
Pagi-pagi, Riky sudah datang ke rumah Nia. Dia datang hanya ingin menjenguk, Nia dan anaknya.
"Maaf, aku pagi-pagi datang hanya ingin melihat kondisimu dan Ronald."
"Mas Riky, sebenarnya kamu tak perlu sering datang kemari karena tak enak jika di lihat para tetangga. Statusku janda, dan Mas Riky masih lajang. Nanti bisa jadi salah paham."
"Nia, aku tak peduli akan hal itu. Misalkan aku di minta menikahimu saat ini juga akan aku lakukan."
"Mas Riky, kok ngomong seperti itu?"
"Memangnya kenapa, Nia. Aku hanya ingin bertanggung jawab penuh atas dirimu dan Ronald. Karena bagaimanapun kalian ini adalah harta terindah milik almarhum Rocky, yakni saudara kembarku."
"Sudahlah, mas. Tak usah bahas itu lagi. Jika ingin bertemu dengan, Timali nanti aku bawa sini anaknya. Tapi aku harap, Mas Riky jangan terlalu lama berada di sini."
"Iya, Nia. Aku cuma beberapa menit saja kok."
Nia masuk ke dalam rumah, untuk mengambil Ronald yang kebetulan ada di kamarnya bersama, baby sitter."
Pada saat Ronald melihat Riky, dia langsung meminta ikut. Hal ini membuat heran, Nia.
"Padahal kan Mas Riky orang asing, tetapi kenapa Ronald langsung minta ikut? apa karena wajahnya yang mirip almarhum papahnya sehingga dia langsung seperti itu?"
"Biasa dia seperti itu hanya pada, Almarhum Mas Rocky jika dia pulang dari kantor atau pagi-pagi sehabis bangun tidur."
Ronald terlihat sangat senang berada di pelukan Riky. Hal ini membuat Riky sangat senang.
"Nak, kamu pasti tahu ya? kalau aku ini papahmu. Bantu papah ya, supaya bisa meyakinkan mamahmu untuk bisa bersama lagi dengan kalian," gumamnya di dalam hati.
Keduanya sangat akrab, beberapa kali Ronald bercanda bersama dengan Riky.
"Nia, apa kamu tak lihat betapa akrabnya anakmu dengan Riky?"
tiba-tiba Nani datang dan sudah berdiri di belakang Nia.
"Lantas kenapa jika mereka akrab, mah?"
"Apa kamu tak berpikir ulang untuk menikah dengan, Riky? lagi pula, almarhum Rocky pasti sangat setuju kalian turun ranjang."
"Mah, pernikahan itu bukan sebuah ajang permainan. Gampang sekali katakan menikah. Apa lagi aku sudah pernah gagal dan tak ingin gagal lagi, mah."
__ADS_1
"Hem, ya sudah terserah kamu. Mamah hanya ingin kamu tak sendiri seperti ini. Lagi pula kamu sedang hamil kan? pasti butuh sosok pendamping, tak selamanya sendiri itu nyaman atau enak."
Nani berlalu masuk kembali ke dalam rumah, dia tak ingin berkata lagi karena menurutnya percuma saja. Nia takkan mendengarkan apa katanya.
Hampir satu jam sudah, Riky berada di rumah Nia, tetapi dia belum bisa pulang karena Ronald nempel saja padanya. Setiap kali Riky berpamitan, Ronald pasti menangis.
Akhirnya Nia memaksa mengambil Ronald dari gendongan Riky walaupun anaknya menangis.
"Nia, biarkan saja Ronald denganku. Kasihan dia sampai menangis seperti itu."
"Mas Riky bisa pulang sekarang. Ini sudah satu jam loh. Katanya hanya beberapa menit saja di sini. Lagi pula apa nggak punya kerjaan hingga berlama-lama di sini?"
Nia masuk ke dalam rumah dengan membawa Ronald yang sedang menangis.
Dengan penuh rasa kecewa, Riky melangkah keluar pintu gerbang. Langkahnya sangat lesu dan seolah tak ingin pergi dari rumah itu.
