
Mariam menjadi bingung, karena dia tak di izinkan untuk kembali ke rumah sakit.
"Dika, tugas suster merawatmu kan sudah selesai. Biarkan dia kembali ke pekerjaannya di rumah sakit."
"Iya, Dika. Nanti dokter bisa memarahinya atau bahkan memecatnya."
Orang tua Dika mencoba menasehatinya, tetapi entah kenapa Dika sudah ketergantungan dengan adanya, Mariam.
"Jika dokter memecat, biar kamu kerja denganku di perusahaanku menjadi sekretaris pribadiku."
"Mas Dika, aku tak tahu menahu tentang kantor. Aku hanya hapal urusan merawat pasien. Yang ada nanti malah kantor jadi berantakan karena aku."
"Mariam, aku akan mengajarimu jadi kamu janganlah khawatir."
"Mas Dika, aku benar-benar tak bisa. Begini saja, setiap waktu aku pasti akan menjenguk, Mas Dika."
Sejenak Dika terdiam membisu, dia merasa kecewa dan sangat tak rela jika, Mariam pergi dari sisinya.
Orang tua Dika tak bisa berkata apapun karena dia tak ingin melakukan kesalahan kembali.
"Pah, apakah Dika telah jatuh cinta pada suster?" bisik Ambar lirih.
"Hust, sembarangan kalau ngomong!"
"Tapi mamah rasa memang Dika cinta pada, Suster Mariam."
Sementara Mariam bingung, dia harus bagaimana menghadapi Dika yang seperti anak kecil saja.
"Mas Dika, aku tak bisa memutuskan sepihak. Bagaimana kalau aku minta izin dulu pada pihak rumah sakit?"
"Baiklah, tapi jika tidak di izinkan aku yang akan bertindak. Aku nggak ingin kamu kerja di rumah sakit lagi, tapi aku ingin kamu kerja denganku saja."
"Aduh, bagaimana ini? kok Mas Dika berubah menjadi seperti ini? sudah aku katakan jika aku tak ahli dalam bidang bisnis perkantoran," batin Mariam.
Dengan sangat terpaksa, Dika merelakan Mariam keluar dari rumahnya. Dia sudah tak bisa menahannya lagi.
"Ya Allah, kenapa tiba-tiba aku seperti ini pada perawatku? apakah diam-diam aku jatuh cinta padanya, sehingga enggan untuk jauh darinya?"
Dika baru sadar jika ada yang aneh pada dirinya sendiri.
Begitu juga yang di rasakan oleh, Mariam. Sepanjang perjalanan pulang ke kost, dia merasakan sikap Dika aneh padanya.
"Ada apa dengan, Mas Dika? apakah dia suka padaku? aahh kenapa aku jadi GR begini? nggak mungkin seorang pengusaha jatuh cinta pada perawat miskin tak punya apa-apa seperti aku ini. Tinggal hanya di kost."
"Tapi jika memang dia suka padaku, lantas bagaimana ya? waduh, kok aku jadi memikirkannya?"
Mariam jadi gelisah memikirkan kata-kata dari, Dika.
******
__ADS_1
Pagi menjelang, Dika merasa kesepian. Dia benar-benar kehilangan sosok, Mariam.
"Biasanya ada, Mariam. Dia selalu saja bisa membuat aku tersenyum, mengajakku bernyanyi."
"Aku salut pada perjuangan hidupnya, dimana dia kekasihnya telah tiada. Dan kini juga orang tuanya telah tiada."
"Dia benar-benar berjuang sendiri menjalani hidup ini tanpa ada bantuan siapapun."
"Aku malu, karena pernah down gara-gara kehilangan, Nia. Padahal dia lebih parah dari padaku."
"Kehilangan kekasihnya dan sekaligus beberapa hari kemudian kehilangan orang tuanya."
Terus saja Dika melamunkan, Mariam di sela sarapannya. Kini dia telah benar-benar pulih, dan benar-benar sehat.
Dika sudah mulai memimpin perusahaan kembali. Bahkan perusahaannya yang sekarang lebih maju dari pada yang lalu.
Selagi asik melamunkan, Mariam. Orang tuanya memperhatikan sedari tadi.
"Dika, apa yang sedang merisaukan hatimu? cerita saja pada kami, siapa tahu kami bisa membantumu."
"Nggak ada apa-apa kok, pah."
