desain baju saja."


"Maaf, Roxkuy. Aku merasa suntuk dan melihar toko rame sehingga aku tak tega pada para karyawati yang kerepotan melayani banyaknya pengunjung toko."


"Rocky, siapa ibu ini?"


"Tante, lihat kan? akibat benturan yang keras di kepalanya, sehingga dia hilang ingatan."


"Astaghfirullah alazdim, kasihan sekali kamu. Ini mamahmu, Nayla."


"Mamahku, lantas siapa nama asliku? karena menurut, Rocky saat ini aku menggunakan nama palsu."


"Nak, kamu tak penting tahu siapa nama aslimu. Terpenting saat ini kamu selamat dari maut. Turuti saja kemauan Tuan Rocky, supaya kamu terhindar dari mata bahaya."


"Baiklah, mamah. Aku bahagia ternyata aku tak sendiri di dunia ini. Aku masih punya mamah."


Nia atau Nayla memeluk kembali Nani yang sempat melonggarkan pelukannya.


"Rocky, apa aku boleh tinggal bersama mamah?"


"Jangan, nak. Itu sangat berbahaya untukmu, kamu aman tingga di sini bersama, Rocky."


Belum juga Rocky menjawab, Nani sudah menyela.

__ADS_1


Wajah Nayla berubah masam pada saat mendengar apa yang di katakan oleh, Nani.


"Begini, Tante -Nayla. Aku punya satu rumah lagi, bagaimana kalau kalian tinggal di rumahku tersebut?"


"Aku setuju sekali, Rocky. Tapi bagaimana dengan, mamah?"


"Tante juga setuju, tetapi bagaimana dengan butik milik Nayla?"


"Begini saja, Tante. Aku akan minta beberapa orang kepercayaanku untuk menghandle butik Nayla."


"Tapi saat ini semua butik Nayla di handle oleh, Dika. Lantas Tante harus memberikan alasan apa padanya jika beralih ke orang lain?"


"Dika? sepertinya nama ini tak asing bagiku, mah. Siapakah dia, mah?"


Tiba-tiba Nayla atau Nia bertanya tentang Dika.


"Jelas saja nama itu tak asing bagimu karena Dika adalah orang kepercayaanmu yang kamu tugaskan menghandle butik milikmu, jika kamu sedang tak ada di tempat."


Nani sengaja berbohong pada, Nia. Menurutnya semua itu demi kebaikannya.


"Oh jadi sebelumnya aku memiliki butik? pantas saja aku merasa tak asing pada saat menggenggam pinsil dan buku untuk menggambar pola atau desain baju."


"Mungkin juga seperti itu ya, mah. Tapi aku ingat satu hal, mah. Pada saat aku di dorong dua orang tak di kenal, pada saat itu aku tidak sendiri. Ada seorang pria sedang bersamaku, tetapi aku sama sekali tak mengenalnya."


"Nayla, tak usah membahas masa itu. Bisa membuat kepalamu sakit. Kini kamu fokus saja dengan kesembuhanmu, yang terpenting kamu sudah bersatu dengan mamahmu."


"Tante Nani, jika Dika bertanya banyak hal. Katakan saja jika butik Nia telah dijual karena tidak ada yang mengurusnya, supaya tidak banyak pertanyaan darinya."


"Baiklah, Nak Rocky. Tante ucapkan terima kasih atas pertolongannya terhadap anak, Tante.".


"Sama-sama, Tante."


Saat itu juga Rocky mengajak Nia dan Nani ke rumah miliknya yang kebetulan tak jauh dari toko tersebut, sehingga tak memerlukan waktu lama untuk sampai.


"Tante, Nayla. Ini rumah untukkalian tempati, karena tak mungkin kita tinggal satu atap. Pasti akan mendat gunjingan dari para tetangga."


"Terima kasih, Rocky. Kamu benar-benar baik sekali. Entah bagaimana diriku jika tak di tolong olehmu. Terima kasih pula telah mempertemukan ku dengan mamahku."


"Sama-sama, Nayla. Tante, apa kita ke rumah Tante sekarang? untuk mengurus segalanya?"

__ADS_1


"Baiklah, Nak Rocky."


Nani sudah bertekad, untuk sementara waktu meniggalkan rumahnya demi bisa bersama dengan, Nia. Dia juga setuju dengan segala saran yang diberikan oleh, Rocky.


Nani sengaja tak memberitahu pada, Dika teni kepergian dirinya. Nani juga mengajak Rocky menyambangi ke tiga butik milik Nia.


Setelah mengetahui dimana saja letak butik milik, Nia. Rocky gerak cepat memerintah kepada beberapa banyak buahnya yang handal, untuk menghandle butik tersebut.


"Tante, tak usah khawatir. Semua orang yang aku perintahkan untuk menghandle usaha Nia, adalah orang kepercayaanku."


"Iya, Nak Rocky. Tante percaya kok padamu."


Setelah beberapa jam mengurus ketiga butik, Nia. Kini Nani kembali ke kota lain dimana ada Nia di sana.


Nani tak peduli dengan rumahnya yang tak berpenghuni, yang dia pikirkan hanyalqh anak semata wayangnya.


"Rocky pemuda yang baik. Kiranya dia mau nggak ya, jika aku jodohkan dengan, Nia. Dari pada Nia menderita menjalin hubungan dengan, Dika. Dimana dia selalu saja di musuhiboleh orang tuanya, mending dengan Rocky yang tak kalah sukses dan tampan."


Diam-diam, Nani mulai simpatik pada kebaikan dan pertolongan yang di lakukan oleh, Rocky.


"Silahkan, Tante. Istirahat bersama, Nayla. Aku akan kembali ke kantor dan tokoku. Jika ada apa-apa, telpon saja." Rocky memberikan kartu nama pada, Nani.


Setelah itu, dia kembali ke kantor dan beberapa toko serta memerintah beberapa anak buahnya untuk menghandle tiga butik milik, Nia.


"Semoga dengan ini, aku bisa cepat menikahi Nia. Dengan begitu, pacarnya tak bisa mendekati Nia lagi."


Ada rasa bahagia di dalam hati Rocky setelah bertemu dengan, Nia. Dia sangat menginginkan Nia menjadi istrinya. Bahkan dia tak mempedulikan status janda, Nia.


Dimata Rocky, Nia adalah wanita yang sempurna yang sanggup menggetarkan hatinya kala mereka berdekatan. Dia baru merasakan getaran-getaran cinta hanya saat dekat , Nia.


Padahal selama ini banyak sekali wanita yang berusaha mendekatimta dan mencari perhatian darinya, tetapi dia sama sekali tak merasakan getaran apa pun.


Waktu berlalu begitu cepatnya, tak terasa sudah seminggu, Nani tinggal bersama Nia di salah satu rumah milik Rocky. Hal ini membuat Dika sulit bertemu.


Apalagi, Nani sengaja mengganti nomor ponselnta supaya tidak di hubungi oleh, Dika. Dia sangat yakin, pasti saat ini Dika sedang mencari keberadaannya dimana.


"Ada yang aneh dengan, Tante Nani. Kenapa tiba-tiba dia menghilang tanpa mengatakan apapun padaku?"


"Yang lebih aneh, tiga butik milik Nia di jual begitu saja olehnya pada seseorang yang waktu itu mengaku anak dari sahabat almarhum papahnya Nia."

__ADS_1


"Kemana perginya, Tante Nani? aku merasa khawatir padanya. Bagaimana jika kelak Nia pulang tidak mendapati adanya, Tante Nani? apa yang akan aku katakan padanya?"


__ADS_2