
Tak berapa lama, Mariam telah sampai di rumah Nia. Nia begitu sumringah menyambut kedatangan Mariam.
"Hem, bau mie ayam sudah tercium dan membuatku lapar sekali."
Mariam menyunggingkan senyum melihat reaksi Nia yang menghirup aroma mie ayam.
"Duduklah, Mariam. Aku mau ambil mangkuk dulu ya?"
Nia masuk kembali menuju ke arah dapur untuk mengambil beberapa mangkok dan juga minuman dingin dan cemilan untuk Mariam.
Tak lupa Nia memberikan satu porsi mie ayam untuk mamahnya. Mariam juga ikut membeli untuk ikut makan bersama Nia.
"Mariam, ini uang untuk bayar mie ayamnya."
Nia memberikan selembar uang ratusan ribu pada Mariam.
Tetapi Mariam tak mau menerimanya.
"Hestah, kaya sama siapa pake di ganti segala. Simpan saja uangmu itu untuk jajan yang lain."
"Baiklah, terima kasih ya."
"Aku ikut beli juga nech, biasanya kan kalau orang sedang ngidam makannya lahap dan menggugah selera. Makanya aku beli juga."
"Hhee bisa saja kamu."
Nia makan dua porsi mie ayam dengan sangat lahapnya. Tanpa sepengetahuan dia, Mariam merekamnya dan mengabadikan dalam ponselnya.
"Drt drt drt"
Satu notifikasi chat pesan masuk dalam nomor ponsel Dika.
Dika lekas membukadan ternyata sebuah video Nia sedang makan mie ayam dengan lahapnya.
[Mas Dika, saranmi tepat sekali. Tadi Nia minta mie ayam dua porsi, lihatlah makannya begitu lahap. Aku jadi semakin iba padanya. Seharusnya di saat hamil, suaminya yang seharusnya selalu ada di sampingnya untuk selalu siaga.]
Dika membaca pula chat pesan dari istrinya tersebut.
"Ya Allah, kasihan sekali Nia. Aku kok jadi semakin ingin melindungi dirinya?"
Tanpa terasa mata Dika berkaca-kaca.
Dia tak tega melihat Nia yang saat ini terlihat sangat menderita tanpa ada suami di sisinya.
Hal serupa juga di rasakan oleh Riky, dia merasa gundah gulana. Dirinya semakin frustasi dengan keadaan ini.
"Aaahhhhh, aku ini bukan orang lain! aku ini suamimu, tetapi kenapa kamu seperti ini!"
Teriak Riky di dalam kamarnya, hal ini mengundang penasaran Rudi yang sempat mendengar teriakan tersebut.
Dia pun melangkah ke kamar, Riky.
__ADS_1
"Bro, ada apa denganmu? kenapa berteriak-teriak? katakan padaku jika ada suatu masalah serius."
"Aku sudah ikuti semua saranmi, tetapi malah semakin tak karuan!"
"Semakin tak karuan bagaimana maksudmu?" Rudi mengernyitkan alisnya.
Riky menceritakan semua yang barusan dia alami di rumah Nia, dimana dia mendapatkan sebuah penolakan.
"Bro, bagaimana dulu saat pertama kamu mengejar cintanya? mudah atau susah?"
"Kenapa kamu tanyakan akan hal itu?"
"Jawab saja tanyaku?"
"Ya susahlah, bahkan aku juga sampai menyembunyikan identitas asli dia pada saat dia hilang ingatan."
"Nah, anggap saja saat ini kamu juga sedang mengulang perjuanganmu itu. Yakinlah kamu pasti mampu, dia kan sedang hamil jadi sifatnya agak sensitif. Jadi kamu harus benar-benar lebih bersabar lagi."
"Kamu minta bantuan mamahnya juga kan bisa supaya memberikan pengertian padanya jika niatmu baik. Sehingga tak terus menolak jika kamu datang."
Sejenak Riky terdiam seolah sedang memikirkan apa yang barusan di katakan oleh, Rudi.
"Hem, baiklah aku akan mencobanya lagi. Tapi jika gagal, aku akan membongkar jari diriku di hadapan Nia. Supaya dia tak terus menolak kedatanganku."
