CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Di Bawa Ke Psikiater


__ADS_3

Empat puluh hari telah berlalu dari waktu dimana, Nia telah melahirkan. Kini dia menagih janji pada, Rocky untuk menemaninya ke makam almarhum papahnya.


"Mas Rocky, bisa kan menemani aku ke makam papah hari ini juga?"


"Bisa banget, sayang. Apa kamu sudah izin pada mamahmu?"


"Hem, sudah. Ronald di rumah saja sama, mamah dan baby sitter."


Mereka berangkat ke makam hanya berdua saja, karena Nani tak mau di ajak. Jarak makam yang lumayan jauh, yang membuat Nani malas ikut. Dia gampang sekali kecapean jika bepergian untuk jarak jauh, hingga dia memutuskan di rumah saja bermain bersama cucu tampannya.


"Nayla-Rocky. Kalian yang hati-hati ya? Terutama kamu, Nay. Jangan terlalu khawatir pada, Ronald. Mamah pasti akan menjaganya dengan baik."


"Baiklah, mah. Kami percaya kok sama, mamah."


Keduanya mencium tangan Nani, dan setelah itu langsung melangkah ke dalam mobil yang telah terparkir tepat di halaman rumah.


Rocky sengaja tak mengemudi sendiri karena jarak lumayan jauh. Dia meminta salah satu asisten pribadinya yang mengemudikan mobilnya.


Selama dalam perjalanan, keduanya hanya diam saja. Dan pada saat di lampu merah, mobil yang di tumpangi oleh Nia dan Rocky bersebelahan dengan mobil yang di tumpangi oleh, keluarga Dika.


Pada saat itu, orang tuanya mengajak Dika untuk periksa ke psikiater. Karena kondisi Dika semakin hari semakin memprihatinkan.


Dika tak sengaja menoleh ke arah mobil yang di tumpangi Nia. Begitu pula dengan Nia. Sejenak keduanya saling bertatap muka. Sementara Rocky tak mengetahui akan hal ini karena dia tertidur di dalam mobil.


"Nia-Nia, tunggu Nia. Nia sayang, ini aku!!"


Dika berteriak histeris memanggil nama Nia kala mobil yang di tumpangi Nia telah terlebih dulu melaju.


Sementara Nia sempat menoleh kembali ke arah mobil yang di tumpangi, Dika.


"Kenapa aku seperti tak asing melihat pemuda itu? kenapa dia memanggilku, Nia? apa dia salah satu orang yang aku kenal di masa lalu? sekilas kok dia seperti yang ada di mimpiku? tapi kan waktu di dalam mimpi, wajahnya tidak begitu jelas. Tapi kok aku meyakini dia itu yang ada di mimpi?"


Nia bertanya-tanya di dalam hati. Dia ingin sekali berkata pada suaminya, akan tetapi Rocky tidur pulas sekali dengan headset di telinganya.


"Ingin aku cerita pada, Mas Rocky. Tapi aku nggak tega untuk membangunkan dia."

__ADS_1


"Sudahlah, lagi pula mobil dia sudah jauh berada di belakang mobil ini dan berbelok ke arah lain."


Sementara, Dika terus saja memberotak meminta mobilnya mengikuti mobil yang ditumpangi oleh, Nia.


"Mah-pah, apa tadi kalian tak melihat Nia. Aduh, kenapa kalian tak mendengarkan aku sih! seharusnya tadi pada saat aku teriak memanggil, Nia. Papah langsung mengikuti mobilnya!"


Dika sangat kesal pada papahnya yang menurutnya sangat lamban dalam mengemudi.


"Dika, kamu hanya berhalusinasi saja. Mana ada, Nia? mamah saja tak melihatnya sama sekali."


"Mamah nggak melihat karena mamah terlalu asik dengan ponsel mamah! aku sama sekali tak berhalusinasi!"


"Padahal sebentar lagi aku bisa bertemu dengan Niaku sayang. Tapi gara-gara papah tak mengindahkan perkataanku, sehingga kini kita kehilangan jejaknya."


Dika sangat kesal karena orang tuanya tak merespon kemauannya. Dia kini memukuli kepalanya sendiri.


