
Tak berapa lama sampai juga di rumah sakit, Mariam langsung mendapatkan pemeriksaan intensif.
"Anda terkena asam lambung dan magh kronis serta tekanan darah sangat rendah. Untuk sementara waktu, anda harus menjalani rawat inap selama dua hari untuk benar-benar memulihkan kesehatan, anda."
"Apa tidak bisa rawat jalan saja, dok?"
"Maaf, nona. Ini demi kesembuhan anda, karena di lain itu anda juga harus bed ress supaya tekanan darah stabil."
"Saya pastikan, anda tidak akan konsekuen jika rawat jalan. Kami ingin yang terbaik untuk pasien kami."
Mariam sudah tidak bisa membantah lagi perintah dokter. Hingga dia diam saja pada saat salah satu perawat memasangkan selang infus.
"Mariam, kamu tak perlu khawatir. Aku akan selalu mendampingimu. Turuti saja kemauan dokter supaya kamu lekas sehat kembali."
"Hhee seorang perawat ternyata bisa sakit juga ya?"
Dika sengaja menggoda, Mariam supaya dirinya bisa tersenyum.
"Perawat juga manusia, Mas Dika. Jadi bisa merasakan nggak cuma sakit saja."
"Hem, selain merasakan sakit apakah seorang perawat bisa merasakan jatuh cinta?"
Sejenak perkataan, Dika membuat pipi Mariam merona merah. Perawat yang sedang memasang selang infus ikut tersenyum melihat tingkah, Dika.
"Mas Dika, apa nggak malu ada suster?" Mariam melirik ke arah perawat.
"Suster, pasti paham kan istilah cinta itu buta? dan pepatah dunia rasanya milik berdua, yang lain ngontrak hheeeee."
"Mas pasti sedang jatuh cinta ya dengan, Mba nya? atau sudah menjalin cinta? tapi bersyukurlah, Mba. Punya pacar suka guyon pasti sakit Mba segera hilang berganti dengan kesehatan," tukas sang perawat.
"Wah, suster hebat juga. Sayangnya saya ini belum berpacaran dengan wanita cantik di hadapan anda. Sedang dalam proses pendekatan, tetapi entah dia mau atau tidak."
Dika melirik genit ke arah Mariam yang sedang berbaring.
"Aduh, mba. Kalau nggak mau, buat saya saja. Kebetulan saya jomblo nech," canda sang perawat.
"Waduh suster sama Mas Dika klop banget dech, suka becanda."
"Siapa yang bercanda? saya serius kok, Mariam. Saya benar-benar cinta padamu."
Dika mengatakan cintanya kembali tanpa ada rasa malu sedikitpun di hadapannya perawat.
Setelah perawat selesai memasang selang infus, dia lekas keluar dari ruang rawat tersebut.
"Mas Dika, seharusnya tadi membantuku membujuk dokter supaya aku rawat jalan saja. Jika seperti ini akan repot."
__ADS_1
"Mariam, ini demi kesehatanmu. Aku yakin jika rawat jalan, kamu pasti tidak akan mendengarkan semua perintah dokter."
"Kamu tak usah khawatir, karena aku yang akan mengurus segala keperluanmu."
Mariam merasa tak enak hati mendengar penuturan, Dika.
"Mas Dika, lebih baik kerja saja. Tak usah menghiraukan aku. Aku berani kok sendirian di sini, Jikw ada apa-apa aku tinggal hubungi perawat."
"Mariam, kamu tak usah keras kepala. Aku akan menjagamu hingga kamu sembuh. Tak perlu khawatirkan pekerjaanku."
"Aku punya banyak orang kepercayaan yang bisa di tugasi untuk menghandle kantor sementara waktu."
"Lebih baik kamu telpon orang rumah sakit, dan katakan jika saat ini kamu sedang di opname."
Mariam segera menghubungi pihak rumah sakit dimana dirinya bekerja dan memberitahu jika dirinya saat ini sedang dirawat inap.
"Sekarang aku akan kembali ke kost kamu dulu, untuk mengatakan pada ibu kost dan teman-teman kamu jika kamu di rawat inap. Sekalian ambil yang kamu perlukan."
"Jangan, mas. Biar aku minta tolong temanku saja untuk membawakan semua kebutuhanku."
