CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Tak Sengaja Bertemu Mantan


__ADS_3

Untuk menghilangkan rasa stres karena rumah tangganya sedang bermasalah, Nia memutuskan untuk sejenak pergi ke suatu danau.


"Entah kenapa aku ingin ke danau, kenangan aku dan Mas Dika. Entah kenapa pula aku ingin sekali bertemu dengannya walaupun hanya sesaat."


Nia pergi hanya berpamitan pada mamahnya dengan alasan ingin menghadiri hajatan pernikahan teman. Dia sengaja tak mengatakan tujuan kepergiannya yang sebenarnya.


Sesampainya di danau, dia sengaja mencari tempat duduk yang biasa dulu dia duduk bersama dengan Dika.


Nia terhanyut dalam lamunan masa lalu indahnya bersama. Hingga dia tak sadar ada sosok menghampiri dirinya bahkan duduk di sebelahnya.


Saat lamunannya selesai, dia baru menyadari dengan keberadaan sosok tersebut.


"Mas Dika?" berkali-kali Nia mengucek matanya serasa tak percaya.


"Iya, Nia. Ini aku, bukan hayalan. Bagaimana kabarmu, sejak kejadian itu aku mencari dirimu tapi tak kunjung bertemu."


Tanpa di perintah, Dika menceritakan semuanya pada Nia. Bagaimana dia terus saja mencarinya, dan bagaimana pula dia sempat berada di rumah sakit jiwa.


Nia juga menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Bagaimana dia di dorong oleh dua orang tak di kenal dengan memakai pakaian serba hitam.


"Jadi pada saat aku di bungkam dan aku tak sadarkan diri. Ada yang membawamu pergi?"


"Iya, mas. Aku di bawa pergi jauh di tengah hutan dan aku di dorong ke jurang yang sangat dalam."


"Aku pikir aku telah mati, tetapi aku di selamatkan oleh orang. Dan orang itu sudah menjadi suamiku hingga sekarang."


"Aku sempat hilang ingatan hingga beberapa hari lalu, ingatan aku baru pulih. Tetapi aku belum bercerita pada siapa pun tentang pulihnya ingatanku ini."


"Jadi kamu telah menikah? Nia, aku juga minta maaf. Karena diriku kamu mengalami hal mengerikan tersebut. Aku juga telah menikah, tetapi pernikahan aku belum lama."


Keduanya saling bercerita tentang kehidupan masing-masing selepas mereka berpisah lama. Dan tak lupa saling bertukar nomor ponsel.


"Nia, kenapa wajahmu terlihat murung? apa sedang ada masalah?"

__ADS_1


"Tidak, mas. Aku hanya sedang sedih saja dengan kematian anakku yang nomor dua."


Nia menceritakan bagaimana bayinya meninggal hingga tak terasa air matanya menetes begitu deras. Ingin sekali dia juga bercerita tentang suaminya yang saat ini sedang membenci dirinya. Tapi sepertinya tak etis menceritakan aib rumah tangganya.


"Aku tahu, Nia. Dari bola matamu terpancar kesedihan yang mendalam. Aku rasa ada hal yang sedang kamu sembunyikan dariku. Apakah, Nia tak bahagia dengan pernikahannya? ataukah dia sedang ada masalah dengan suaminya? aku harus mencari tahu sendiri. Aku takkan rela jika suaminya menyakiti hatinya."


Entah kenapa ada rasa peduli dan iba di dalam hati Dika pada Nia. Dia seperti masih menyimpan setitik rasa cinta padanya. Hanya keterpaksaan yang membuat dia menikah dengan, Mariam.


"Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan Nia lagi di saat kami telah sama-sama membina rumah tangga? kenapa dulu di saat aku mencari keberadaannya tak juga bertemu?"


"Kenapa seolah takdir mempermainkan hati kami berdua ya, Allah. Entah kenapa pula tiba-tiba hasrat hati ingin ke danau ini. Dan ternyata aku bertemu dengan, Nia di sini."


Terus saja Dika berkeluh kesah di dalam hatinya. Dia tak menyadari jika Nia sudah tak ada di sampingnya.


"Loh, kemana perginya Nia?"