"Dika, istighfar nak. Kamu tak boleh seperti ini terus. Nia itu sudah menjadi masa lalumu. Bahkan mungkin dia sudah tiada, jadi jangan mengharapkan sesuatu yang tak pasti."


Perkataan Ambar bukan membuat Dika tenang, melainkan malah bertambah marah.


"I-iya, nak. Mamah minta maaf ya, kalau mamah salah ngomong."


Ambar tak berani berkata lagi, karena dia tak ingin Dika terpancing emosi kembali. Ambar hanya bisa duduk diam dengan sesekali menatap iba pada nasib, Dika.


Tiba-tiba Dika membuka suara kembali.


"Mah-pah, sebenarnya kita akan kemana sih? kenapa aku harus ikut segala?"


"Dika, kita akan kerumah salah satu teman baik papah. Beliau bukan hanya ingin bertemu dengan papah dan mamah, tetapi juga ingin bertemu denganmu."


"Memangnya untuk apa pula bertemu denganku. Jika hanya sekedar bertemu kan bisa lewat ponsel lewat panggilan video call. Tak perlu bersusah payah ke rumahnya segala."


"Nak, kita kan sudah lama tak bertemu. Sekalian silahturahmi dengannya. Lagi pula tidak akan lama kok, cuma sebentar saja."


Dika pun tak berkata kembali, dia diam membisu dengan pandangan matanya terus saja menatap ke sekelilingnya dengan harapan dia bisa kembali bertemu dengan mobil, Nia.

__ADS_1


"Ya Allah, jelas sekali tadi itu Nia. Hanya rambutnya saja yang berubah. Tapi aku yakin aku tak salah orang, jika tadi yang aku lihat adalah, Nia."


"Dari tatapan matanya jelas sekali itu, Nia. Ya Allah, aku sudah hampir menemukan pujaan hatiku kembali, tapi kenapa hanya sekejap saja?"


"Tunjukan padaku dimana sebenarnya kini, Nia berada ya Allah? aku sangat merindukan dirinya."


"Aku ingin memeluknya, ingin bercerita banyak hal dengannya. Bahkan aku ingin menikah dengannya, untuk mewujudkan impian kita dulu."


Mata Dika berkaca-kaca memikirkan tentang Nia. Sedetik pun dia tak bisa melupakan, Nia. Begitu besarnya rasa cintanya pada,Nia.


Tak berapa lama, sampailah mobil Andre di parkiran sebuah klinik yang lumayan besar.


Dika sempat membaca suatu papan yang berdiri tegak.


"Pah, kok kita ke psikiater? katanya ke rumah teman, papah?"


"Nak, teman papah kan sedang tugas di sini. Jadi kita menemuinya di sini. Tadi papah hubungi dia katanya sedang tidak ada di rumah."


Dika pun percaya saja pada Andre, dia sama sekali tak menaruh rasa curiga. Dia keluar dari mobil dengan lengan di gapit oleh, Ambar.


Lengan kanan kiri di gapit oleh Ambar dan Andre.


"Heh, Andre. Ayok masuk, kebetulan sedang sepi tak ada pasien sama sekali."


"Hay, Dika. Kamu tampan sekali ya? aku ini sahabat lama, papahmu."


Dika hanya menyunggingkan senyuman tanpa ada sepatah kata pun.


"Dika, kemarilah. Om ingin ngobrol denganmu, karena kita telah lama tak bertemu."


Dika menuruti saja kemauan sang psikiater tersebut. Dika duduk di hadapannya. Perlahan psikiater tersebut bertanya pada, Dika.


Psikiater ini mampu membuat Dika cerita semuanya padanya tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Akan tetapi pada saat telah selesai bercerita, barulah Dika menyadari.


"Om, aku ini sehat loh! aku tidak gila! mah-pah, kalian membawaku kemari, mengira aku ini gila! keterlaluan sekali!"

__ADS_1


"Dika, tenangkan dulu dirimu. Om sama sekali tak menganggapmu gila. Om benar-benar sahabat papahmu dan ingin ngobrol denganmu."


__ADS_2