
Selama berada di Bali, di setiap tempat wisata yang Dika dan Mariam jelajahi pasti ada sosok yang sangat mirip dengan almarhum Aris.
"Kenapa pria itu sepertinya selalu mengikuti diriku kemanapun aku pergi? apakah dia mengenalku, ataukah dia kenal dengan almarhum Aris?"
"Aku merasa risih juga di ikuti olehnya terus seperti ini. Apakah sebaiknya aku katakan saja pada, Mas Dika ya? tapi aku khawatir akan salah paham."
Sedari tadi, Mariam terus saja gelisah dan tak tenang hatinya. Dia merasa di teror oleh sosok yang mirip dengan, Almarhum Aris.
"Sampai kemanapun akan aku kejar dirimu, Mariam! kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"
"Sekarang kamu tak tenang kan? aku sengaja membuatmu tak tenang, dengan begini kamu akan selalu teringat pada, Almarhum Aris."
Waktu berjalan begitu cepatnya, kini Dika dan Mariam mengakhiri honeymoon mereka. Kembali lagi Mariam bertemu dengan pria tersebut di pesawat dan kembali lagi pula dia duduk di seberang tempat duduk Mariam.
"Kenapa pria ini seperti sedang mengikuti aku ya? apa sebenarnya mau dia?"
Sejenak Mariam mengamati pria yang duduk di seberang kursinya.
Lagi-lagi Mariam dan pria tersebut saling beradu pandang. Kini Mariam langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sayang, akhirnya kita telah sampai di bandara."
Mariam yang tertidur perlahan membuka matanya, dia mendapati pesawat setelah berhenti dan dia melirik ke arah tempat duduk bprua tersebut.
"Hem, ternyata dia masih ada di kursinya."
Para penumpang segera turun dari pesawat satu persatu termasuk Mariam dan Dika serta sosok pria yang mirip almarhum Aris.
Dika dan Mariam telah di jemput oleh orang tua Dika.
"Bagaimana honeymoon kalian berdua? tak ada masalah kan?"
"Tak ada tante-om."
"Eh kok manggilnya masih om dan tante, seharusnya papah dan mamah."
"Hhee maaf pah-mah."
Sebelum Mariam masuk ke dalam mobil, dia sempat melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan pria tersebut.
__ADS_1
Dan kembali lagi matanya beradu pandang dengan pria tersebut.
"Ya Allah, kenapa pria tersebut seperti hantu saja. Dimana-mana ada dia, pertanda apakah ini?"
"Kenapa hatiku jadi gelisah dan merasa kehadiran pria tersebut punya niat tak baik bagiku?"
Mariam terus saja melamun bahkan pada saat di dalam mobil pun dia melamun. Hingga membuat orang tua Dika menjadi heran.
"Dika, apa kalian sedang ada masalah?"
"Masalah? nggak kok, pah? kok papah bertanya seperti itu?"
"Kamu lihat saja istrimu terus saja melamun seperti ada yang sedang mengganggu pikirannya."
Dika yang duduk di jok depan bersama papahnya, menoleh ke belakang dimana Mariam duduk bersama mamahnya.
"Mungkin sedang lelah saja, pah. Nanti kalau sudah sampai rumah akan aku tanyakan lagi."
Tak berapa lama, sampailah di rumah. Ketika sedang bersantai di balkon kamar, Dika menyempatkan diri bertanya pada istrinya.
"Sayang, apa ada sesuatu yang merisaukan pikiranmu? jika ada ceritakan padaku, jangan kamu simpan sendiri. Supaya aku bisa kasih solusi dan pikiranmu juga tenang."
"Sayang, yang terpenting doa. Pasti saat ini orang tuamu juga merasa bahagia melihatmu telah menikah. Jika kamu terlihat sedih, mendiang orang tuamu juga akan turut sedih di alam sana."
"Tersenyumlah, sayang. Masa sudah menikah malah cemberut, seharusnya kan happy."