Dika terlalu asik melamun, hingga pada saat Nia berpamitan pulang. Dika tak mendengarnya sama sekali.


"Drt drt drt" Ponsel Dika bergetar.


[Mas Dika, aku minta maaf pulang terlebih dulu. Aku sudah mencoba berpamitan tetapi, Mas Dika tak merespon karena sedang asik dan fokus dengan lamunannya.]


"Ya ampun, betapa malunya aku sampai sebegitunya."


Sejenak Dika membalas chat pesan pada, Nia. Setelah itu dia pun berlalu pergi dari danau kenangannya bersama Nia.


Sementara saat ini Nia sedang dalam perjalanan menuju ke pemakaman. Dia ingin sekali menjenguk makam bayinya.


"Nak, jika kamu tak tiada pasti papah dan mamah akan akur. Sampai saat ini, papah masih saja menyalahkan mamah atas meninggalnya dirimu."


Nia tak kuasa menahan tangisnya, tercurahlah air matanya begitu deras. Tak jauh dari tempat Nia bersimpuh, ada pula seorang wanita yang sedang berkunjung ke makam. Dia pun sedang menangis di makam tersebut.


Tak sengaja Nia dan wanita tersebut saling berpandangan satu sama lain. Dalam kondisi air mata mereka masih menetes. Keduanya saling melempar senyuman di sela tangisnya.

__ADS_1


Nia pun tak sungkan dia menghampiri wanita tersebut.


"Hallo, mba. Sedang berziarah juga? Hem maaf mengganggu ya?"


"Hallo juga, nggak usah sungkan. Justru aku senang kok ada teman. Aku sedang berkunjung ke makam. kekasihku, mba. Mba, sendiri berkunjung ke makam siapa?"


"Anakku aku, mba. Yang beberapa Minggu lalu aku lahirkan tetapi meninggal dunia."


Keduanya saling bertukar cerita dan saling cocok satu sama lain. Tak sungkan Nia cerita tentang kehidupan rumah tangganya yang saat ini sedang tidak harmonis dengan suaminya.


"Jadi gara-gara meninggalnya anak, mba. Suami menyalahkan, mba? seharusnya tidak boleh seperti itu, semua ini kan takdir yang kuasa."


"Entahlah, mba. Aku juga bingung bagaimana aku harus mengembalikan kembali rumah tanggaku yang dulu harmonis."


"Bertolak belakang denganku, mba. Rumah tangga aku harmonis. Tapi sejak aku bertemu dengan seseorang yang sangat mirip almarhum pacarku, aku jadi ingat kembali padanya."


"Padahal suamiku sangat baik dan tanggung jawab. Tapi aku malah kembali memikirkan kekasihku yang telah lama meninggal."


"Coba, mba buka hati kembali untuk suami mba. Kasihan juga jika mba tak membagi hati dan perasaan mba pada seseorang yang sudah almarhum. Maaf ya, mba. Aku jadi sok menasehati seperti ini. Karena susah. loh, jaman sekarang mendapatkan pria yang benar-benar cinta dan sayang pada kita. Aku juga kadang teringat dengan mantan kekasih aku, jika sedang ingat permasalahanku dengan suami."


"Nah kan, ternyata mba juga punya k


mantan kekasih kan?"


"Iya, mba. Mantan kekasih yang terpisah karena takdir juga, mba."


"Oh ya, susah ya mba. Aku pamit pulang, karena aku tak bisa berlama-lama. Nanti anaku yang sulung mencariku."


Nia berpamitan pulang pada wanita tersebut yang tak lain adalah, Mariam. Mereka sama-sama tak tahu satu sama lain. Mariam tak tahu jika Nia adalah mantan kekasih Dika karena dari dulu Dika tak pernah memperhatikan foto Nia pada Mariam."


"Nia juga tak tahu jika Mariam adalah istri Dika."


Keduanya kini malah saling berteman, saling merasa ada kecocokan satu sama lain.

__ADS_1


Nia pulang ke rumah dan langsung membersihkan badannya karena dia habis dari pemakaman. Sementara Rocky di hari libur tak pernah ada di rumah sejak sering bertengkar dengan Nia. Rocky lebih senang menghabiskan waktunya di luar rumah.


__ADS_2