CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Bertengkar


__ADS_3

Tak terasa waktu cepat berlalu, kini sudah satu tahun lamanya dari masa dimana Nia telah menetapkan jika Ina hanya satu tahun berada di rumah, Dika.


"Mas Dika, sudah satu tahun. Tapi aku belum juga hamil. Lantas apa Ina akan tetap di kembalikan?" Mariam mengiba pada Dika.


Dia berharap jika Dika tidak mengembalikan Ina pada Nia. Tetapi dia hanya bisa berharap, karena Dika tetap akan mengembalikan Ina.


"Kita harus tepati janji, Nia sudah berbaik hati pada kita dengan membiarkan Ina tinggal lebih lama di sini. Jika ibu yang lain pasti tidak akan melakukan apa yang Nia lakukan."


"Ya sudah mau bagaimana lagi, sebenarnya aku berat hati jika Ina di kembalikan hari ini juga. Apa nggak besok saja, mas?"


Selagi mereka asik ngobrol, Nia dan Riky sudah menunggu di teras halaman.


"Lihatlah mereka sudah datang, ayok lekas ke depan untuk bertemu mereka. Pasti Nia sudah kangen sekali dengan anaknya."


Dika mengajak Mariam menemui Nia dan Riky. Kebetulan saya ini Ina sedang tidur.


"Kalian sudah datang, maaf ya jadi lama menunggu."


"Susah nggak usah basa basi lagi, mana Ina kami kemari hanya untuk mengambilnya. Nia sudah tersiksa berpisah dengan anaknya begitu lama," tukas Riky ketus.


"Ya kami tahu diri ko, sebentar aku ambil Ina. Karena barusan dia sedang tidur." Dika berlalu pergi seraya menatap sinis pada Riky.


"Mas Riky, seharusnya jangan berkata seperti tadi. Kasihan mereka kan?' bisik Nia merasa tak enak pada Dika dan Mariam.


"Loh, kok kamu menyalahkan aku. Padahal aku membelamu loh, aku ini suamimu. Kenapa malah kamu membela mantan kekasihmu! mentang-mentang kalian pernah bersama makanya kamu membiarkan Ina di sini lama supaya kalian bisa sering bertemu!" Riky tak sadar dengan apa yang telah dia katakan karena dia begitu emosi.


"Apa maksud ucapan, Mas Riky? apa aku tak salah dengar? Nia coba kamu jelaskan?" Mariam merasa penasaran dengan apa yang barusan di katakan oleh Riky.


"Memangnya apa yang telah Riky katakan?" tiba-tiba Dika datang dengan menggendong Ina yang masih tertidur.


Riky mengambil paksa Ina dari gendongan Dika.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita pulang."


"Mariam, aku pulang ya. Aku min...


Belum juga Nia selesai berkata, Riky menarik paksa tangan Nia. Hingga Nia tak sampai selesai dalam berkata.


"Kenapa Riky terlihat marah sekali?" batin Dika.


"Mas Dika, coba jelaskan padaku. Apa memang benar jika Nia adalah mantan kekasihmu? apa dia yang dulu membuatmu menjadi di rawat di rumah sakit?" tanya Mariam menatap tajam ke arah Dika.


"Mas Dika, kenapa kamu diam saja? coba jawab tanyaku ini." Kembali lagi Mariam bertanya.


"Memangnya siapa yang mengatakan hal ini padamu?'


"Mas Riky, dia barusan mengatakan hal itu."


"Memang benar yang Riky katakan. Nia adalah mantan kekasih aku." Jawab Dika lirih.


Perkataan Mariam membuat Dika emosi.


"Jaga bicaramu ya, selama ini kami tak pernah bertemu di belakangmu. Kami tidak mengatakan hal ini karena kami tak ingin kamu salah paham pada kami. Lagi pula ini kan masa lalu, kenapa pula di permasalahkan?"