Sejak sembuh dari sakitnya, Dika sangat tertutup dengan masalah pribadinya. Kini dia tak sedekat dulu dengan orang tuanya.
Dika lebih banyak cerita pada, Mariam dari pada ke orang tuanya. Dika sudah tak percaya lagi pada orang tuanya yang telah menentang hubungannya dengan, Nia.
"Dika, kami minta maaf untuk kesalahan kami di masa lalu. Tolong jangan bersikap dingin pada kami."
"Pah-mah, tolong jangan membuat mut aku di pagi hari menjadi buruk. Aku sedang tak ingin bertengkar."
Dika mengurungkan sarapannya, dia pun berangkat ke kantor. Akan tetapi dia menelepon, Mariam terlebih dulu untuk mengetahui kabarnya hari ini.
"Mariam, bagaimana kabarmu hari ini? apakah kamu sudah sarapan pagi?"
"Mas Dika, aku sedang kurang sehat. Hari ini aku tak berangkat ke rumah sakit."
"Bagaimana kalau kita ke dokter saja ya? biar aku antar kamu."
"Tidak usah, mas. Hanya masuk angin biasa kok, udah minum obat nanti juga sembuh sendiri.".
"Mariam, jangan menyepelekan penyakit. Itu nggak baik loh."
"Mas Dika, percaya saja padaku. Aku ini tak apa-apa."
"Ya sudah, aku akan ke kost kamu sekarang juga."
Tanpa menunggu jawaban dari, Mariam. Dika langsung mematikan panggilan teleponnya. Dika melajukan mobilnya untuk mencari bubur ayam terlebih dahulu.
"Aku yakin, Mariam pasti belum sarapan."
__ADS_1
Setelah mendapatkan sarapannya, dia langsung meluncurkan mobilnya ke arah kost, Mariam. Hanya beberapa menit saja telah sampai di teras halaman.
Dika tak lupa meminta izin pada Bu kost, ingin menjenguk Mariam yang sedang sakit. Setelah mendapatkan izin, dia barulah berani menemui, Mariam.
"Mas Dika, tadi aku belum selesai berbicara susah di matikan."
"Iya, maaf. Aku langsung meluncur mencari sarapan. Pasti kamu belum makan kan?"
"Aku sedang nggak ingin makan, mas. Leher buat menelan sakit rasanya, dan kepala pusing sekali."
Dika mencari mangkok dan menuwng bubur ayam tersebut.
"Makanlah, sedikit demi sedikit. Supaya perut tidak kosong, setelah itu minum obat."
Dengan telaten Dika menyuapi, Mariam. Walaupun Mariam selalu saja menolak, tetapi dia memaksanya.
"Lagi ya, di habiskan biar lekas sembuh."
"Hemmm nggak, mas. Aku bisa muntah kalau di paksa menghabiskan. Ini rasanya mual sekali."
Akhirnya bubur tersebut di habiskan oleh, Dika. Mariam tercengang melihatnya.
"Mas Dika, itu kan sisa makananku? memangnya nggak jijik?"
"Nggaklah. Biar aku jinak padamu."
Canda Dika terkekeh.
Setelah menghabiskan sarapan milik Mariam, Dika memutuskan untuk libur ngantor. Dia menelepon salah satu asisten pribadinya untuk menghandle urusan kantor.
"Mas Dika, kok nggak ke kantor?"
"Sengaja, aku akan membawamu ke dokter sekarang juga supaya lekas sembuh. Jangan terlalu sering minum obat warung, itu nggak baik."
Dengan paksa, Dika menggendong Mariam masuk ke dalam mobilnya. Dia pun membawanya ke dokter.
"Mas Dika, lain kali jangan seperti tadi. Aku malu dengan teman-teman kost dan ibu kost."
"Biar saja, jika ada yang tanya ya aku jawab saja jika kamu ini calon istriku."
"Deg deg".
"Mas Dika?"
"Eh, maaf. Aku terlalu berharap padamu. Pastinya kamu ya nggak akan mau dengan pria yang pernah menghuni rumah sakit jiwa."
"Mas Dika, ngomong apa sih?"
"Jujur saja, aku cinta dan sayang padamu."
__ADS_1
Di sela mengemudi, Dika masih sempat mengutarakan isi hatinya. Pernyataan cinta, Dika membuat Mariam kaget.