
Pencarian terus saja di lakukan oleh, Dika dan Nando. Akan tetapi belum juga mendapatkan hasil yang di inginkan. Rasa lelah dan putus asa kerap kali melanda Dika dan Nando.
"Apakah aku harus hentikan saja pencarian yang tak ada hasilnya ini? tapi aku harus katakan apa pada, Tante Nani?"
"Pasti dia mengira aku ini pria yang tak bertanggung jawab karena berhenti begitu saja dalam mencari, Nia."
"Sebenarnya siapa orang yang waktu itu membekap mulutku dengan bius sehingga aku tak sadarkan diri?"
"Apa mungkin pria itu adalah Nando? aarhhh kenapa pula aku berburuk sangka padanya?"
"Tapi itu tidaklah mungkin. Aaaghh kemana pula orang itu membawa pergi, Nia?"
Semakin hari Dika semakin merasa frustasi memikirkan Nia yang tak kunjung ada kabarnya.
"Dika, kamu kenapa seperti marah dan kesal?"
"Bagaimana aku nggak kesal, pah! sudah seminggu lebih tapi aku tak juga menemukan kabar keberadaan, Nia."
"Loh, jadi sampai detik ini kamu masih saja mencari, Nia?"
"Iyalah, pah. Ini semua juga karena kesalahanku, jika tidak pasti saat ini kondisi Nia baik-baik saja."
"Dika, sebaiknya kamu hentikan pencarian terhadap Nia. Karena percuma saja, jika memang Nia masih hidup pasti sudah di temukan sejak beberapa hari yang lalu."
"Pah, kok papah ngomong begitu? nggak seharusnya berkata hal buruk tentang, Nia."
Dika mendengus kesal dan berlalu pergi meninggalkan Andre begitu saja. Sementara Andre hanya bisa menghela napas panjang.
Begitu pula yang di alami oleh Nando.
"Sepertinya sudah tak ada harapan lagi dengan pencarian ku ini terhadap, Nia."
Nando memutuskan untuk menghentikan pencariannya tersebut.
Akan tetapi tanpa Dika dan Nando tahu, ternyata saat ini Nia masih selamat. Pada saat dia jatuh terjurang, kebetulan ada seorang pemuda yang menolongnya.
"Mba, apa ingatan mba sudah pulih?" tanya si pemuda yang menolong Nia.
"Aku sama sekali tak ingat siapa diriku, hanya ingat aku terjatuh ke jurang karena di dorong dua orang tak aku kenal."
"Tapi aku juga tak tahu, apa alasan dua orang tersebut mendorong aku ke jurang."
__ADS_1
"Mas, terima kasih atas pertolongannya."
"Ya, sama-sama. Untuk sementara waktu aku memberimu nama, Nayla. Supaya aku gampang memanggilmu, juga demi keamananmu."
"Kalau bisa, mba mulai sekarang merubah gaya mba. Dari tatanan rambut dan cara berpakaian. Karena mungkin di luar sana masih ada orang yang berniat jahat pada, mba. Jika mereka tahu mba masih hidup."
"Aku akan membantu, mba. Karena kebetulan aku kan terbiasa memangkas rambut seseorang. Dan aku juga beberapa toko pakaian hasil rancanganku sendiri."
"Baiklah, mas. Kalau boleh tahu siapa nama, mas?"
"Panggil saja, Rocky. Kemungkinan umur kita sama, jadi tak perlu pakai embel-embel mas."
"Baiklah, Rocky."
Entah kenapa Nia menurut saja dengan saran yang di berikan oleh Rocky. Dia sama sekali tak ingat dirinya sendiri dan asal usulnya.
Saat itu juga, Rocky merubah gaya rambut Nia. Awalnya rambutnya panjang kini di potong menjadi sebahu.
Rocky memberikan baju-baju yang menyerupai gadis tomboy.
"Rocky, memangnya pada saat kamu menemukanku tidak menemukan identitasku? misalkan KTP atau apa?"
"Sebenarnya aku menemukan identitasmu, Nia. Tetapi aku sengaja menyembunyikannya, supaya kamu tetap berada bersamaku selamanya."
"Rocky, kenapa kamu diam saja?"
"Maaf, Nayla. Aku sama sekali tak menemukan identitasmu, makanya aku sempat bertanya namamu dan alamatmu."