"Terserah kamu saja jika begitu."
********
Pagi menjelang, seperti biasa Riky datang lagi. Kali ini dia membawa buah-buahan untuk Nia.
"Mah, kenakan si Riky susah sekali di nasehati? sudah aku katakan jaga jarak tetapi dia malah masih saja datang."
Nia menatap tak suka pada saat melihat Riky datang.
"Nia, kamu tak boleh seperti itu. Dia melakukan itu mungkin karena rasa tanggung jawab terhadap janji dia pada almarhum Rocky untuk selalu menjaga dirimu dan Ronald."
Nani mencoba menaehati Nia.
"Tante, Nia. Maaf ya pagi-pagi aku datang kemari, hanya ingin mengantarkan ini."
Riky menyerahkan keranjang berisi buah-buahan pada, Nani.
Setelah itu dia berbalik arah dan berpamitan pulang.
"Tante, Nia. Saya permisi pulang. Semoga kamu suka ya Nia."
Nia hanya diam saja tanpa ada sepatah katapun, justru Nani yang merasa tak enak hati hingga menahan kepergian, Riky.
"Tunggu, Nak Riky."
Riky pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah, Nani.
__ADS_1
"Ada apa ya, Tante?"
"Nggak duduk dulu? kok buru-buru?'
"Mamah!"
Nia melirik sinis pada Nani.
"Nggak, Tante. Lain kali saja karena aku harus lekas ke kantor."
Riky melirik ke arah Nia, dan setelah itu berbalik arah lagi melanjutkan melangkah keluar pagar rumah Nia.
"Nia, sikapmu ini sangat menyakiti hatiku. Tapi ini bukan sepenuhnya salahmu, ini salahku juga. Kenapa pula aku membuat sandiwara seperti ini."
Gerutu Riky di dalam hatinya.
Riky melajukan mobilnya arah ke kantor. Dia ingin ke kantor lebih awal karena ada pekerjaan yang kemarin tertunda harus selesai saat ini juga.
"Benar kan dugaaaku, Riky setiap hari kerumah Nia. Baik pagi maupun sore, pasti akan turun ranjang. Bagaimana caraku mencegah agar semua ini tak terjadi?"
Diam-diam Lina sedang mengamati di balik pohon besar.
Seperginya Riky, Nia langsung mengambil keranjang yang berisi buah dari tangan mamahnya. Nia pun mengambil satu buah apel untuk di makan.
"Nia, cuci dulu buahnya baru di makan."
"Iya, mah."
Nia masuk ke dalam rumah tanpa berkata apapun lagi. Sementara Nani hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.
Tiba-tiba ponsel Nani bergetar.
"Drt drt drt"
"Siapa yang pagi kirim chat pesan ya?"
Nani meraih ponselnya yang ada di saku celananya.
[Tante, ini nomor ponsel Riky. Maaf mengganggu. Tante, jika Nia butuh apa-apa atau sedang ingin apa-apa katakan saja padaku. Biar aku yang akan mencarikannya. Biasa orang hamil kan banyak maunya atau ngidam. Tolong Tante jangan ngomong pada Nia jika aku mengirim pesan pada, Tante.]
"Riky begitu tulus pada, Nia. Tetapi Nia masih saja bersikap tak baik padanya."
[Baiklah, Nak Riky. Tante minta maaf atas sikap Nia terhadapmu ya? sebelum nya Tante ucapkan banyak terima kasih atas kepedulian dan perhatianmu pada, Nia.]
Balasan chat pesan Nani pada Riky.
Setelah mendapat balasan chat pesan dari Nani, hati Riky sedikit lega.
"Aku akan sabar berjuang dari awal lagi untuk mendapatkan hatimu kembali, Nia. Positif tinking saja."
Tersungging senyum tipis di bibir Riky.
__ADS_1
Setelah puas membaca chat pesan dari Nani, dia melanjutkan melajukan mobilnya kembali ke arah kantor.
Ada sedikit keceriaan karena Nani akan membantu usahanya supaya dia bisa dekat dengan Nia.