Setelah mendengar pernyataan dari Dika, Mariam mencoba tersenyum walaupun hatinya masih memikirkan sosok pria yang mirip dengan, Almarhum Aris.
Selagi pandangan mata menyapu ke arah jalan raya yang terlihat dari balkon. Kembali lagi, Mariam tersentak kaget melihat sosok pria yang mirip Almarhum Aris.
"Astaghfirullah alazdim, pria tersebut memang benar-benar seperti hantu. Dimana ada aku di situ ada dia, apa memang ini serba kebetulan ataukah memang pria itu sengaja mengikutiku? tapi kita kan tak saling kenal sama sekali, bagaimana dia tahu keberadaan aku. Dari honeymoon di Bali hingga pulang. Dia selalu saja ada."
"Kenapa aku merasa takut seperti ini ya Allah, pandangan matanya seperti pandangan mata tak suka padaku."
Mariam langsung beralih pergi dari balkon tersebut dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia mencoba menghilangkan wajah pria tersebut yang tiba-tiba ada di depannya.
"Sayang, sepertinya kamu kurang sehat ya? apa sebaiknya kita ke dokter saja?"
"Aku baik-baik saja, mas. Tak perlu kamu khawatirkan kesehatanku."
__ADS_1
"Hem, ya sudah kalau begitu. Jangan banyak melamun tak baik, sayang. Oh iya, besok kita tengok rumah kita yang baru ya? karena kita akan tinggal sendiri tidak tinggal di sini."
"Iya, mas."
*******
Esok hari telah datang, Dika mengajak Mariam ke rumah baru mereka yang telah di persiapkqn sejak lama.
"Sebenarnya rumah ini aku hadiahkan untuk Nia, jika kita menikah. Tetapi ternyata kenyataan lain. Saat ini Nia entah ada di mana. Mungkin memang sudah jalan hidupku untuk berjodoh dengan, Mariam."
Dika melupakan satu hal yakni beberapa foto-foto dirinya bersama Nia masih terpajang di rumah tersebut. Dia lupa jika yanga akan masuk ke rumah tersebut adalah, Mariam.
Dan pada saat Mariam masuk ke dalam rumah, dia terpana dengan satu foto yang terpampang denga. figura besar.
Bahkan banyak foto-foto kecil di mana-mana.
"Mas, kamu ingin memamerkan kecantikan Nia padaku? sampai saat ini kamu masih cinta padanya, ya?"
"Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu? jika aku masih ada rasa pada Nia untuk apa aku menikah denganmu?"
"Lantas untuk apa kamu memajang foto kebersamaanmu dengan Nia? bahkan tak cuma satu foto. Lihatlah di sekelilingnya?"
Dika langsung gelagapan, dia sama sekali tak mengingat jika pernah memasang semua foto tersebut. Dia tak mengecek ruangan terlebih dulu, tetapi langsung saja mengajak Mariam untuk tinggal di dalam rumah tersebut.
"Mariam, aku minta maaf ya. Aku benar-benar lupa untuk menyingkirkan semua foto itu."
"Jujur saja, dulu memang ini rencananya rumah ini untuk kejutan buat Nia jika kita telah menikah. Tetapi kenyataannya berkehendak lain."
"Dan aku lupa menurunkan semua foto-foto tersebut. Aku minta maaf, Mariam."
Dika lantas memerintah pada asisten rumah tangga untuk menurunkan semua foto tersebut dan menggantinya dengan foto pernikahan mereka.
Permintaan maaf Dika sama sekali tak di Jawab oleh Mariam. Dia hanya diam saja tanpa kata.
"Sayang,aku mohon maafkan aku. Aku sama sekali tak bermaksud menyakiti hatimu dengan foto-foto kenanganku bersama dengan Nia."
"Sudahlah, mas. Tak perlu di bahas lagi, aku tidak apa-apa kok."
Mariam mencoba tersenyum walaupun sebenarnya hatinya merasa kecewa pada, Dika.
__ADS_1
*******