Rocky seorang desainer terkenal dan dia memiliki usaha pangkas rambut di beberapa tempat. Usahanya terbilang sukses, akan tetapi dia belum juga memiliki seorang pendamping hidup.
Rocky seorang pemuda yang tertutup untuk masalah hati. Tapi tidak untuk hal yang lain. Rocky terkenal dermawan di kotanya.
Di usianya yang menginjak kepala tiga, dia masih berstatus lajang. Dia kriteria pemilih, tak sembarangan.
Pagi menjelang, Rocky telah mempersiapkan semuanya. Dia merubah penampilan Nia menjadi Nayla. Bahkan kartu identitas baru, dia buatkan untuknya.
"Nayla, ini kartu identitasmu. Supaya kamu aman, kemungkinan orang yang mencelakaimu sedang mencarimu."
"Terimakasih, Rocky. Entah apa jadinya jika kamu tak menolongku, mungkin pada saat itu aku sudah di makan binantang buas."
"Sudahlah, Nayla. Mulai sekarang kamu hidup baru dengan semua serba baru. Dari penampilanmu dan namamu."
__ADS_1
"Iya, Rocky. Tapi aku sedang berpikir, apakah di tempat lain aku pun saudara? misalkan orang tua atau siapa gitu?"
"Nah, aku akan mencari tahu tentang jati dirimu yang asli. Jika memang kamu masih punya orang tua, aku akan membawanya bertemu denganmu. Aku janji, Nayla."
"Rocky, jika aku terus di rumah pasti akan bosan. Apa aku boleh kerja di toko bajumu?"
"Boleh sekali, Nayla. Jika kamu tak keberatan, dengan senang hati akan aku ajak kamu menjadi partner kerjaku di beberapa toko bajuku."
"Alhamdulillah, aku senang Rocky."
Saat itu juga Rocky mengajak Nayla ke toko bajunya yang tak jauh dari rumahnya. Rocky sengaja menempatkan Nayla di tokonya yang tak jauh dari rumahnya, supaya indentitas aslinya tidak di ketahui.
"Nia, aku janji akan membawa orang tuamu kemari. Jika memang kamu masih memiliki orang tua. Tetapi jika kamu memiliki kekasih, aku tidak akan mempertemukannya denganmu."
"Entah kenapa, sejak pertama kali aku bertemu dengannmu hati ini bergetar. Dan sangat menginginkan dirimu untuk menjadi pendamping hidupku."
Rocky terus saja menggerutu di dalam hati, sembari melihat gerak gerik Nayla yang sedang asik di toko memainkan pinsil dan buku.
Perlahan, Rocky menghampiri Nayla yang sedang asik menggoreskan pinsil di sebuah buku kosong.
"Subhanallah, Nayla. Gambar pola pakaianmu bagus sekali. Sepertinya kamu ada bakat juga untuk menjadi seorang desainer."
Rocky sejenak mengambil buku bergambarkan satu pola pakaian.
"Entahlah, Rocky. Aku seperti tak asing dengan toko pakaian. Sepertinya sebelumnya aku pernah di toko pakaian atau setara butik."
"Dan aku juga secara instan ingin sekali menyangka ide gambarku ke dalam buku ini."
"Alhasil inilah jadinya gambar gaun yang sedari tadi ada di otakku. "
Nayla tersenyum renyah, menandakan dia sangat puas dengan hasil desain gaun yang dia gambar.
"Begini saja, Nayla. Jika kamu mau, tuangkan saja semua ide yang ada ke dalam gambar. Nanti aku yang akan merancangnya menjadi sebuah gaun yang indah sesuai dengan desain gambar mu itu."
"Supaya kamu tak perku cape bekerja di toko aku ini. Cukup duduk manis dengan buku dan pinsil khusus untuk menggambar desain baju yang kamu sukai."
Mendengar akan hal itu, Nayla sangat senang dan bahkan sangat bersemangat.
"Wah, aku akan sangat senang sekali. Terima kasih, Rocky. Aku akan membuat banyak desain baju yang indah-indah untuk di jual di toko kamu ini."
"Heee, percaya diri banget aku ya?"
__ADS_1
Nayla tersipu malu meuna pipinya bak kepiting rebus.
"Lakukanlah apa yang kamu suka, Nayla. Tuangkan segala ide brilianmu. Aku tidak akan melarangnya kok."