"Ya sudah kalau begitu."
Tak terasa sudah beberapa bulan berlalu, kini Mariam dan Dika telah mengikat tali kasih. Mereka telah resmi berpacaran.
"Mas Dika, tiba-tiba aku ingin sekali mengulang masa kecilku dulu. Aku ingin ke wahana bermain. Apa, Mas Dika bersedia menemani? kebetulan di desa sebelah sedang ada wahana."
Begitu pula dengan Nia dan Rocky, mereka juga pergi ke wahana yang sama. Kini jagoan mereka telah berumur enam bulan, sedang tahap lucu-lucunya.
"Mas Rocky, aku ingin ke toilet sebentar ya? Ronald sama kamu nggak apa-apa kan?"
"Iya, sayang. Nggak apa-apa, pergilah."
Begitu pula yang di lakukan oleh Dika, tiba-tiba dia juga ingin ke toilet. Padahal dia dan Mariam sudah siap-siap akan naik wahana.
"Sayang, aku ingin ke toilet. Bagaimana ini?"
"Ya sudah pergi saja, jangan di tahan bisa bikin penyakit."
"Tapi kita kan sebentar lagi mau naik wahananya?"
"Ya nggak apa-apa, aku tunggu sampai, Mas Dika selesai saja.".
Akhirnya mereka mengurungkan niatnya naik wahana. Mariam menuggu Dika di sebuah kursi panjang yang tak jauh dari wahana tersebut.
Toilet pria dan wanita kebetulan bersebelahan. Pada saat Nia dan Dika sudah sama-sama selesai.
__ADS_1
Mereka saling bertabrakan karena sama-sama gugup.
"Maaf"
Serentak keduanya meminta maaf. Lantas Dika terperangah pada saat melihat siapa yang di tabraknya.
"Nia?"
"Maaf, mas. Anda salah orang. Saya Nayla bukan Nia. Mari, saya permisi dulu."
"Nayla?" tetapi wajahnya sangat mirip, Nia."
Karena rasa penasarannya pada, Nayla. Dika pun mengikuti kemana perginya, Nayla.
"Maafkan mamah ya, sayang. Lam nunggunya ya? maaf ya, mas. Tadi toilet rame jadi antri."
"Nggak apa-apa, sayang. Ronald nggak rewel kok, papahnya yang rewel karena nggak bisa jauh dari mamahnya," canda Rocky terkekeh.
"Mas Rocky mah suka banget bercanda dech."
Dengan sengaja, Nia memencet hidung mancung Rocky.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata menatap keromantisan mereka.
"Bukankah itu pria yang pernah aku temui di rumah, Tante Nani? jadi wanita yang mirip dengan, Nia adalah istrinya? tetapi aku merasa dia itu adalah, Nia bukan Nayla."
"Mas Dika! lama banget sih, ternyata ada di sini?"
Tiba-tiba Mariam datang dan langsung menepuk bahunya membuatnya terhenyak kaget dan langsung menoleh.
"Astaghfirullah alazdim, bikin kaget saja koh."
"Mas Dika sedang fokus melihat apa sih?"
Mariam menjadi penasaran dengan apa yang barusan di lihat, Dika. Tapi begitu Mariam melihat ke arah pandangan Dika barusan, tidak ada apa-apa.
"Ayok, sayang. Tidak ada apa-apa kok, cuma tadi ada yang sedang berantem dan heboh gitu jadi aku kepansung untuk melihatnya."
Mendengar akan hal itu, Mariam hanya bisa menghela napas panjang. Dika segera merangkul kekasihnya dan melangkah menuju wahana yang barusan urung naik.
Kini mereka benar-benar naik wahana tersebut. Rasa bahagia dan senang sangat terpancar di wajah, Mariam. Tapi tidak dengan, Dika. Dia masih saja penasaran dengan, Nayla alias Nia.
"Bagaimana caranya aku menyelidiki tentang wanita yang bersama pria tersebut? hanya ingin memastikan saja jika dia bukan, Nia."
"Mas Dika, kenapa kamu melamun? apa kamu tak suka dengan wahana ini? kalau begitu kita turun saja dan mencari permainan yang lain."
__ADS_1
Tak usah, sayang. Biar ini saja."