"Ternyata tak segampang membalikkan telapak tangan. Aku pikir dengan menjelma menjadi orang lain, akan mudah juga masuk ke dalam rumah ini. Tetapi Nia tak gampang di luluhkan."
"Bagaimana caranya supaya aku bisa lekas menikah ulang dengan, Nia?"
Rasa putus asa mulai menyelimuti diri, Riky. Ingin menyerah saja dan membongkar jati dirinya di hadapan, Nia. Supaya dia lekas bisa masuk dalam kehidupan Nia dan Ronald.
"Riky, kenapa kamu ada di depan rumah Nayla?"
"Memangnya salah jika aku parkir di sini?'
"Riky, berapa hari ini kamu kemana saja? kenapa pula nomor ponsel kamu susah di hubungi?"
"Aku sibuk jadi nggak ada waktu untuk bermain-main. Sudah ya, masih banyak yang harus aku kerjakan."
Riky masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Lina.
"Riky, tunggu! aku belum selesai bicara."
Lina mencoba mengetuk kaca pintu mobil Riky.
Hingga Riky membuka kaca mobilnya.
"Ada apa lagi"
__ADS_1
"Riky, bagaimana dengan hubungan kita?"
'Hubungan yang mana? selama ini kita cuma berteman."
"Riky, masa kamu lupa dengan apa yang kamu katakan sendiri?'
"Aku sama sekali nggak lupa, aku ingat kok. Asal kamu tahu, aku nggak ingin menjalin kasih dengan wanita pembohong dan sok suci seperti dirimu!"
"Riky, aku nggak ngerti kenapa kamu mengatakan aku wanita pembohong? padahal aku sudah cerita semuanya dengan jujur."
"Asal kamu tahu ya? kamu kan yang telah menjebak Almarhum Rocky? sebelum dia meninggal, dia sudah cerita semuanya padaku! aku mendekati dirimu hanya untuk menyelediki kebenaran yang dia katakan sebelum meninggal!"
"Hah, jadi kamu ini ada hubungannya dengan, Almarhum Rocky?"
"Iya, aku saudara kembarnya. Aku sengaja datang ke kota ini untuk menemui dirimu. Rocky meninggal karena ulahmu! kamu yang terus saja memaksa untuk menikah dengannya!"
"Apa? jadi kamu tahu semua tentang hubungan aku dengan, almarhum Rocky?'
"Sudahlah, Lina. Aku tak ada waktu lagi untuk berdebat dengan wanita ular dan licik seperti dirimu. Karena masih ada hal yang lebih penting dari pada itu!"
Riky melajukan mobilnya tanpa memberi kesempatan untuk Lina berkata.
"Apa iya, Rocky punya kembaran? kenapa aku sama sekali tak tahu? aneh juga loh?"
Lina melangkah ke mobilnya seraya terus berpikir tentang Riky dan Rocky. Dia masih belum percaya jika Riky adalah saudara kembar Almarhum Rocky.
"Aku harus selidiki hal ini, pasti tadi Riky habis dari rumah, Nayla. Jika memang dia adalah saudara kembar, Almarhum Rocky. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Pasti dia ke rumah, Nayla karena maksud tertentu."
"Jangan-jangan dia ingin menjadi suami pengganti bagi almarhum Rocky."
Terus saja Lina menggerutu sembari mengemudikan mobilnya ke arah butiknya. Tetapi pikiran dia tak tenang karena terus tertuju pada, Riky.
"Aku harus mencari tahu dimana saat ini Riky tinggal. Dan pula dia kerja dimana? karena selama aku kenal dirinya, dia tak memberi tahu padaku tentang pribadinya secara detail."
Semakin tinggi rasa penasaran yang di miliki oleh Lina. Hingga dia benar-benar akan menyelidiki lebih lanjut tentang jati diri, Riky yang sebenarnya.
"Aku akan tetap mengejar cinta Riky apapun halangan dan rintangannya. Takkan kubiarkan wanita lain merebut dia dariku karena dia hanya milikku seorang."
"Seperti halnya dulu, almarhum Rocky juga hanya milikku seorang. Aku harus segera bisa menikah dengan Riky!"
__ADS_1