CLBK Cinta Lama Belum Kelar

CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Pernikahan Dika & Mariam


__ADS_3

Nia telah memutuskan untuk tidak memberi tahu pada, Rocky jika ingatannya perlahan telah pulih.


"Kepala ku masih terasa sakit, jika aku pulang pasti akan menjadi pertanyaan bagi, mamah."


"Tapi aku ingin sejenak memejamkan mataku dulu. Hem, sebaiknya aku tidur saja sebentar di ruang ini. Mungkin saja bisa menghilangkan sakit kepalaku."


Sebelum beristirahat, Nia berpesan pada salah satu karyawatinya jika dirinya akan istirahat sejenak di ruang kerjanya.


"Hallo, Tia. Tolong kamu handle sebentar butik ini. Kepalaku sakit dan aku akan tidur sejenak. Tolong bilang pada yang lain ya, supaya jangan ganggu aku barang sejenak."


"Baiklah, Bu."


"Jika nanti aku telah bangun, pasti aku akan hubungi kamu lagi."


Setelah sejenak berpesan pada salah satu karyawatinya. Nia melangkah ke kamar yang ada di ruang kerjanya. Dia pun lekas membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Namun Nia tak kunjung bisa tidur, dia malah terus terbayang wajah Nando. Bahkan beberapa kenangan masa lalu mulai beterbangan di otaknya.


"Astaghfirullah alazdim, kenapa aku tak bisa tidur malah teringat masa laluku? ya Allah, kenapa seperti ini?"


Nia akhirnya mengurungkan niatnya untuk tidur, dia pun beranjak bangkit dan dia putuskan untuk pulang saja ke rumah.


"Aku tak tahu harus bagaimana menghilangkan masa lalu yang saat ini sedang bermain-main di pikiranku."


"Sebaiknya aku minta saran, mamah saja. Aku nggak mau terbayang terus oleh masa lalu."


Tak berapa lama sampai juga Nia di rumah.


"Nia, kok kamu sudah pulang?"


"Ya, mah. kepalaku rada pusing, ada yang ingin aku bicarakan dengan mamah. Ronald mana, mah?"


"Sepertinya kok serius sekali? Ronald sedang tidur."


"Kita bicara di sini saja dech, mah."


Nia duduk di samping mamahnya. Lantas dia bercerita apa yang saat ini di pikirannya.


"Jadi secara tidak langsung kamu telah bertemu dengan mantan suamimu dan kamu saat itu juga ingat dirinya?"


"Iya, mah. Tapi aku sama sekali tak ingat bagaimana sifatnya pada saat dulu bersama diriku."

__ADS_1


"Oh seperti itu, intinya dulu suamimu itu posesif sehingga kamu akhirnya menggugat cerai dirinya."


Nia diam saja setelah mendengar apa yang di katakan oleh mamahnya. Dia bingung mau bertanya apa lagi, karena hanya mantan suaminya yang sempat dia ingat tapi nggak keseluruhan.


"Nia, jika masa lalumu mulai nampak di pelupuk mata. Biarlah itu terjadi tetapi lantas jangan kamu paksaan untuk mengingat yang belum terlintas di pikiranmu, itu yang bisa membuatmu sakit kepala."


"Iya, mah. Aku tahu kok, hanya saja aku ingin tahu seperti apa tabiat dan perilaku mantan suamiku kok sampai aku berpisah dengannya."


"Itu sama saja, Nia. Lagi pula kalau menurut mamah, yang terpenting itu masa yang sekarang yang sedang kamu jalani dengan suami dan anakmu. Dan ingat juga kamu sedang mengandung lagi kan? harus benar-benar bisa jaga kesehatan."


"Iya-iya, mamah."


Nia beranjak masuk kedalam untuk istirahat di dalam kamarnya. Kadang dia bingung dengan dirinya sendiri. Di saat dia sedang ingin ingat masa lalunya, semua tak juga terlihat. Tetapi di saat dia tak memikirkannya semua melintas begitu saja.


"Apa yang di katakan mamah memang ada benarnya, skunharys lebih memikirkan masa sekarang Dae pada masa lalu. Karena berjalannya masa depan itu berdasarkan masa yang sekarang."