"Pantas saja, Nia mengizinkan Ina begitu lama di sini. Apa yang di katakan Mas Riky ada benarnya. Supaya Nia bisa sering bertemu denganmu ya mas. Dengan pura-pura menjenguk, Ina. Pantas saja setiap Mas Riky kemari, wajahnya masam dan murung. Itu karena menahan rasa cemburu. Jika aku jadi dia juga akan melakukan hal yang sama." Mariam mulai terbakar api cemburu.


"Kenapa kamu berubah seperti ini? dengan gampangnya menuduh macam-macam pada kami? setelah apa yang Nia lakukan untukmu?'


"Memangnya apa yang telah Nia lakukan untukku? justru aku yang telah berjasa merawat Ina. Kenapa aku merasakan kamu selama ini selalu saja membela Nia, apakah kamu masih ada rasa padanya ya, mas?"


Pertengkaran semakin panjang hanya karena satu ucapan dari Riky. Sementara Nia juga tak berkata apapun selama perjalanan pulang ke rumah. Dia merasa kecewa dengan sikap Riky.


"Sayang, kenapa kamu diam saja?"

__ADS_1


"Mas, seharusnya kamu tak usah berkata seperti tadi. Pasti saat ini mereka sedang bertengkar gara-gara perkataanmu. Bagaimana jika gara-gara ucapanmu itu mereka sampai berpisah? kenapa kamu tak bisa bersikap dewasa sih, mas?"


"Loh, kok kamu menyalahkan aku sih? selama ini aku selalu menahan rasa cemburuku jika aku di ajak ke rumah Dika itu juga demi kamu. Tapi maaf saja, aku perhatikan lama-lama kamu seperti nyaman jika sering ke rumah Dika."


"Mas, dia itu masa laluku. Setiap orang itu punya masa lalu, mas. Jika kamu tak suka dengan masa laluku seharusnya kamu tak usah menikah denganku!"


Nia dan Riky juga bertengkar, mereka terus saja berselisih paham. Tidak ada satu pun yang mau mengalah. Hingga pada akhirnya, Nia memutuskan untuk diam dari pada dia bertambah sakit hati.


Hingga sampai di rumah mereka tidak saling bertegur sapa. Keduanya sama-sama murung. Hingga ada Nani di teras halamanpun mereka juga tak menyapa. Hal ini membuat Nani mengerutkan dahinya heran menatap anak dan menantunya.


"Apakah mereka sedang bertengkar? terlihat sekali keduanya saling diam dan cemberut."


Nani masuk dan melangkah ke kamar anak dimana Nia membaringkan Ina ke ranjangnya.


"Nia, sebenarnya ada apa? kenapa kalian terlihat seperti kesal sekali?"


Niapun tak sungkan menceritakan apa yang telah terjadi pada saat di rumah Dika. Sejenak Nani menghela napas panjang.


"Nia, bersabarlah dalam menghadapi suamimu. Kunci rumah tangga langgeng ada pada dirimu. Berusahalah ikhlas menjalani kehidupan ini. Dia seperti itu karena begitu cintanya padamu, Nia. Wajarlah jika ada rasa cemburu. Apa kamu mau punya suami yang sama sekali tak perhatian padamu dan cuek? tentunya tidak kan?"


"Sudah jangan di perpanjang, alangkah baiknya kamu yang meminta maaf dulu padanya. Mengalah bukan berarti kalah, nak. Lakukan saja demi keutuhan rumah tangga kalian berdua."


Dengan sangat sabar, Nani menasehati Nia.


"Mah, yang anak mamah aku atau Maa Riky? kenapa mamah malah membelanya, bukan membela aku?"


"Nia, mamah tak membela siapa pun. Mamah hanya mengajarkan padamu supaya dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan dan bersikap."


Tanpa mereka sadari, Riky mendengar semuanya.


"Ya Allah, aku punya mamah mertua begitu bijaksana. Jika mamah yang lain pasti akan membenarkan sikap anaknya dan akan melabrak menantunya. Tapi tidak dengan, mamah Nani. Dia selalu saja memberi nasehat yang positif pada, Nia." Batin Riky.

__ADS_1


Dia pun lekas melangkah pergi dari balik pintu khawatir akan ketahuan oleh Nia dan Nani jika dia menguping. Riky lekas ke kamarnya.


__ADS_2