Perlahan mata Nia mulai terpejam, dia pun bisa melukapan semuanya. Sudah tak terlintas lagi bayang-bayang masa lalu di otaknya.


************


Waktu berjalan cepat sekali, kini kehamilan Nia yang kedua sudah memasuki umur empat bulan. Di usianya yang hamil empat bulan. Saat ini Dika sedang melangsungkan pernikahannya bersama Mariam.


Dia sudah putuskan untuk menatap ke depan dan melupakan masa lalunya. Hidup harus terus berlanjut dan tidak terhenti di tengah jalan hanya karena memikirkan masa lalunya.


"Justru aku yang berterima kasih padamu, sudah mau menerima diriku ini yang banyak sekali kekurangannya."


"Kita sama-sama punya kekurangan, mas. Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Jadikan diri kita ini untuk bisa melengkapi vkekurangab kita masing-masing.'


"Iya, sayang."


"Sebenarnya, aku masih penasaran dimana saat ini Nia berada. Entah Sampai kapan rasa penasaran ini akan selalu ada."


"Semoga saat ini, Nia baik-baik saja. Walaupun aku tak tahu saat ini Nia entah ada dimana."


Di dalam hati Dika terus saja menggerutu. Dia sampai detik ini belum sepenuhnya bisa melupakan Nia. Bahkan dirinya masih di liputi oleh rasa bersalah dengan hilangnya Nia.


Akan tetapi dia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena dia sudah berusaha tetapi tak ada hasil juga.


Pesta pernikahan yang di selenggarakan di sebuah gedung mewah sangat semarak dan ramai. Banyak sekali para tamu undangan yang datang, entah itu dari kerabat, sahabat, maupun rejan kerja.


"Alhamdulillah, akhirnya Dika menikah juga. Aku jadi tenang kalau begini. Tetapi aku penasaran juga dengan kondisi, Nia."

__ADS_1


"Apakah dia saat ini sudah meninggal atau masih hidup? karena aku tak tahu pasti dengan kabarnya."


"Kini berita pencarian Nia sudah tak terdengar lagi. Tak ada berita di temukannya mayat Nia."


"Mungkin selamanya aku akan di liputi oleh rasa bersalah jika tidak ada kabar kebenaran tentang Nia."


Demikian gerutuan Ambar sedari tadi sedang memikirkan Nia. Karena dialah yang telah membayar orang untuk melakukan tindak kejahatan tersebut.


Selagi asik melamunkan hal tersebut, ponselnya berdering.


"Hallo, bos. Saya minta duit sekarang juga lima juta."


"Enak saja, tugasmu sudah selesai dan aku sudah membayar mahal dirimu waktu itu!"


"Tapi uangnya sudah habis, bos."


"Emang aku pikirin duitmu mau habis atau masih ada? lagi pula aku bukan bank yang seenaknya kamu mintai uang!"


"Baiklah, bos. Kalau bos nggak mau memberikan duitnya sekarang juga. Aku bongkar semua kejahatan bos di depan banyak orang. Bukankah saat ini sedang ada pesta pernikahan."


"Baiklah, aku akan transfer ke nomor rekeningmu sekarang. Tapi jangan bongkar hal ini.".


"Selama bos menepati janji aku akan simpan rahasia ini."


Saat itu juga, Ambar mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening anak buahnya sesuai dengan yang di inginkan.


"Sialan! aku pikir dia sudah pergi dari kota ini, malah mencoba memeras aku!"


"Siapa yang memerasmu, mah?"


"Deg" Ambar langsung terhenyak kaget.


"Papah, datang kok nggak bilang. Biliny kaget saja dech."


"Mamah belum jawab pertanyaan aku barusan. Siapa yang telah memeras, mamah?"


"Nggak ada kok, pah. Hanya terbawa perasaan tadi sempat lihat sinetron."


"Hem, aku pikir mamah beneran di peras orang. Kebiasaan nonton sinetron hingga terbawa perasaan."


Andre berlalu pergi dari hadapan istrinya seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sedangkan Ambar kini merasa bisa bernapas lega.


__ADS_2